PNB_Back_Up

GRESB Regional Insights 2025 Dorong Transformasi Keberlanjutan Sektor Real Estate Indonesia

GRESB

Propertynbank : GRESB organisasi independen yang berfokus pada pemberdayaan sektor keuangan guna memajukan keberlanjutan lingkungan, operasional, dan keuangan di aset-aset riil yang berpengaruh terhadap iklim, bekerja sama dengan Asia Green Real Estate, menggelar forum penting bersama para pemimpin dari sektor perbankan, real estate, dan investasi di Indonesia, Selasa (04/11/2025). Sektor properti Indonesia kini memasuki fase transformasi penting menuju arah pembangunan yang lebih hijau dan berkelanjutan. Dorongan untuk menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) semakin kuat. Seiring meningkatnya kesadaran pelaku industri, bahwa keberlanjutan bukan hanya tanggung jawab sosial, tetapi menjadi peluang strategis dalam menciptakan nilai ekonomi jangka panjang. Mengusung tema “Financial Opportunities for a Greener Future: Sustainability & Profitability for Indonesian Real Estate.” Acara ini menjadi wadah penting untuk membahas strategi investasi berkelanjutan serta peluang keuangan hijau yang kian berkembang di pasar properti nasional. Menurut Arista Dharsono Heinz, Partner di Asia Green Real Estate, keberlanjutan kini menjadi faktor strategis dalam menentukan arah investasi dan pengembangan real estate di Indonesia. “Sektor real estate Indonesia sedang mengalami transformasi besar. Keberlanjutan bukan lagi pertimbangan opsional, melainkan bagian inti dalam pengambilan keputusan investasi. Kami percaya menyelaraskan profitabilitas dengan dampak lingkungan adalah langkah penting dalam fase pertumbuhan industri berikutnya,” ujar Arista. Ia menambahkan, melalui layanan konsultasi yang ditawarkan, Asia Green Real Estate berkomitmen mendukung pengembang dan pemilik properti dalam merancang strategi keberlanjutan yang tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga efisiensi operasional. Sebagai bagian dari rangkaian global GRESB Regional Insights 2025, sesi di Jakarta menghadirkan diskusi mendalam seputar tren dan kebijakan yang tengah membentuk pasar aset riil. Topik yang dibahas mencakup strategi ESG inovatif, perkembangan pembiayaan hijau, peran GRESB dan EDGE dalam meningkatkan standar ESG, kebijakan bangunan hijau di Indonesia yang terus berkembang, serta pendekatan praktis untuk mengukur dan memperkuat kinerja keberlanjutan. Para pembicara juga membagikan studi kasus dari portofolio dengan performa keberlanjutan unggul yang telah terbukti meningkatkan nilai investasi. Trey Archer, Business Development Director Asia GRESB, menegaskan bahwa forum seperti ini penting untuk memperkuat kolaborasi global dan pemahaman pasar lokal. “Dengan memfasilitasi diskusi seperti ini, GRESB ingin memperkuat pengetahuan pasar lokal dan kolaborasi global. Setiap tahun, GRESB Benchmark menunjukkan bagaimana investasi yang bertanggung jawab, berlandaskan keberlanjutan serta didukung data yang dapat menghasilkan dampak nyata bagi investor, pasar, dan masyarakat,” ungkap Trey. Sebagai mitra resmi GRESB di Indonesia, Asia Green Real Estate memainkan peran penting dalam mendukung perusahaan di berbagai tahap perjalanan ESG mereka. Mulai dari pengembangan strategi, benchmarking, hingga pelaporan kinerja. “Komitmen ini mempertegas posisi Asia Green Real Estate sebagai penggerak utama dalam mendorong praktik keberlanjutan di sektor real estate, baik di Indonesia maupun kawasan Asia secara lebih luas,”pungkas Arista.  

MUFG dan Danamon Perkuat Komitmen Keberlanjutan Lewat MUFG Net Zero World 2025

Propertynbank : MUFG Bank, Ltd. (“MUFG”) bersama PT Bank Danamon Indonesia Tbk (“Danamon”) terus memperkuat komitmen dalam mendorong praktik keuangan berkelanjutan dan transisi menuju ekonomi rendah karbon. Salah satu komitmen tersebut tercermin dalam penyelenggaraan kegiatan Net Zero School, yang merupakan bagian dari komitmen keberlanjutan MUFG dalam mendukung agenda keberlanjutan nasional dan regional di Asia Pasifik, di Jakarta, Senin (13/10/2025). Colin Chen, Head of Sustainable Finance, Asia Pacific for MUFG Bank, menegaskan bahwa keberlanjutan kini telah menjadi pilar utama dalam pengambilan keputusan bisnis. Ia menjelaskan bahwa konsep Environmental, Social, and Governance (ESG) terus berevolusi sejak era 1980-an dan kini menjadi kerangka kerja komprehensif bagi perusahaan untuk menyeimbangkan aspek finansial, sosial, dan lingkungan. “Tiga elemen dalam ESG saling melengkapi untuk memastikan bahwa perusahaan tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memberi kontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan,” ujar Colin. Menurutnya, pemahaman tentang materialitas kini menjadi kunci dalam strategi keberlanjutan perusahaan. Pendekatan double materiality, yang tidak hanya menilai dampak isu keberlanjutan terhadap kinerja keuangan (financial materiality), tetapi juga meninjau bagaimana aktivitas bisnis memengaruhi lingkungan dan masyarakat, semakin banyak diadopsi secara global. Dalam konteks pembiayaan, bahwa keuangan berkelanjutan (sustainable finance) menjadi pendorong utama untuk mengatasi krisis iklim dan mewujudkan pertumbuhan ekonomi inklusif. MUFG aktif mendorong berbagai instrumen seperti green financing, social financing, sustainability-linked loans (SLL), dan transition finance yang membantu sektor sulit beralih (hard-to-abate sectors) menuju dekarbonisasi. “Semakin baik kinerja keberlanjutan perusahaan peminjam, semakin menguntungkan kondisi pinjaman mereka. Inilah cara pasar mendorong transformasi yang nyata,” jelas Colin. Ia juga menyoroti inovasi blended finance, yang menggabungkan dana komersial dan non-komersial untuk mendukung proyek transisi di negara berkembang, disertai transfer teknologi dan pembangunan kapasitas agar risiko dapat diminimalkan. MUFG menargetkan emisi nol bersih untuk operasional pada 2030 dan portofolio keuangan pada 2050, dengan komitmen pembiayaan berkelanjutan yang meningkat dari ¥35 triliun menjadi ¥100 triliun (sekitar USD 640 miliar) pada tahun 2030. Di Indonesia, MUFG memegang peran strategis sebagai salah satu pasar ESG terbesar keempat di Asia Pasifik. MUFG telah terlibat dalam berbagai inisiatif seperti penerbitan obligasi hijau dan biru pertama di Indonesia, Sukuk hijau, serta peluncuran produk deposito ESG untuk menjawab kebutuhan pasar akan instrumen investasi berkelanjutan. Sementara itu, Danamon memperkuat komitmen transisi energi melalui lima pilar keberlanjutan, seperti tata kelola dan proses, pengembangan kapasitas internal, pembiayaan berkelanjutan, manajemen tempat kerja bertanggung jawab, dan tanggung jawab sosial perusahaan. Beberapa inisiatif yang dijalankan meliputi efisiensi energi, instalasi panel surya, skema kredit karbon, dan pengembangan infrastruktur kendaraan listrik (EV). Disisi lain peran regulator seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem keuangan berkelanjutan yang kuat. Melalui Peta Jalan Keuangan Berkelanjutan Fase I (2014) dan Fase II (2021), serta berbagai regulasi seperti POJK No. 51/2017 tentang implementasi keuangan berkelanjutan dan POJK No. 18/2023 tentang obligasi hijau, Indonesia telah membangun fondasi yang kokoh untuk pertumbuhan sektor ini. “Dengan dukungan regulasi yang semakin matang dan komitmen kuat dari dunia usaha, transisi menuju ekonomi hijau bukan hanya keharusan moral, tetapi juga peluang bisnis yang menjanjikan,” ujar Colin. MUFG melihat peluang besar dalam inovasi energi terbarukan, mobilitas listrik, serta bahan bakar rendah karbon, yang akan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di kawasan Asia. “Penyelenggaraan MUFG N0W 2025 menjadi simbol komitmen berkelanjutan MUFG dan Danamon dalam mendukung agenda Net Zero Indonesia 2060. Melalui kolaborasi lintas sektor dan transfer pengetahuan, kedua institusi ini berupaya menciptakan dampak nyata bagi transisi menuju masa depan yang lebih hijau dan inklusif,”pungkasnya.