PNB_Back_Up

Tren Rumah Multifungsi 2026 ala IKEA, Desain Fleksibel Jadi Kunci Hunian

Propertynbank.com – Perubahan gaya hidup masyarakat mendorong transformasi signifikan dalam cara rumah digunakan. Kini, satu ruang tidak lagi memiliki satu fungsi tunggal. Aktivitas seperti bekerja, makan, hingga beristirahat kerap dilakukan dalam area yang sama, sehingga menuntut pendekatan baru dalam desain interior hunian. Fenomena ini menjadi sorotan dalam ARCH:ID 2026, di mana IKEA Indonesia mengungkap bahwa penggunaan ruang yang tumpang tindih semakin umum terjadi, baik di rumah tinggal maupun ruan publik. Interior Design Leader IKEA Indonesia, Muhammad Yusuf Attorik, menjelaskan bahwa perubahan tersebut bukan sekadar soal pergeseran fungsi ruang, melainkan munculnya berbagai kebutuhan dalam waktu yang bersamaan. “Desain tidak lagi cukup hanya untuk satu fungsi. Ruang harus mampu mengakomodasi berbagai aktivitas tanpa menimbulkan friksi dalam alur penggunaan sehari-hari,” ujarnya. Desain Rumah Fleksibel ala IKEA Jadi Kunci Hunian Modern Menurut IKEA Indonesia, desain rumah yang terlalu spesifik mulai kehilangan relevansinya di tengah pola hidup yang dinamis. Banyak hunian yang sebelumnya dirancang dengan pembagian zona yang jelas, seperti ruang makan, ruang kerja, dan ruang keluarga, kini menghadapi keterbatasan saat harus menampung berbagai aktivitas sekaligus. Sebagai contoh, ruang makan yang terlihat lapang dapat dengan cepat terasa sempit ketika digunakan untuk bekerja samabil mendampingi anak. Begitu pula area duduk yang awalnya tertata rapi, dapat kehilangan alur ketika pengguna mulai menggeser posisi furnitur untuk kebutuhan lain. Tidak hanya di hunian, perubahan pola ini juga terlihat di ruang publik. Area yang dirancang untuk fungsi tertentu kerap mengalami pergeseran penggunaan ketika orang mulai menetap lebih lama, berpindah tempat, atau menjadikannya ruang berkumpul. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan ruang kini bersifat dinamis dan tidak lagi bisa diprediksi secara kaku. IKEA Indonesia menilai bahwa akar persoalan bukan terletak pada luas ruang, melainkan pada cara ruang dimanfaatkan. Ketika kebutuhan terus berkembang, ruang yang tidak dirancang fleksibel akan terasa semrawut meskipun secara ukuran memadai. Dalam konteks ini, fleksibilitas menjadi kunci utama dalam desain interior masa kini. Rumah dipandang sebagai sistem yang terus beradaptasi, mengikuti perubahan kebutuhan penghuninya dari waktu ke waktu. Kebutuhan di pagi hari tentu berbeda dengan malam hari, begitu pula penggunaan ruang saat hari kerja dan akhir pekan. “Desain bukan hanya tentang estetika atau membuat ruang selalu terlihat rapi. Yang lebih penting adalah memastikan ruang tetap berfungsi dengan baik, bahkan ketika digunakan dengan cara yang berbeda setiap hari,” tambah Attorik. Pendekatan ini mendorong penggunaan material yang tahan terhadap aktivitas harian serta furnitur multifungsi yang dapat menunjang berbagai kebutuhan tanpa perlu penyesuaian besar. Dengan demikian, ruang dapat tetap nyaman dan efisien tanpa harus sering diatur ulang. Ke depan, konsep hunian diperkirakan akan semakin mengarah pada desain yang adaptif. Rumah tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai ruang kerja, ruang interaksi, sekaligus ruang istirahat dalam satu waktu. Hal ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pengembang properti untuk menghadirkan hunian yang lebih relevan dengan gaya hidup modern. Sebagai tambahan informasi, IKEA didirikan oleh Ingvar Kamprad pada tahun 1943 di Småland, Swedia. Perusahaan ini dikenal dengan konsep desain sederhana, multifungsi, serta sistem kemasan datar (flat-pack) yang memungkinkan produk lebih efisien dan terjangkau bagi masyarakat luas.

ARCH:ID 2026 Dibuka, Industri Arsitektur Kian Prospektif

Propertynbank.com – ARCH:ID 2026 resmi digelar pada 23–26 April 2026 di ICE BSD City sebagai salah satu pameran arsitektur terbesar di Indonesia. Memasuki edisi keenam, ajang ini semakin memperkuat perannya sebagai platform strategis bagi industri arsitektur, desain, dan bahan bangunan yang terus berkembang. Diselenggarakan oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) bersama CIS Exhibition, pameran ini menghadirkan 725 booth dengan lebih dari 180 peserta yang menempati area seluas 18.000 meter persegi. Skala penyelenggaraan yang semakin besar mencerminkan tingginya antusiasme pelaku industri terhadap event tahunan tersebut. Selama empat hari pelaksanaan, jumlah pengunjung ditargetkan mencapai sekitar 31.000 orang. Mengusung tema “Skema Sintesa: Arsitektur Keterlibatan”, gelaran tahun ini menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam menjawab tantangan industri. Pendekatan ini dinilai semakin relevan seiring berkembangnya kebutuhan desain yang tidak hanya estetis, tetapi juga adaptif terhadap teknologi dan isu keberlanjutan. “Melalui tema ‘Skema Sintesa: Arsitektur Keterlibatan’, kami ingin menegaskan bahwa praktik arsitektur hari ini tidak bisa berdiri sendiri. Dibutuhkan kolaborasi lintas disiplin untuk mendorong inovasi yang relevan dengan kebutuhan industri,” ujar Ar. Afwina Kamal, IAI, selaku kurator. Ia menambahkan, pameran ini tidak hanya melibatkan arsitek, tetapi juga desainer interior, lighting designer, hingga pelaku industri material dan teknologi bangunan. Kurasi tahun ini digarap bersama Ar. Trianzani Sulshi, IAI, dan Ar. Dhanie Syawalia, IAI dengan pendekatan yang lebih kolaboratif. Dukungan juga datang dari berbagai asosiasi profesional seperti Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII), Himpunan Teknik Iluminasi Indonesia (HTII), Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI), Green Building Council Indonesia (GBCI), hingga Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI). Keterlibatan mereka memperkuat ekosistem industri sekaligus membuka peluang sinergi yang lebih luas. Perkuat Ekosistem Bisnis di ARCH:ID 2026 Sebagai pameran B2B terkurasi, ajang ini menjadi wadah strategis bagi pelaku industri untuk memperkenalkan inovasi sekaligus memperluas jaringan bisnis. Momentum ini dimanfaatkan untuk peluncuran produk, product sourcing, serta eksplorasi teknologi seperti smart building, modular system, hingga solusi arsitektur berkelanjutan. Program Business Matching kembali menjadi salah satu daya tarik utama. Melalui sesi 1-on-1 yang terarah, arsitek, developer, dan pemilik proyek dipertemukan langsung dengan berbagai brand. Skema ini dinilai mampu menciptakan koneksi yang lebih relevan sekaligus membuka peluang kerja sama yang konkret. Selain itu, penyelenggaraan tahun ini juga menghadirkan konferensi internasional dengan lebih dari 220 pembicara dari dalam dan luar negeri. Sebanyak 90 sesi talk series digelar untuk membahas tren global, inovasi material, hingga tantangan industri ke depan. Tidak hanya berfokus pada pameran dan diskusi, ajang ini juga mendorong inovasi melalui program Hackathon yang melibatkan mahasiswa lintas disiplin. Inisiatif ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan solusi desain berbasis teknologi digital sekaligus memperkuat budaya kolaborasi. Dengan skala yang semakin besar dan pendekatan yang semakin terbuka, ARCH:ID 2026 menegaskan posisinya sebagai hub industri arsitektur. Tidak hanya menghadirkan inspirasi, pameran ini juga membuka peluang bisnis, memperluas jaringan profesional, serta mendorong kemitraan strategis yang berkelanjutan.

ARCH:ID 2026 Perkuat Ekosistem Industri, Dorong Kolaborasi Arsitektur dan Bisnis

ARCH:ID 2026

Propertynbank.com – Pameran arsitektur internasional, ARCH:ID 2026, kembali digelar pada 23-26 April 2026, di ICE BSD City dengan skala yang semakin besar. Tahun ini, penyelenggaraan mencatat pertumbuhan signifikan dengan penggunaan 4 hall, menghadirkan 725 booth dari lebih 180 exhibitor di area seluas 18.000m². Diselenggarakan oleh Ikatan Arsitek Indonesia bersama CIS Exhibition, ARCH:ID 2026 ditargetkan menarik sekitar 31.000 pengunjung serta melibatkan lebih dari 220 pembicara dalam 90 sesi talk series dan konferensi internasional. Project Director CIS Exhibition, R. Arief Sofyan Rudiantoro, menyampaikan, “Pertumbuhan ARCH:ID menunjukkan peran strategisnya sebagai platform kolaborasi industri, dengan tingkat keterisian booth yang telah melampaui 90% sejak akhir Februari,” ujarnya, Sabtu (11/4). Dari sisi asosiasi profesi, Program Director ARCH:ID, Firman S Herwanto, menegaskan bahwa ARCH:ID menjadi wadah penting untuk menghubungkan arsitek dengan ekosistem industri yang lebih luas, sejalan dengan kebutuhan kolaborasi lintas sektor dalam pembangunan. Mengusung tema Skema Sintesa – Arsitektur Keterlibatan, pendekatan kuratorial menjadi salah satu kekuatan utama ARCH:ID 2026. Ar. Afwina Kamal menjelaskan bahwa Skema Sintesa merupakan upaya membuka arsitektur ke ranah yang lebih luas dan inklusif, tidak hanya terbatas pada konstruksi, tetapi juga mencakup seni dan berbagai disiplin kreatif. Sementara itu, Ar. Trianzani Sulshi menambahkan bahwa ARCH:ID juga memberikan manfaat praktis bagi mahasiswa dan profesional muda, termasuk keterlibatan universitas serta peluang pembelajaran sebelum memasuki dunia profesional. Di sisi lain, Ar. Dhanie Syawalia menekankan pentingnya inklusivitas dalam penyelenggaraan ARCH:ID, dengan menghadirkan ruang yang dapat diakses oleh berbagai kalangan, mulai dari profesional hingga masyarakat umum, termasuk kelompok disabilitas. Keterlibatan lintas sektor diperkuat oleh partisipasi berbagai asosiasi seperti HDII, HTII, IALI, GBCI, ADPII, ASAKI, dan AESI, serta kolaborasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Ekonomi Kreatif. Peluang Bisnis di ARCH:ID 2026 Sebagai platform B2B, ARCH:ID menghadirkan berbagai peluang bisnis melalui peluncuran produk, business matching, serta penguatan jejaring profesional. Berbagai kategori produk ditampilkan, mulai dari sustainable architecture, smart building, modular solutions, hingga teknologi BIM (Building Information Modelling) yang relevan dengan perkembangan industri properti dan konstruksi. Selain itu, konferensi internasional yang terbagi dalam The Urban Forum dan The Architectural Forum menghadirkan pembicara global seperti Florence Chan, Manuelle Gautrand, Marina Tabassum, dan Agnes Soh, serta tokoh nasional seperti Irene Umar (Wakil Menteri Ekonomi Kreatif), dan Diana Kusumastuti (Wakil Menteri Pekerjaan Umum), yang membahas isu strategis mulai dari desain kota hingga kebijakan pembangunan. Dengan pendekatan lintas disiplin, skala yang terus berkembang, serta keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, ARCH:ID 2026 semakin menegaskan perannya sebagai platform strategis dalam memperkuat ekosistem industri arsitektur dan properti di Indonesia.

Konsep Arsitektur JIKA Dari Mapei dan Atelier Riri Menangkan Karya Terfavorit di Arch:ID 2023

JIKA

Propertynbank.com – Perusahaan produk-produk kimia bangunan Mapei, turut serta dalam pameran bertajuk “Identitas?” yang diselenggarakan oleh Arch:ID di ICE (Indonesia Convention Exhibition) BSD City, pada 16 – 19 Maret 2023 lalu. Pameran ini menjadi ajang persembahan karya arsitek yang berkolaborasi dengan produk-produk bangunan untuk mempersembahkan sebuah instalasi yang mempertanyakan kembali budaya dan jati diri arsitektur Indonesia. Dalam pameran tersebut, Mapei berkolaborasi dengan Atelier Riri dan mempersembahkan booth dengan desain arsitektur bertema JIKA. Uniknya, instalasi JIKA ini memancing pengunjung untuk mempertanyakan kembali identitas arsitektur jika Indonesia tidak dijajah. Mapei dan Atelier Riri menampilkan karya yang tidak hanya memanjakan mata pengunjung, namun juga memberikan pengalaman unik sehingga pengunjung rela antri untuk turut merasakan karya tersebut. Melalui karya booth yang unik nan indah ini, booth Mapei pada pameran ini menjadi pemenang stan terfavorit. Menurut Marketing Manager Mapei Indonesia, Mahesa Argha Yudha, partisipasi Mapei pada pameran ini adalah untuk menunjukkan bahwa produk berkualitas tidak terbatas hanya pada bangunannya saja, namun dapat digunakan juga untuk ide dan desain arsitektur apapun. Baca Juga : Kampanyekan Pengerjaan Konstruksi Berkualitas, Mapei Gelar Kompetisi “Tujuan instalasi pada booth Mapei di Arch:ID ini tidak lain adalah, ingin memperlihatkan bahwa segala macam bentuk ide arsitektur dan dekorasi dapat diwujudkan menggunakan produk Mapei yang berkualitas. Serta melakukan pengenalan dan edukasi pada rekan-rekan arsitek yang datang, mengenai apa saja yang bisa produk Mapei support pada setiap kebutuhan masing-masing proyek,” tuturnya beberapa waktu lalu. Instalasi JIKA Tema JIKA berfokus pada esensi identitas dan jati diri arsitektur Indonesia. Meskipun telah terpengaruh budaya penjajah, karya Atelier Riri dan Mapei ini merepresentasikan bagaimana jika arsitektur Indonesia tidak pernah terpengaruh oleh budaya penjajah. Instalasi JIKA mengambil konsep identitas Indonesia yang memiliki banyak hutan. Adaptasi hutan dalam karya ini dipadu dengan kolam yang merepresentasikan genangan air di dalam hutan dan paduan lampu yang tepat sehingga memberikan kesan atmosfer yang berbeda diantara instalasi lainnya. Baca Juga : ARCH:ID 2023 Kemenparekraf Ajak Arsitek Berkolaborasi Di Desa Wisata Dalam instalasi “JIKA”, Mapei memperkenalkan keunggulan produk-produknya dalam memenuhi kebutuhan desain yang unik dan indah. Mapei mengaplikasikan produk untuk dekorasi Ultratop Loft pada setiap panel yang menjadi struktur dari booth tersebut, lalu ada produk lantai industri yang juga bisa memenuhi kebutuhan estetika Mapefloor System yang diaplikasikan pada bagian walkwaynya, serta waterproofing mortar exposed, Mapelastic yang diaplikasikan pada bagian kolam di dalam booth. Penghargaan Instalasi JIKA Instalasi JIKA, hasil kolaborasi arsitek Atelier Riri bersama Mapei, memenangkan penghargaan utama dalam pameran Arch:ID 2023 ini, yaitu “Favorite Booth”. Penghargaan ini diberikan berdasarkan survey dari seluruh pengunjung pameran yang datang, termasuk arsitek, komunitas, kontraktor, pelajar, atau pengunjung umum. Dengan penilaian terbaik, instalasi JIKA mendapatkan predikat stan terfavorit. Seperti diketahui, Mapei berdiri pada 1937 di Milan, Italia. Saat ini, Mapei merupakan salah satu produsen material bangunan yang memiliki lebih dari 6,000 macam chemical material untuk konstruksi, seperti perekat keramik, granit dan marmer, serta pelengkap produk untuk semua kebutuhan dalam industri bangunan. Lini produk yang dimiliki oleh Mapei seperti produk anti air, perkuatan struktur, lantai untuk industri, obat beton, lantai lapangan olahraga, produk untuk konstruksi bawah tanah, juga restorasi bangunan bersejarah.

ARCH:ID 2023 Kemenparekraf Ajak Arsitek Berkolaborasi Di Desa Wisata

ARCH:ID

Propertynbank : Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mendukung penyelenggaraan festival arsitektur ARCH:ID yang diprakarsai oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) bersama dengan PT CIS Exhibition. Digelar ketiga kalinya, ARCH:ID, akan diselenggarakan pada tanggal 16-19 Maret 2023 di ICE BSD, Tangerang. ARCH:ID memiliki konsep pameran Business to Business (B2B) dan juga konferensi bertaraf internasional. Mengusung tema ”Identitas?”, pameran ARCH:ID dikemas dengan konsep arsitektur dan desain yang kental, sedangkan kegiatan konferensi diisi oleh para pembicara lokal dan internasional. Lima pembicara yang hadir dalam konferensi berasal dari negara Jerman, Belanda, Lebanon, United Kingdom, dan juga Indonesia. Yuke Sri Rahayu, Direktur Kuliner, Kriya, Desain, dan Fesyen Kemenparekraf yang menghadiri acara konferensi pers  ARCH:ID beberapa waktu lalu di Jakarta mengungkapkan, dukungan ini timbul lantaran arsitektur menjadi salah satu dari 17 sub-sektor ekonomi kreatif Indonesia. “Sub-sektor itu yang menjadi tanggung jawab kami dalam penciptaan produknya. Makanya, kami harap IAI dapat berkolaborasi dengan baik dengan Kemenparekraf,” kata Yuke. Kolaborasi yang dimaksud adalah bagaimana IAI dapat mendukung pariwisata Indonesia melalui lima destinasi super prioritas dan juga 10 destinasi wisata prioritas. Peran IAI adalah menciptakan arsitektur untuk destinasi-destinasi tersebut dengan desain yang kekinian dan tengah berkembang di era sekarang. Tak hanya itu, Yuke, juga berharap para arsitek muda untuk berkolaborasi di desa wisata dan desa kreatif. Pasalnya, program desa wisata saat ini tengah dikembangkan oleh Kemenparekraf dengan tujuan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan rakyat, melestarikan alam, lingkungan dan sumber daya, serta memajukan kebudayaan. “Sekiranya ada arsitektur muda yang mau terlibat menciptakan desain terkait desa wisata dan kreatif kami sangat terbuka. Desa wisata ini masuk ke dalam program kami sehingga diharapkan kreativitas para arsitektur bisa diimplementasikan di sana,” ucapnya lagi. Apalagi, menurutnya, banyak daerah di Indonesia yang dapat digali citra kelokalannya sehingga berpotensi meningkatkan pariwisata. Nantinya, karya-karya dari para arsitek dapat diletakkan di beberapa tempat seperti bandara, pasar tradisional, museum, tempat heritage, dan sebagainya. “Arsitektur itu adalah alat untuk menyampaikan identitas dan bisa ditunjukan ke dalam sebuah karya. Nantinya karya tersebut yang dapat kita hadirkan di beberapa tempat,” dia menambahkan. Target 14.500 Pengunjung Selain ajang diskusi, ARCH:ID, memiliki dua program utama yaitu pameran dan konferensi. Pameran dikemas dengan konsep arsitektur dan desain yang kental, sedangkan kegiatan konferensi diisi oleh para pembicara lokal dan internasional. “Ada beberapa sub-tema yang akan dibahas dalam ARCH:ID 2023 International Conference on Architecture yaitu Maritime+Technology dan Social+Cultural,” kata Firman Herwanto, Project Director ARCH:ID 2023. ARCH:ID 2023 akan menghadirkan program-program unggulan lainnya seperti pameran terkurasi (kolaborasi brand x arsitek), Featured Exhibition & Installation, Talk Series, Obrolan Tuju Tuju, BIM Adoption 101, ARCH:ID Night & Best Booth Awards. Kemudian Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) IAI, Sosialisasi Program IAI, 4 Nations Meeting yang terdiri dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand, serta program menarik lainnya. Lebih lanjut Firman mengatakan bahwa program-program yang ada dalam ARCH:ID 2023 dirancang untuk membahas benang merah terkait tema “Identitas?”. Melalui tema ini diharapkan dapat kembali mengangkat potensi geografis Indonesia, akar budaya, serta pendekatan desain, dan teknologi karya anak bangsa, yang tersampaikan dari barat ke timur. Direktur PT CIS Exhibition, R. Arief Sofyan Rudiantoro, mengatakan bahwa seluruh program yang hadir dalam ARCH:ID merupakan bentuk komitmen IAI untuk mempertemukan para arsitek Indonesia dan internasional. Pasalnya, acara ini dapat menyatukan semua stakeholder arsitektur mulai dari hulu ke hilir. Meskipun memiliki konsep B2B, pameran ini dapat dikunjungi oleh masyarakat umum yang tertarik dengan dunia arsitektur. Di sini, masyarakat dapat mengikuti talk show atau hanya sekadar mengabadikan foto di instalasi yang sudah didesain oleh para arsitek. Dengan demikian, Arief, menargetkan mampu mendatangkan 14.5000 pengunjung selama empat hari pameran. Angka tersebut terbilang realistis pasalnya penyelenggaraan ARCH:ID tahun ini menggunakan area yang lebih luas dan menghadirkan banyak program di dalamnya. “Selain masyarakat umum, target utama pengunjung kami berasal dari kalangan arsitek, kontraktor, developer, desain interior, dan lainnya,” Arief pungkasnya. Bagi masyarakat yang ingin mengunjungi pameran ARCH:ID dapat langsung hadir ke lokasi acara secara gratis. Pendaftaran dapat dilakukan sejak saat ini atau di lokasi acara secara online melalui link www.arch.id/visitor/.

ARCH:ID 2022 Resmi Digelar, Usung Tema Sebentang – Serentang – Segendang

Propertynbank.com – ARCH:ID resmi digelar pada Kamis, 14 Juli 2022 di ICE BSD City, Tangerang. Konferensi dan Pameran Arsitektur ini dibuka oleh Menteri PUPR Basoeki Hadimoeljono. Festival arsitektur paling dinantikan di Indonesia ini akan berlangsung sampai 17 Juli 2022. “Saya ucapkan selamat atas berlangsungnya acara ARCH:ID 2022 ini setelah sempat tertunda selama 2 tahun karena pandemi. Harapannya acara ARCH:ID ini dapat terus berlangsung setiap tahun dalam rangka mewujudkan perkembangan profesi arsitek di Indonesia,” kata Basuki dalam sambutannya. Basuki juga menyampaikan apresiasinya kepada IAI yang selama ini terus bekerja sama dengan Kementerian PUPR dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia. Menurutnya, arsitektur memegang peran penting dalam pembangunan infrastruktur. “Saya sadar bahwa ilmu arsitektur merangkum semua fungsi bangunan, struktur bangunan, serta estetika atau nilai seninya. Sehingga ke depan, semua pembangunan infrastruktur harus melibatkan arsitek, termasuk pembangunan jalan. Contohnya pada perkerasan tebing di Tol Cisumdawu, saya minta arsitek terlibat agar lebih bagus dan estetik,” ungkap Basuki. Basuki menjelaskan, peran dan dukungan arsitek Indonesia dalam pelaksanaan pembangunan infrastruktur dan pengembangan kawasan dapat dilihat pada upaya pelestarian pada bangunan dan kawasan cagar budaya, antara lain rehabilitasi Gelora Bung Karno dalam rangka Asian Games 2018, rehabilitasi Pasar Johar, renovasi Masjid Istiqlal, dan rehabilitasi Rumah Gadang di Solok Selatan. Upaya pelestarian ini dilakukan untuk memelihara bangunan atau kawasan cagar budaya baik secara fisik maupun non-fisik sehingga tradisi budaya lokal tetap terpelihara. Arsitek juga berperan dalam pembangunan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) yang dilaksanakan pada 5 Destinasi Pariwisata Super Prioritas yaitu Danau Toba, Borobudur, Manado-Likupang-Bitung, Mandalika, dan Labuan Bajo. Peran arsitek bukan hanya merubah wajah kawasan tersebut dengan tetap menjaga kearifan lokal, tetapi juga mengangkat harkat dan martabat masyarakat lokal secara sosial-ekonomi. Dirinya menegaskan, saat ini pihaknya juga bekerja sama dengan IAI dalam persiapan infrastruktur untuk mendukung presidensi G20, di antaranya penataan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), penataan beberapa titik wisata di Labuan Bajo, penataan Kawasan Mandalika, penataan kawasan Hutan Mangrove Tahura Ngurah Rai di Bali, dan revitalisasi VVIP Bandara Ngurah Rai Bali. Sebagaimana diketahui, ARCH:ID merupakan annual event yang diselenggarakan oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) bermitra strategis dengan PT Citra Inovasi Strategi (CIS) Exhibition. Tahun ini  Sebentang, Serentang, Segendang merupakan tema yang diusung, sebagai refleksi dari keberagaman praktek dan produk arsitektur yang ada di Indonesia. Tema ini merupakan hasil pemikiran 3 orang kurator yang merupakan arsitek ternama yang berasal dari berbagai daerah yaitu Ary Indra dari Salatiga, Ramadhoni Dwipayana dari Medan, dan Hermawan Dasmanto dari Surabaya. Hermawan Dasmanto Kurator ARCH:ID 2022 mengatakan, tema kali ini, Sebentang – Serentang – Segendang untuk merayakan perbedaan dan keberagaman praktik arsitektur di Indonesia.  “Beberapa daerah di Indonesia memiliki potensi untuk ditampilkan, untuk itu ARCH:ID kali ini menampilkan Paviliun Indonesia Barat (Medan) dan Timur (Makassar) agar acaranya tidak tersentral di Jakarta saja”, ucapnya . Konferensi ARCH:ID akan diselenggarakan selama 2 hari yaitu tanggal 14 – 15 Juli 2022. Menghadirkan pembicara lokal serta internasional antara lain Masahiro Kinoshita (Jepang), Pitupong Chaowakul (Thailand), Damith Premathilake (Srilanka), Liu Yichun (China), Setiadi Sopandi (Jakarta), Gregorius Supie Yolodi & Maria Rosantina (Jakarta), I Ketut Dirgantara (Bali), Franky Parulian Simanjuntak (Medan) dan Muhammad Ikhsan Hamiru (Makassar). “Konferensi ARCH:ID 2022 kali unik dan menarik, sering kali kita menghadiri suatu acara karena pembicaranya adalah Starchitect (arsitek sangat terkenal), namun yang kita tawarkan sekarang ini adalah sebuah narasi, dengan mengikuti seluruh rangkaian sesi konferensi, peserta dapat menyimpulkan bentuk keberagaman dalam praktek arsitektur dari apa yang disampaikan para pembicara,” tegas Hermawan. ARCH:ID 2022 Hadirkan Pameran Kolaborasi Dengan Arsitek Kegiatan yang utama selanjutnya adalah pameran terkurasi. Para peserta pameran (brand) dihimbau oleh kurator untuk berkolaborasi dengan arsitek untuk mendesain boothnya dan menampilkan desain produk dengan cara yang berbeda sehingga akan menciptakan suasana yang berbeda dari kegiatan sejenis.  Layout pameran akan dibuat tidak mengikuti desain konvensional pameran pada umumnya. Ketinggian booth yang diatur juga akan menciptakan skyline menciptakan ambience  arsitektur yang kental akan desain. Tahun ini, ARCH:ID akan menampikan ragam produk arsitektur dan building material dari lebih 150 brand. Featured Exhibition, yang menjadi salah satu signature dari ARCH:ID akan menampilkan karya arsitektur dan di desain oleh para arsitek. ARCH:ID 2022 disebut sebagai festival arsitektur karena acara yang beragam dalam satu kegiatan. Tidak hanya kegiatan utama Konferensi dan Pameran, kegiatan lain yang dapat dinikmati antara lain Talk Series dengan berbagai topik, Obrolan Tuju-Tuju, Paviliun Indonesia Barat (Medan) berlokasi di Posbloc  dan Timur (Makassar) berlokasi di Museum Kota Tua, BIM Masterclass, ARCH:ID Sustainable Construction Material Awards 2022 dan ARCH:ID Night. Penyelenggaraan ARCH:ID 2022 menargetkan pengunjung dari  kalangan profesional seperti arsitek, kontraktor, pengembang properti, desainer interior, institusi pemerintah,  distributor, agen, importir, eksportir, akademisi serta semua pihak dunia arsitektur dan desain yang akan bertemu dalam kegiatan ini, membangun relasi bisnis, networking, knowledge-sharing dan mengambil peran untuk membangun arsitektur di Indonesia. Selain itu rangkaian kegiatan ini diharapkan membentuk suatu kolaborasi dengan bidang-bidang lain yang dapat bersinggungan dengan arsitektur. Dalam hal kenyamanan semua pihak, ARCH:ID 2022 juga akan diselenggarakan mengikuti protokol kesehatan sesuai dengan peraturan pemerintah. Pengunjung dapat mendaftarkan kehadirannya melalui online di website www.arch.id.

ARCH:ID, Pameran Arsitektur Di Gelar Juni 2022

UMUM – Pameran Arsitektur yang digelar bersamaan dengan Konferensi pada tahun 2020 lalu tergolong sukses. Terkait hal tersebut, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) bersama dengan PT Citra Inovasi Strategi (CIS) Exhibition kembali menyelenggarakan Event ARCH:ID pada tahun 2022 mendatang. Konferensi dan Pameran ini akan diselenggarakan pada tanggal 2 – 5 Juni 2022 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City – Tangerang. Melanjutkan konsep yang diaplikasikan  pada penyelenggaraan ARCH:ID  yang lalu, Event ARCH:ID tahun 2022 juga akan dipunggawai oleh tiga orang arsitek ternama sebagai kurator, yang berasal bukan hanya dari satu kota di Indonesia, melainkan tiga kota berbeda. Mereka adalah Ary Indra dari Jakarta-Salatiga, Ramadhoni Dwipayana dari Medan, dan Hermawan Dasmanto dari Surabaya. Event ARCH:ID kali ini mengusung tema Sebentang, Serentang, Segendang yang merupakan refleksi dari keberagaman praktek dan produk arsitektur yang ada di Indonesia. Ary indra sebagai salah satu kurator menjelaskan “Acara ini akan melibatkan semua arsitek dan industri dari seluruh penjuru Indonesia tidak hanya mereka yang sudah punya nama. Kekayaan ini harus kita rayakan tidak dengan usaha untuk menyeragamkan tapi mencari harmoni dan dengan tetap bangga pada perbedaan kita semua,” ujarnya, Selasa (15/12). Konferensi akan menjadi wadah dialog berkelanjutan antara Arsitek & para pelaku industri arsitektur di Indonesia. Dialog ini perlu dibangun dalam kerangka jangka menengah & jangka panjang. Kegiatan ini diharapkan membentuk sinergi yang baik sehingga tercipta suatu ekosistem yang akan memajukan industri arsitektur di Indonesia. Konferensi ARCH:ID 2022 akan diselenggarakan selama 2 hari dengan menghadirkan pembicara berkualitas dari dalam dan luar negeri. Pameran Arsitektur Terkurasi Diselenggarakan selama 4 hari, ARCH:ID 2022 akan menampilkan pameran arsitektur yang menonjolkan sisi arsitektur serta melibatkan arsitek dalam perancangan desain boothnya. Produk-produk yang ditampilkan tidak hanya berasal dari industri besar tetapi juga beberapa industri lokal yang telah dikurasi. ARCH:ID kali ini akan menghadirkan showcase arsitek yang mewakili beberapa daerah, tujuannya adalah  memperlihatkan keragaman praktek dan produk arsitektur di Indonesia. ARCH:ID mengajak para suppliers, brand owners yang menawarkan produk dan jasa seperti Adhesives & Sealant, Advance Materials, Alarm & Automation Systems, Architecture and Interior Design, Retrofitting Specialists, AV, Electrical & Electronic Technologies & Solutions, Bath &  Sanitaryware, Building Hardware Products & Materials, Building Technology: BIM/CAD, Carpet, Laminate, Floor Surfaces Materials, Finishes & Products, Decorative Finishes/Paints/Coating, Drainage, Exterior Architectural Finishes, Materials, Smart Automation, Insulation, Walls, Windows, Ceiling, Door & Glass Materials dan semua elemen-elemen yang berkaitan dengan konstruksi bangunan untuk ikut serta memeriahkan ARCH:ID 2022. Salah satu signature program dari ARCH:ID yang merupakan pameran tematik karya arsitek muda pilihan. Featured Exhibition akan menampilkan karya seni instalasi arsitektur dengan konten seperti showcase arsitek dan arsitektur Indonesia, showcase dari kurator, memorial wall untuk salah satu inisiator ARCH:ID (alm Ahmad Djuhara) dan lain sebagainya. Selain konferensi dan pameran, ARCH:ID juga akan menghadirkan kegiatan berupa pembangunan 5 instalasi yang kami sebut Paviliun 5 Pulau. Kegiatan ini akan diselenggarakan di 5 kota yang tersebar di 5 pulau sebagai representatif yaitu Medan, Makassar, Balikpapan, Bali dan Sorong. Melibatkan arsitek lokal yang pastinya sangat berbakat. Pembangunan Paviliun 5 Pulau sebagai komitmen ARCH:ID untuk merangkul arsitek dari seluruh Indonesia. Selain konferensi internasional, ARCH:ID juga akan menghadirkan kegiatan seminar online yang akan diadakan sebagai pre-event menuju kegiatan utama di Juni 2022 nanti. Seminar online ini juga tentunya akan melibatkan IAI provinsi sebagai narasumber. Dengan topik-topik yang menarik dan sesuai dengan permasalahan masa kini, diharapkan kegiatan ini dapat menjadi forum diskusi antar arsitek di seluruh Indonesia. Penyelenggaraan ARCH:ID 2022 menargetkan pengunjung dari  kalangan profesional seperti arsitek, kontraktor, pengembang properti, desainer interior, institusi pemerintah,  distributor, agen, importir, eksportir, akademisi serta semua pihak dunia arsitektur yang akan bertemu dalam kegiatan ini, membangun relasi bisnis, networking, knowledge-sharing dan mengambil peran untuk membangun arsitektur di Indonesia. Selain itu kegiatan ini diharapkan membentuk suatu kolaborasi dengan bidang-bidang lain yang dapat bersinggungan dengan arsitektur. Dalam hal kenyamanan semua pihak, ARCH:ID 2022 juga akan diselenggarakan mengikuti protokol kesehatan sesuai dengan peraturan pemerintah.

Conwood Gandeng Arsitek Tampilkan Desain Yang Beda di ARCH:ID

DEKORASI – Hadir di ARCH:ID, PT. Conwood Indonesia menampilkan booth dengan wama dasar Conwood , yaitu abu-abu. Conwood juga tampil dengan wajah instalasi yang berbeda di konferensi dan pameran arsitektur perdana yang diprakarsai oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) itu, tidak seperti pada pameran-pameran sebelumnya. “Inovasi produk yang dikembangkan Conwood berasal dari ide teman-teman Arsitek, yang diselaraskan dengan misi kami selaku produsen bahan bangunan arsitektural untuk dapat menjawab tantangan dan peluang pasar,” ujar General Manager Sales & Marketing PT Conwood Indonesia, Deden Sarjana, di ICE BSD City, Jumat (28/2). [irp] Produk-produk yang dibuat oleh Conwood memiliki kualitas terbaik yang diproduksi dengan teknologi terkini dari Swiss. Tujuannya, menghadirkan keindahan pada setiap bagian dari bangunan dan berkomitmen untuk terus berinovasi dalam melestarikan keindahan alam. “Kami mengajak rekan arsitek untuk menggali potensi produk kami dalam ide desain sesuai gaya mereka, sekaligus berperan aktif menjaga keindahan alam Indonesia,” kata Hedhy Kurnianti, Marketing Manager PT. Conwood Indonesia. Hedhy menambahkan, instalasi booth tersebut menggunakan material bangunan Expose Concrete Panel (ECP). Sebelumnya material panel hanya dibuat lurus, namun kali ini Coonwood menghadirkan produk panel dengan garis yang lebih dinamis. Dia mengaku hal ini merupakan jawaban dari tren desain industrial yang sedang berlangsung saat ini. [irp] Selama pameran yang berlangsung pada 27 – 29 Februari 2020 ini, Conwood bercerita tentang relevansi antara inovasi produk dan trend desain dari arsitek-arsitek tanah air yang menjadikan hubungan Conwood dengan para Arsitek Indonesia semakin dekat. Konsep brand Conwood yang mengusung tema A Beauty of Nature memberikan keleluasaan bagi Arsitek untuk mengekspresikan idea desain dengan gaya yang sangat bervariasi. Di ARCH:ID, Conwood berkolaborasl dengan Atelier Riri, yang terinspirasl dari model sirap dan blasa digunakan di bangunan-bangunan tradisbonal Indonesia. Arsitek Riri Yakub mengatakan, inspirasi tersebut datang dari keindahan alam Indonesia yang sangat kaya. Riri Yakub bersama arsitek senior Arie Bakrie juga berbagi ilmu mengenai ide dan karya-karya miliknya yang terletak di daerah tujuan wisata Indonesia. [irp] Selain itu, masih dalam rangka mempererat hubungan dengan Arsitek, Conwwod juga mengadakan serangkaian program acara, diantaranya adalah berkolaborasi dengan penyanyi Sandhy Sondoro sekaligus memperkenalkan theme song baru Conwood. Lirik dalam theme song tersebut dibuat dan dinyanyikan oleh Sandhy Sondoro dan menggunakan alunan musik dari Iagu Malam Biru. “Theme song ini menceritakan tentang karakteristik matenal Conwood yang indah dan tahan lama serta kehangatan yang dibuat bagi penghuninya,” jelas Sandhy Sondoro yang berkesempatan membawakan Iagu tersebut di depan pengunjung Instalasi Conwood.

500 Delegasi Konferensi dan 10.000 Pengunjung Akan Hadir di ARCH:ID

UMUM – Konferensi dan Pameran Arsitektur perdana bertajuk ARCH:ID yang diprakarsai oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), bekerjasama dengan PT Citra Inovasi Strategi (CIS) Exhibition digelar pada 27 – 29 Februari 2020, di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City – Tangerang. ARCH:ID menjadi wadah dialog berkelanjutan antara Arsitek dengan para pelaku industri terkait arsitektur dan konstruksi di Indonesia. Kegiatan ARCH:ID ini dikuratori oleh 3 arsitek Indonesia ternama yaitu, Andra Matin, Danny Wicaksono dan Wiyoga Nurdiansyah. Pembicara ternama dari dalam maupun luar negeri yang akan hadir antara lain, Aaron Roberts – Australia, Christopher Lee – UK, Farshad Mehdizadeh – Iran, Manuel Cervantes – Mexico, Ary Indra – Indonesia, Budiman Hendropurnomo – Indonesia, Sofian Sibarani – Indonesia dan Gunawan Tjahjono – Indonesia. [irp] “Pembicara yang dihadirkan adalah mereka yang bisa memberikan pandangan-pandangan dan perspektif baru atau yang berbeda mengenai arsitektur,” ujar Danny Wicaksono. Konferensi yang akan berlangsung selama 2 hari dari tanggal 28 – 29 Februari ini selain akan memberikan insprirasi kelas dunia, juga diharapkan menjadi ajang silaturahmi terbesar dan ajang berbagi wawasan para Arsitek dari Sabang sampai Merauke. Tidak seperti Pameran Industri Bahan Bangunan pada umumnya, Pameran ARCH:ID berusaha menampilkan kolaborasi yang kental antara Arsitek dan brand-brand Bahan Bangunan ternama di Indonesia. Pameran ARCH:ID juga akan menampilkan 5 Featured Exhibitions, yang berisi konten-konten Arsitektur terkini yang berskala Nasional hingga Internasional. Pameran-pameran yang dimaksud adalah AGA Khan Awards Exhibition, Architecture Student Exhibition, Indonesia Architect Creation Exhibition, Insiatif Scriptura Exhibition, Re-Framing Louis Kahn Exhibition by Cemal Emden. [irp] Beberapa panggung akan disiapkan di sela-sela Pameran untuk memberikan kesempatan bagi para Arsitek dan Industri Bahan Bangunan saling berdiskusi, saling bicara. Panggung ARCH:ID Event Square akan menampilkan beberapa INDUSTRI X ARSITEK Talk Series, dan akan terdapat juga beberapa panggung untuk mewadahi obrolan-obrolan dari para Alumni Kampus-Kampus Arsitektur se-Indonesia, yang berjudul OBROLAN TUJU-TUJU. “ARCH:ID akan menjadi acara pameran yang berbeda. Kita mencoba mengkurasi setiap hal yang berkaitan dengan pameran ini. Kita mengajak beberapa desainer yang berbakat untuk menjadi bagian penting dari pameran ini. Kurator ARCH:ID 2020 melakukan kurasi secara menyeluruh, mulai dari gate, booth pameran bahkan layout dari pameran ini. Harapannya, pameran ini akan menjadi tempat berkumpul arsitek dan para pelaku industri untuk memajukan arsitektur Indonesia di masa yang akan datang,” jelas Wiyoga Nurdiansyah. [irp] Sementara itu, Ketua Umum IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) Ahmad Djuhara mengatakan, perkembangan dunia arsitektur di masa depan membutuhkan hubungan yang lebih erat lagi dengan dunia industri, terutama industri bahan bangunan. ARCH:ID ini, kata dia, akan berbeda dari kegiatan-kegiatan yang lain karena ada unsur design yang sangat kuat, sangat kental, yang akan ada di pameran dan di konferensi ARCH:ID. “Dan design arsitektur adalah sesuatu yang belum kita urus dengan benar padahal design arsitektur membawa sebuah kekuatan yang akan membawa bangsa kita ke peradaban yang lebih baik,” ujar Ahmad Djuhara. [irp] ARCH:ID menargetkan 500 delegasi yang akan hadir untuk konferensi dan 10.000 pengunjung pameran yang terdiri dari profesional seperti arsitek, kontraktor, pengembang properti, designer interior, institusi pemerintah, distributor, agen, importir, eksportir dan semua pihak dunia arsitektur yang akan bertemu dalam kegiatan ini, membangun relasi bisnis, networking, knowledge-sharing dan mengambil peran untuk membangun arsitektur sehingga bisa menghasilkan iklim arsitektur yang lebih baik untuk Indonesia.