Industri Keramik Butuh Kepastian Energi, ASAKI Dorong Kebijakan Gas Pro-Manufaktur

Propertynbank.com — Industri keramik nasional tengah menghadapi tantangan besar akibat ketidakstabilan pasokan gas serta meningkatnya biaya energi yang berdampak langsung terhadap produktivitas dan daya saing industri. Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI), Edy Suyanto, menilai sektor keramik membutuhkan kepastian energi untuk menjaga keberlanjutan produksi. Industri keramik, kata dia, merupakan sektor penerima program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang menetapkan harga gas sebesar USD 7 per MMBTU. “Namun di lapangan, pelaku industri masih menghadapi gangguan suplai gas yang terjadi berulang di sejumlah wilayah industri. Gangguan gas sekarang frekuensinya semakin sering dan ini sangat mengganggu produktivitas industri,” ujar Edy di sela-sela Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) di Cikande, Banten, Rabu (8/4/). Ia mencontohkan gangguan pasokan di Jawa Barat pada Agustus tahun lalu ketika tekanan gas turun hingga level minimum sehingga pabrik tidak dapat berproduksi. Situasi serupa kembali terjadi di Jawa Timur pada awal tahun dengan gangguan selama 7–10 hari, kemudian terulang lagi pada Maret di wilayah Jawa Barat. “Akibat gangguan tersebut, sejumlah pabrik anggota ASAKI terpaksa menghentikan operasional sementara,” ungkap Edy. Harga Gas Naik, Pasokan Belum Andal Selain masalah keandalan suplai, industri juga menghadapi lonjakan biaya energi. Edy mengungkapkan bahwa sebagian pabrik kini membayar harga gas hingga USD 10,2–10,6 per MMBTU, jauh di atas harga HGBT yang ditetapkan pemerintah. Kondisi ini membuat komponen biaya energi kembali meningkat signifikan dalam struktur produksi. Jika sebelumnya biaya gas dapat ditekan menjadi sekitar 27–28%, kini kembali naik hingga 36–38% dari total biaya produksi. “Industri keramik adalah industri padat energi dan tidak memiliki alternatif energi lain. Proses produksi membutuhkan suhu pembakaran sangat tinggi sehingga gas menjadi satu-satunya energi yang paling memungkinkan,” jelas Chief Operating Officer (COO) PT Arwana Citramulia Tbk tersebut. Penurunan alokasi gas industri juga menjadi sorotan. Dalam satu tahun terakhir, pasokan yang sebelumnya sekitar 67% disebut turun menjadi hanya 51%, sehingga semakin menekan utilisasi kapasitas produksi nasional. Dorong Kebijakan Domestic Market Obligation Gas Sebagai solusi jangka panjang, ASAKI mendorong pemerintah mempertimbangkan penerapan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) untuk gas bumi guna memastikan kebutuhan energi sektor manufaktur domestik terpenuhi. Edy menilai kebijakan tersebut penting mengingat sebagian besar produksi gas nasional masih dialokasikan untuk ekspor, sementara industri dalam negeri membutuhkan pasokan stabil untuk menjaga pertumbuhan manufaktur. “Ketahanan energi adalah motor manufaktur, dan manufaktur adalah motor pertumbuhan ekonomi nasional,” tegasnya. Menurutnya, peningkatan utilisasi industri akibat ketersediaan energi akan memicu ekspansi pabrik, penciptaan lapangan kerja, serta multiplier effect ekonomi yang lebih luas. Ancaman Impor Menguat Di tengah kenaikan biaya produksi domestik, industri juga menghadapi potensi peningkatan produk impor. Ketidakpastian geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah, berpotensi mendorong negara produsen besar seperti China dan India mengalihkan pasar ekspor mereka ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Jika biaya produksi dalam negeri terus meningkat, produk impor dikhawatirkan kembali mendominasi pasar domestik. Meski demikian, Edy mengapresiasi dukungan pemerintah melalui kebijakan standar nasional wajib, bea masuk anti-dumping, serta safeguard yang dinilai membantu menjaga industri nasional. Optimisme Industri Keramik Didukung Program Pembangunan Di balik tantangan tersebut, industri keramik tetap optimistis terhadap prospek permintaan domestik. Program pembangunan perumahan, renovasi ratusan ribu rumah, hingga pembangunan fasilitas publik dinilai menjadi katalis positif bagi pertumbuhan industri bahan bangunan. “ASAKI menargetkan utilisasi industri dapat mencapai 80% apabila pasokan gas kembali stabil,” tegas Edy. Industri ini juga memasuki fase ekspansi kedua periode 2025–2029 dengan tambahan kapasitas produksi sekitar 90 juta meter persegi per tahun. Secara total, ekspansi industri diproyeksikan mencapai 160 juta meter persegi, jauh melampaui volume impor yang pada 2024 tercatat sekitar 78 juta meter persegi. Hal ini menunjukkan industri keramik nasional sebenarnya telah mampu memenuhi seluruh kebutuhan pasar domestik, dari segmen menengah hingga premium berukuran besar. “Selama pasokan gas terjamin, industri keramik Indonesia sangat optimistis bisa memperkuat substitusi impor sekaligus menjadi pemain global,” tutup Edy Suyanto.
Sun Power Ceramics : Inovasi Varietas Motif dan Desain Produk
propertynbank : Pandemi Covid-19, telah menghantam Indonesia lebih dari satu setengah tahun. Meski demikian, industri keramik nasional masih tetap tangguh, menghadapi gempuran pandemi Covid-19 ini. PT. Sun Power Ceramics, perusahaan yang bergerak dibidang material bangunan, khususnya material keramik dan granit/porcelain, tetap mampu mencatatkan penjualan yang positif. Vidya Damayanti, Marketing & E-comerce Manager Sun Power Ceramics mengungkapkan, di masa pandemi saat ini Sun Power Ceramics mengalami penjualan yang cukup baik. Hal ini dikarenakan banyak pemilik rumah yang melakukan renovasi mengganti keramiknya di masa pandemi ini. “Mereka mengganti keramik tidak hanya sekadar mengikuti tren, tapi juga di masa pandemi ini pemenuhan hunian sehat menjadi hal utama. Sehingga rumah menjadi lebih fresh, bersih dan nyaman untuk ditempati,” ujarnya. Apalagi di masa pandemi ini, masyarakat diharuskan untuk tetap berada di rumah, atau bekerja dari rumah (work from home). Efeknya banyak orang yang melakukan renovasi rumah. Tidak heran kalau saat ini pembeli yang merupakan pengguna langsung untuk renovasi rumahnya sendiri. “Melihat hal tersebut, kami terus secara massif menyasar ke segmen pembeli yang merupakan pengguna langsung melalui media sosial,” papar wanita yang kerap disapa Vivi. Tingginya minat masyarakat terhadap kebutuhan hunian yang nyaman, disambut Sun Power Ceramics de-ngan menghadirkan inovasi produk keramiknya. Vidya Damayanti menambahkan keramik merupakan bagian interior yang fungsinya terhitung signifikan, dan dibutuhkan. Bahkan saat ini desain interior juga melibatkan peran keramik sebagai estetika. Menurut Vivi, tren keramik saat ini selalu mengalami perubahan setiap tahunnya, layaknya sebuah fashion. Untuk itu, Sun Power Ceramics terus berinovasi dengan varietas motif, warna, hingga efek khusus untuk dapat menciptakan produk yang trendy dan berbeda. Sebagai single brand, Sun Power Ceramics menspesialisasikan produk-produk ubin dinding, ubin lantai, porselen ubin (granit), dengan selalu berusaha mengembangkan mutu dan teknologi pada proses produksinya. Hadir dengan teknologi terbaru dari Italia serta keberagaman desain motif, menjadikan Sun Power Ceramics sebagai brand keramik dan granit yang kompetitif serta inovatif. Selain faktor banyaknya motif dan ukuran yang beragam. Sun Power Ceramics juga memiliki 3 jenis produk unggulan yaitu Boomatch, Endmatch, serta Motif Sajadah. Ke tiga jenis produk tersebut tersedia dalam ukuran 120x60cm. “produk tersebut menjadi salah satu most wanted item pada market export Sun Power Ceramics serta project-project yang menginginkan ambiance dengan kesan khusus serta harga yang terbilang terjangkau dan sangat kompetitif,”papar Vivi. Menurut Vivi, Perpaduan desain yang lebih berani dan ukuran yang lebih besar, akan menarik perhatian pelanggan dan menjadi pilihan bagi segmen premium. Ukuran 120×60 Glossy Polished merupakan primadona untuk saat ini,” jelasnya. Selain 120×60, Sun Power juga menawarkan berbagai ukuran keramik yang dapat disesuaikan dengan luas rumah, mulai dari 25×40, 40×40, 50×50, 30×60, dan 60×60. “Keunggulan produk dari Sun Power Ceramics adalah dari segi glossines (kilau), tingkatnya hingga 95 – 100 persen, jadi seperti becermin. Selain itu juga jangan kawatir akan watermark ataupun staining, apalagi produk Sun Power Ceramics telah memiliki sertifikat ISO 13006:2010, SIRIM maupun TISI untuk keperluan export,” ujarnya. Menggunakan media digital dalam proses pemasaran memudahkan Sun Power Ceramics untuk bisa berinteraksi dan mengetahui apa saja kebutuhan masyarakat terhadap varian produk sehingga lebih tersegmentasi. Hal ini menjadi dasar perusahaan untuk bisa terus maju dan menjawab setiap kebutuhan konsumen. Menjawab kebutuhan pasar, program kolaborasi Sun Power Ceramics diluncurkan dengan beragam tema. Program-program tersebut dilakukan tidak hanya secara offline, namun juga secara online dengan berbagai platform. Beberapa diantaranya adalah program Goes to Campus yang berfokus pada karya rekan – rekan mahasiswa dengan prize beasiswa, menjadi partisipan aktif dalam berbagai exhibition, cross brand collaboration dalam hal pembuatan konten maupun event offline, serta beberapa program kolaborasi dengan IAI Jawa Timur & BCI Asia. Keseluruhan program terdokumentasi dalam berbagai platform digital Sun Power Ceramics seperti Youtube, Instagram, Facebook, serta ke 11 platform digital lain yang telah dikembangkan dalam 2 tahun terakhir, agar informasi seputar Sun Power Ceramics dapat diakses dengan mudah oleh semua lapisan masyarakat, serta dapat menjadi bagian dari program yang menginspirasi. Hingga saat ini, Sun Power Ceramics telah berhasil memproduksi dengan kapasitas mencapai 5,8 juta m2 dengan rata-rata perbulan mencapai 830 ribu meter persegi. Semua produk tersebut telah tersebar di seluruh pelosok daerah di Indonesia dengan didukung lebih dari 100 distributor. (Adv)
Kanmuri, Kualitas Tetap Nomor Satu
BAHAN BANGUNAN – Kanmuri tetap mengutamakan kualitas produk, meskipun secara umum industri properti mengalami penurunan. Berbagai inovasi yang dilakukan oleh genteng keramik Kanmuri. Bukan hanya menggunakan bahan baku dari luar negeri, Kanmuri selalu memperhatikan kualitas produk demi menjaga komitmen kepada konsumen. Jika produk lain melakukan strategi pengurangan kualitas agar produk bisa lebih terjangkau, sementara Kanmuri tetap menomorsatukan kualitas. General Manager PT Satya Djaya Raya Trading Coy John SL Chang mengatakan, produk genteng keramik Kanmuri memiliki standar dari Jepang, yang merupakan standar internasional. Produk Kanmuri di negeri Sakura tersebut, sangat disukai karena sudah teruji dan tidak mengalami kebocoran hingga puluhan tahun. Kanmuri bersaing dengan produk lainnya dari Korea bahkan hingga Eropa. “Produk yang diekspor harus sesuai dengan iklam dan cuaca di luar negeri, artinya tidak hanya tahan panas tapi juga tahan terhadap dingin bahkan salju. Dalam hal pemasangan genteng, kami juga tidak lagi menggunakan semen untuk mengurangi resiko proses pemasangan yang kurang sempurna oleh tukang. Kami sudah lengkapi dengan sistem pemasangan tanpa semen,” ujar Jhon. Dalam hal pemasaran, Kanmuri juga telah mempersiapkan sistem dan teknologi penjualan online. Sistem ini bahkan memang sudah dipersiapkan sebelum pandemi, untuk mengantisipasi perkembangan digitalisasi. Pelanggan Kanmuri atau masyarakat yang sudah mengenal inilah genteng yang paling baik maka mereka bisa langsung beli di Tokopedia atau Shopee. Selain itu, Kanmuri menyediakan aplikasi khusus yang memudahkan konsumen memilih jenis produk Kanmuri. Konsumen bisa langsung mengkalkulasi atau menghitung penggunaan atap, baik jumlah maupun modelnya. Sehingga bisa langsung mengetahui secara detail penggunaan genteng Kanmuri yang akan digunakan. “Berbagai inovasi yang dilakukan inilah yang membuat kami berbeda dengan kompetitor, baik dari sisi kualitas produk hingga ke teknologi. Kami memberikan informasi dan tata cara pemasangan genteng yang benar sehingga bisa lebih tahan lama sesuai dengan komitmen Kanmuri. Jika konsumen masih menemui kendala, maka bisa langsung hubungi kami,” jelas Jhon. Jika produk lain mengurangi harga dan memberikan promo, Kanmuri tetap fokus kepada kualitas produk. ”Kami tidak hanya jual genteng tapi juga memberikan pelayanan sehingga pemasangannya sempurna,” tutup Jhon.
Akselerasi Industri Keramik Lokal, Kemenperin Kawinkan ASAKI dan Pengembang
EKONOMI – Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) dan Realestat Indonesia (REI) melakukan kerjasama terkait penggunaan produk keramik dalam negeri. Penandatanganan Nota Kesepahaman kerjasama kedua asosiasi tersebut, dilakukan hari ini, Kamis (17/6) di kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Jakarta. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita secara langsung hadir menyaksikan prosesi penandatanganan kerjasama tersebut. “Kementerian Perindustrian terus berupaya mengakselerasi dan membangkitkan industri keramik nasional. Salah satu langkah yang dilakukan melalui business matching antara produsen keramik dengan asosiasi sektor pengguna. Upaya itu juga sekaligus untuk mendorong penerapan program Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN),” ujar Memperin Agus Gumiwang. Dikatakan Memperin, Indonesia patut bersyukur karena memiliki industri keramik yang saat ini menduduki peringkat delapan dunia dengan kapasitas produksi terpasang sebesar 538 juta m2 per tahun dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 150 ribu orang. [irp] Melalui business matching, sambungnya, diharapkan pelaku usaha sektor industri maupun sektor terkait lain seperti properti, pengembang, dan infrastruktur terus bersinergi, bergerak menciptakan peluang pasar baru, saling mengisi untuk menjamin kepastian rantai pasok, serta kerjasama yang erat dalam menciptakan kemandirian ekonomi bidang industri keramik nasional. Agus mengatakan, meningkatnya pembangunan di sektor infrastruktur dan properti, seperti real estate, perumahan, apartmen, dan bangunan lainnya, membuat permintaan pasar dalam negeri semakin bertambah. “Dalam jangka panjang, Industri keramik nasional akan sangat prospektif, mengingat konsumsi keramik nasional per kapita sekitar 1,4 m2 masih lebih rendah dibandingkan konsumsi ideal dunia yang telah mencapai lebih dari 3 m2,” ucapnya. Selain itu, Pemerintah yang gencar dalam pembangunan infrastruktur, serta meningkatnya kebutuhan perumahan atau tempat tinggal oleh pekerja usia produktif, menjadi peluang pangsa pasar bagi industri keramik nasional untuk meningkatkan konsumsi keramik nasional dan memperluas pangsa pasar dalam negeri. “Kita harus bangga bahwa keramik produksi dalam negeri memiliki keunggulan dari segi kualitas, tipe, desain atau motif, jaminan ketersediaan dan after sales service, serta memiliki TKDN rata-rata di atas 85%,” papar Menperin. [irp] Menperin menuturkan, Indonesia juga harus bangga karena saat ini ubin keramik dalam negeri telah mampu menembus pasar ekspor negara-negara Asia, Eropa, Amerika, dan Australia. “Kemudian perlu digarisbawahi bahwa khusus untuk produk ubin atau porcelain slab ukuran 3,2 meter x 1,6 meter baru Indonesia yang mampu memproduksi di dunia dan telah diekspor ke China, Australia, serta Amerika Serikat,” imbuhnya. Menurut Agus, meski turut dihantam badai pandemi Covid-19, ekspor ubin keramik meningkat sebesar 17% pada tahun 2020 dibandingkan tahun 2019 (year-on-year). “Memperhatikan demand dalam negeri dan pangsa pasar ekspor yang telah mulai meningkat, beberapa produsen keramik nasional telah melakukan ekspansi atau perluasan, dan mengundang ketertarikan beberapa investasi baru,” jelasnya. Tekan Produk Impor Menperin menambahkan, melalui business matching tersebut, diharapkan terjadi link and match antara produsen dalam negeri dan asosiasi pengguna. Hal itu diharapkan turut mampu menekan impor produk keramik. “Persoalan impor akan terselesaikan apabila dibarengi dengan upaya mengoptimalkan pasar dalam negeri oleh produk-produk industri dalam negeri sendiri, baik itu pembelian untuk penggunaan secara individu maupun korporasi atau keproyekan,” tuturnya. Menperin menyebut, produk keramik nasional masuk dalam kategori TKDN wajib yang mempunyai nilai TKDN lebih besar dari 40%. Karena itu, guna mendukung industri keramik nasional diperlukan juga komitmen kuat untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negeri melalui pengoptimalan belanja pemerintah, khususnya dalam pembangunan fisik infrastruktur yang menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) oleh institusi atau lembaga negara dan pemerintah daerah. “Saya juga mendorong para pelaku usaha menggunakan keramik produksi dalam negeri pada proyek-proyek swasta sebagai bentuk kebanggaan dan kecintaan akan produk dalam negeri,” ucapnya. [irp] Menperin optimis, upaya link and match ini akan mampu semakin menumbuhkan industri keramik nasional, pasalnya sub sektor industri tersebut memiliki comparative advantage atau keunggulan komparatif melalui ketersediaan bahan baku yang melimpah, serta didukung juga dengan kemudahan iklim berusaha Pemerintah melalui UU 11/2020 tentang Cipta Kerja. “Hal tersebut diharapkan dapat menumbuh kembangkan industri substitusi impor (Import-substituting industrialization) yang menghasilkan nilai tambah tinggi, memperkuat rantai pasok, memperdalam struktur industri berdaya saing global, dan berwawasan lingkungan,” lanjutnya. Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (Dirjen IKFT) Kemenperin, Muhammad Khayam menambahkan, dalam rangka meningkatkan industri keramik nasional, Kemenperin telah melakukan berbagai upaya, antara lain, pemberian insentif harga gas bumi turun sebesar 6 USD/MMBTU, mendorong revitalisasi permesinan, penerapan Industri 4.0, serta revisi terhadap Peraturan Menteri Standar Nasional Indonesia (SNI) Wajib Keramik. [irp] Selanjutnya, perpanjangan safeguard ubin keramik, pengajuan tata niaga impor yang saat ini menunggu pembahasannya di tingkat Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, ”Dalam rangka menjamin ketersediaan bahan penolong, kami sedang mendesain dibangunnya Pusat Pengembangan Bahan Baku Industri Bahan Galian Nonlogam,” imbuh Khayam. Kemudian dilakukan juga penyiapan D1 Vokasi Keramik yang akan memulai perkuliahan pertama pada Juli 2021. Serta menjamin kepastian rantai pasok melalui kolaborasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk menyusun Pencatatan Sumber Daya Material dan Peralatan Konstruksi (SDMPK). Sekretaris Jenderal DPP REI Amran Nukman mengatakan, sebagai pengembang khususnya dari REI sangat senang dan menyambut baik adanya kesepakatan tersebut. Dirinya menegaskan, ada tiga hal penting yang sudah disampaikan ke Menperin, dalam rangka ikut mendukung program penggunaan produk keramik lokal. “Yang pertama adalah terkait volume, karena rata-rata anggota REI mengembangkan properti dengan jumlah yang cukup besar. Lalu time delivery, dimana kami sangat tergantung kepada kecepatan datangnya bahan bangunan seperti keramik, yang sangat berpengaruh kepada serah terima unit properti kepada masyarakat,” ujar Amran. [irp] Yang terakhir, imbuh Amran adalah mengenai harga, karena di masa pandemi ini, pembeli sangat sensitif terhadap harga. Apa bila dari sisi harga bisa ditekan, maka pengembang juga bisa menurunkan atau paling tidak memberikan diskon yang lebih menarik kepada konsumen. Sementara itu, Ketua ASAKI Edy Suyanto menegaskan, sinergi dan kolaborasi yang terjalin akan menjadi suatu titik balik pemulihan industri keramik dalam negeri. Dirinya juga memastikan mendukung Kemenperin dalam hal program substitusi impor. Melalui kerjasama dengan REI, kata Edy, ASAKI juga membawa tiga keunggulan utama. “Yang pertama adalah volume kapasitas produksi kami besar, dimana saat ini mencapai 550 juta meter persegi per tahun dengan tingkat utilitas sekitar 78%. Anggota ASAKI juga siap memenuhi permintaan dalam negeri dalam beberapa tahun ke depan. Kami juga punya keunggulan dalam bidang desain dan teknologi, bahkan kami sudah melakukan ekspor untuk teknologi yang merupakan satu-satunya di Asia Tenggara ini,” jelas Edy. Sedangkan untuk
Terima Pengurus ASAKI, Menteri PUPR Janji Kawal Penggunaan Produk Lokal
BAHAN BANGUNAN – Selasa, (27/4) lalu, pengurus Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) melakukan audiensi kepada Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono. Dalam pertemuan yang penuh keakraban tersebut, ASAKI melaporkan kinerja industri keramik yang digawang oleh ASAKI, semakin membaik dari kuartal ke kuartal. Sebelumnya, tingkat utilisasi di Q4 2020 sebesar 68% (tingkat utilisasi sepanjang tahun 2020 sebesar 58%) dan meningkat di Q1 2021 ini yang mencapai 75%. Level pencapaian utilisasi 75% merupakan yang tertinggi semenjak tahun 2015 lalu. Ketua ASAKI Edy Suyanto mengatakan, angka utilisasi 75% tersebut mencerminkan industri lebih cepat pulih dari estimasi sebelumnya. Bahkan, kata Edy, pada bulan April 2021 ini, sudah kembali meningkat ke level 80%. “Adanya pemberian insentif Ppn pembelian rumah dan pelarangan pemanfaatan produk impor dari Kementerian PUPR untuk proyek infrastruktur dan properti, merupakan salah satu katalis positif untuk industri keramik nasional. Disamping itu, stimulus harga gas 6 US Dollar yang jelas-jelas telah meningkatkan daya saing industri,” kata Edy kepada propertynbank.com. [irp] Lebih lanjut dikatakan Edy yang juga COO Arwana Ceramic ini, Menteri PUPR memberikan dukungan pada pemanfaatan produk bahan bangunan khususnya produk-produk dari member ASAKI berupa keramik, sanitary ware, rooftiles/genteng keramik dan tableware. “Pak Menteri sangat senang dan bangga bahwa produk keramik rata-rata memiliki TKDN di atas 80%. Beliau berjanji akan mengawal terus pelaksanaan pelarangan pemanfaatan produk import tersebut,” tegas Edy. Dalam pertemuan tersebut, Edy juga menyerahkan Direktori ASAKI yang diterbitkan bekerjasama dengan Aliansi Jurnalis Properti dan Keuangan (AJPK), Majalah Property&Bank dan Majalah MyHome.
Bukukan Laba Bersih Rp 323,01 Miliar, Arwana Resmikan Dua Pabrik Baru
BAHAN BANGUNAN – PT Arwana Citramulia Tbk membukukan laba bersih Rp323,01 miliar dari hasil penjualan yang mencapai Rp2,21 triliun. Pencapaian laba bersih sangat menggembirakan, naik hingga 49,87 persen year-on-year, sementara penjualan naik 2,79 persen year-on-year. Pencapaian tersebut disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) untuk tahun buku 2020, di pabrik Plant II, Serang, Banten dengan penerapan protokol kesehatan COVID-19 yang sangat ketat, termasuk persyaratan hasil tes negatif dua lapis sebelum diperbolehkan memasuki ruang rapat dengan jumlah pemegang saham yang hadir langsung dibatasi. [irp] Hasil laba bersih PT Arwana Citramulia Tbk ini dapat dicapai berkat margin yang meningkat dari 10,02 persen menjadi 14,6 persen, ditopang antara lain oleh pemakaian bahan baku dan energi yang lebih efisien, strategi product mix yang mampu memperbaiki harga jual rata-rata, peningkatan jumlah pelanggan, serta kebijakan penurunan harga gas bagi industri keramik dari pemerintah. Per unit produksinya, pemakaian glaze tercatat turun 3,34 persen, pemakaian gas turun 6,45 persen. Sementara jumlah pelanggan pada tahun 2020 naik 10,84 persen dibandingkan tahun 2019. Pada tahun buku 2020 juga, PT Arwana Citramulia Tbk mencatatkan rekor volume penjualan bulanan tertinggisepanjang sejarah perusahaan, yaitu pada bulan Oktober dengan hasil 5,56 juta meter persegi. Rekor-rekor penjualan bulanan lain juga mampu dicatat pada tahun itu. Hasil-hasil tersebut sangat menggembirakan, karena justru bisa dicatat pada masa pandemi COVID-19 yang penuh tantangan di mana tingkat utilisasi industri keramik hanya mencapai 56 persen dari kapasitas produksi. [irp] Dividen tunai Rp30,00 per lembar saham akan dibagikan dengan total nilai mencapai Rp217,67 miliar, atau sekitar 67 persen dari total laba bersih yang diraih, sebagai wujud komitmen untuk memberikan imbal hasil yang baik atas investasi yang dipercayakan para pemegang saham. PT Arwana Citramulia Tbk juga telah menyelesaikan pembangunan pabrik Plant 5B di Mojokerto, Jawa Timur. Pabrik baru dengan mesin-mesin termutakhir ini akan memproduksi lini produk baru glazed porcelain tile dengan kapasitas terpasang 3 juta meter persegi per tahun. Produk dari pabrik ini akan diluncurkan dengan brandbaru “ARNA”. [irp] “Dengan kehadiran Plant 5B ini, untuk tahun 2021, PT Arwana Citramulia Tbk menargetkan pertumbuhan volume penjualan sebesar 10 persen, dan pertumbuhan laba bersih menjadi Rp420 miliar,” ujar Chief Operating Officer PT Arwana Citramulia Tbk, Edy Suyanto. Jajaran direksi dan komisaris perusahaan meresmikan penyelesaiannya dengan seremoni penyalaan mesin kiln pada tanggal 22 Februari 2021, bertepatan dengan hari ulang tahun ke-28 PT Arwana Citramulia Tbk. [irp] Sedangkan pada tanggal 4 Maret 2021, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto meresmikan Plant 4B di Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Meski tahun lalu sudah beroperasi, peresmiannya baru dapat terlaksana tahun ini karena pandemi. “PT Arwana Citramulia Tbk juga berancang-ancang melanjutkan ekspansi. Pabrik baru rencananya akan dibangun dalam waktu dua tahun ke depan untuk meningkatkan total kapasitas terpasang perusahaan hingga mencapai 71 juta meter persegi per tahun,” ujar Edy yang juga Ketua Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI).
Larangan Gunakan Keramik Impor, Asaki Nantikan Langkah Konkret Pemerintah
BAHAN BANGUNAN – Kebijakan Substitusi impor yang diharapkan menjadi langkah pemerintah dalam menekan impor, bisa membantu menekan defisit neraca dagang, selain itu kebijakan yang pro ekspor dengan dukungan sektor keuangan bisa mendorong ekonomi kearah yang lebih positif. Disisi lain para pelaku usaha di industri keramik dalam negeri masih menantikan kehadiran beleid yang mengatur pelarangan penggunaan barang impor dalam proyek properti dan konstruksi pemerintah. Pasalnya, penerapan aturan tersebut disinyalir dapat memberikan angin segar bagi pelaku industri keramik dalam negeri, demikian diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto. [irp] ”Penerapan aturan tersebut disinyalir dapat memberikan sejumlah angin segar bagi pelaku industri keramik dalam negeri,”ujarnya dalam keterangan pers yang diterima redaksi. Asaki, tambah Edy, mengharapkan atensi serius dan langkah konkret dari Pemerintah sesuai Misi Besar Kemenperin untuk Substitusi Import, dimana sesuai data dan statistik angka produk Import keramik dari China, India dan Vietnam menunjukkan trend semakin meningkat dengan defisit perdagangan export import keramik dari tahun ke tahun semakin membesar. Bahkan dari Data BPS menunjukkan besar Defisit sudah mencapai 1,1 Milyard USD untuk kurun waktu 2015-2020. [irp] Asaki menilai penerapan Instrumen BMTP/Safeguard sejak thn 2018 dan akan berakhir di Okt 2021 ini tidak cukup Efektif menahan import. Terbukti dari besarnya Defisit Perdagangan Export Import sejak tahun 2018-2020 sebesar 655jt USD. Jauh lebih tinggi dibanding defisit tahun 2015-2018 sebesar 453jt USD. Edy Suyanto mengungkapkan ada beberapa penyebab SG kurang efektif, diantaranya karena adanya unfair trade seperti Pemberian tax refund export keramik oleh Pemerintah China, penipisan ketebalan keramik yang secara tidak langsung penurunan kualitas produk untuk mengejar efisiensi biaya pengiriman. Kemudian adanya indikasi praktek dumping dimana harga jual keramik import pasca Safeguard justru sedikit lebih rendah dibanding sebelum penerapan SG dan indikasi transhipment dari Malaysia untuk produk-produk dari China dan Vietnam. [irp] “Asaki saat ini sedang mengajukan perpanjangan Safeguard yang akan berakhir di Oktober 2021 dengan besaran bea masuk harus lebih besar minimal 35-40% dibanding sebelumnya 19%-23%,” ujarnya. Adanya Gangguan serbuan produk Import keramik jenis Homogeneus Tiles ini, tentunya menyebabkan idle capacity sebesar 56% untuk industri keramik sejenis domestik. Untuk mempertahankan momentum pemulihan dan kebangkitan industri keramik pasca penurunan harga gas, Asaki mendesak langkah-langkah konkret perlindungan dan penguatan industri keramik yang segera seperti Pembatasan Pelabuhan Import Tertentu dan Penetapan Minimum Import Price. [irp] “Industri Keramik Nasional harus mendapatkan atensi khusus terlebih sebagai industri strategis yang menyerap jumlah tenaga kerja cukuo besar lebih dari 150.000 orang dan dengan TKDN yang tinggi rata-rata diatas 75%,”paparnya. Asaki optimis mampu bangkit kembali kembali ke masa kejayaan industri keramik di tahun 2013 sebagai Big Five Top Ceramic Manufacturing Countries jika mendapatkan dukungan dan atensi dari Pemerintah. Tahun 2021 Asaki memproyeksikan utilisasi kapasitas produksi berkisar di level 74%-75% meningkat cukup baik dibanding tahun 2020 56% dan tahun 2019 65%.
Industri Keramik Merosot Hingga 40%, ASAKI Minta Sejumlah Stimulus
BAHAN BANGUNAN – Industri keramik turut merasakan imbas dan dampak buruk dari pandemi Covid-19. Oleh karena itu, para pelaku usaha bidang ini menginginkan dukungan dari pemerintah agar tetap bertahan saat ini. Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) Edy Suyanto mengatakan, saat ini utilisasi kapasitas produksi nasional sangat drop di bawah 40%, dan ini merupakan terendah yang pernah terjadi selama ini akibat pandemi Covid-19. Menurut dia, lebih dari 10.000 karyawan dengan terpaksa dirumahkan sejak awal April bahkan diperkirakan bisa lebih dari 15.000 hingga Mei 2020 ini. [irp] Oleh karena itu, kata Edy, ASAKI ingin menindaklanjuti Kepmen ESDM no. 89 Tahun 2020 yang telah meminta Perusahaan Gas Negara (PGN) untuk melakukan perubahan Perjanjian Jual Beli Gas Bumi (PJBG) yang berkaitan dengan penurunan harga gas. ASAKI berharap PGN bisa segera mengakomodir permintaan tersebut dan menjalankan Permen ESDM no. 8 thn 2020. “ASAKI meyakini jika kebijakan penurunan harga gas ini dilakukan, maka akan sangat membantu untuk menyelamatkan industri keramik dan mempercepat pemulihan industri keramik di kuartal ketiga tahun 2020,” ujar Edy Suyanto kepada propertynbank.com, Jumat (1/5) kemarin. [irp] Lebih lanjut dikatakan Edy Suyanto, ASAKI juga sangat mendukung adanya usulan stimulus untuk industri dari Kemenperin yang mengatakan bahwa pembayaran gas yang menggunakan kurs tengah dolar Amerika U$D, dipatok di angka Rp 14.000,-, supaya stimulus penurunan harga gas tersebut bisa berjalan optimal untuk peningkatan daya saing industri. Edy menambahkan, biasanya puncak permintaan keramik setiap tahun adalah saat menjelang hari Raya Idul Fitri dan jelang bulan Agustus hingga akhir tahun. Namun karena adanya pandemi Covid-19, maka tahun ini permintaan keramik durun drastis. Kondisi ini semakin parah karena adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang membuat hampir semua toko keramik terlaksa tutup. [irp] “ASAKI sangat menyayangkan kebijakan tersebut karena saat ini masih ada permintaan kebutuhan keramik dari proyek-proyek renovasi dan pembangunan rumah baru swadaya, yang sudah direncanakan pemakaian keramiknya di bulan April dan Mei menjelang hari raya Idul Fitri. Jadi ibaratnya saat ini sudah jatuh tertimpa tangga,” tukas Edy. Selain itu, ASAKI kata Edy juga mengharapkan insentif berupa diskon tarif Waktu Beban Puncak 2 (WBP2) secara penuh dari total pemakaian karena hal tersebut akan membantu meningkatkan daya saing industri keramik dimana komponen biaya listrik rata-rata berkisar 8-10% dari total biaya produksi keramik. [irp] “Saat ini diskon tarif PLN untuk pemakaian listrik di jam tertentu yaitu WBP2 (23.00-06.00), ini tidak terlalu memberikan dampak positif karena diskon tarif WBP2 hanya dihitung dari selisih kenaikan pemakaian listrik di WBP2. Sedangkan dari awal sebelum kebijakan diskon tarif di WBP2 dijalankan semua industri keramik sudah berproduksi 24 jam sehari,” ungkap Edy. Sementara menanggapi ramainya impor keramik dari berbagai negara, Direktur PT. Arwana Citramulia Tbk ini mengatakan, ASAKI sangat mengharapkan aksi cepat dari Kemenkeu untuk segera mengeluarkan aturan untuk mengeluarkan keramik asal India dan Vietnam dari daftar negara yang dikecualikan pengenaan (Bea Masuk Tindakan Pengamanan) BMTP. [irp] Data dari Biro Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa angka impor keramik dari India tahun 2019 lalu meningkat 12x lipat dan impor Vietnam naik 32%. Sedangkan data Januari dan Februari 2020, kembali meningkat 145%. “Harapan kami, setelah selesai wabah Covid-19 stimulus dan kebijakan yang diambil dapat membantu menekan angka impor keramik dari China, India dan Vietnam,” pungkas Edy Suyanto.
Gairah Baru Pengembang Medan dan Industri Keramik Pasca Pemilu
APA KABAR – Pembaca yang Budiman. Apa kabar Anda? Semoga semuanya berjalan sesuai dengan harapan dan doa Anda, amiin. Edisi ini, kembali kami mengunjungi dengan semangat ruang baca Anda. Karena rahmat Allah dan dukungan Anda, kami masih tetap hadir menyampaikan berbagai informasi, analisa dan inspirasi. Tentu saja dengan harapan pembaca setia Majalah Property&Bank mendapatkan manfaat yang besar dari sejumlah liputan kami. Tampil dengan dual cover, kami menurunkan Laporan Utama tentang kondisi perkembangan industri keramik di tanah air, khususnya keramik lantai dan genteng keramik. Sisi lain, masih terkait Laporan Utama, kami mengulas gairah baru pengembang asal Sumatera Utama, Medan. [irp] Masih belum stabil dihadang dengan harga gas yang melambung tinggi, kini industri keramik dan ubin dalam negeri kembali dihadapkan dengan membanjirnya produk keramik impor. Disaat yang sama industri properti juga masih belum bangkit. Gejolak naik turun kurs rupiah serta turunnya bea masuk impor membuat Industri ini sulit berkembang pesat. Tak ajal hal ini membuat kian merajalelanya keramik impor di pasar lokal. Para produsen keramik lokal harus berusaha meningkatkan daya saing, disamping berharap dukungan dari pemerintah. “Keberpihakan pada industri dalam negeri yang ditunjukkan pemerintah ikut andil dalam kembali menguatnya produksi keramik tanah air,” tegas Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto. [irp] Spirit ini lah yang membuat Majalah Property&Bank edisi ini terpanggil untuk mendorong industri keramik dalam negeri untuk kembali menjadi “juragan” di negeri sendiri. Melalui sederet rapat pembahasan internal redaksi dan dilanjutkan dengan pengurus Asaki, jadilah tema ini kami angkat menjadi Laporan Utama edisi ini. Semoga bisa menjadi motivasi buat kita semua. Masih sebagai motivasi, kami juga menurunkan semangat baru dari Medan, Sumatera Utama. Meski merasakan rendahnya penjualan properti secara umum, tidak membuat semua pelaku bisnis perumahan di Medan bertekuk lutut. Usai agenda Pilpres dan Pileg yang dilakukan serentak pada 17 April 2019 lalu, denyut nadi industri properti di kota ini kembali bergairah kembali. [irp] Pembangunan infrastruktur seperti jalan tol di Sumatera Utama, merupakan salah faktor yang membuat sektor properti di Medan akan kembali tumbuh cepat. Pembangunan itu sudah selesai dan mulai digunakan, yang berpengaruh terhadap kawasan sekitar dan akan membuat tumbuh kawasan-kawasan baru dan mendorong segmen pasar menengah atas di kota Medan tetap tumbuh. Salah satu pengembang yang optimis melihat pasar perumahan di Medan adalah Samera Propertindo. Tetap konsisten membangun perumahan kalangan menengah, mereka terbukti mampu membukukan penjualan dengan baik. Bagaimana strategi cerdik yang mereka lakukan? Apa keunggulan produk perumahan yang mereka tawarkan? Baca artikel lengkapnya di Property&Bank edisi ini. Pemimpin Redaksi Property&Bank Ir. Indra Utama
Keramika 2015 Siap Memamerkan Perkembangan Tekhnologi Terbaru
Properti-Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) beserta Reed Panorama Exhibitions menggelar pameran Keramika 2015 di Jakarta Convention Center, Senayan. Acara tersebut diresmikan oleh Menteri Perindustrian Republik Indonesia bapak Saleh Husin dan akan berlangsung selama empat hari mulai dari tanggal 19 Maret hingga 22 Maret 2015. Keramika 2015 diikuti lebih dari 60 nama besar pelaku industri keramik dalam negeri dan luar negeri yang siap memamerkan perkembangan produk jadi hingga bahan baku berkualitas lokal maupun interlokal. Adapun beberapa pemain besar keramika baik dari dalam negeri maupun liar negeri yang turut serta dalam acara tersebut antara lain Arwana, Centro, Indogress, Kanmuri, KIA, Mulia, Milan, Niro, Roman, Toto, System, Torrecid, Colorobbia, Esmalglass, Ferro, M-Clas, dan Acimac. Selain Indonesia, beberapa negara lain yang turut serta menampilkan produk dan jasa tambahannya. “Mudah-mudahan penyelenggaraan Keramika 2015 ini mampu menjadi jendela bagi industri keramika Indonesia untuk menginformasikan dan mempromosikan produk-produk terbaiknya kepada pasar lokal dan Internasional, karena melalui acara ini pasar bisa melihat seluruh perkembangam baik tekhnologi, design maupun mutu keramik Indonesia secara langsung,” ujar Elisa Sinaga selaku ketua ASAKI. Dalam penyenggelaraan Keramika 2015 telah mengadakan lima program baru yang diharapkan akan menciptakan peluang bisnis dan memberikan pengalaman bagi peserta pameran, pembeli dan pengunjung. Pertama, Keramika Forum yang akan mendiskusikan peluang dan tantangan di industri keramik. Kedua, Bisinnes Matching Program agar para pembeli dapat bertemu dengan para peserta pameran Internasional. Ketiga, Ceramic Designer Challenge dibuat untuk mendorong desainer Indonesia untuk mengekspresikan kreativitas dan talenta. Keempat, Ceramic Factory Sale di mana pembeli dan pengunjung dapat membuat transaksi. Kelima, Design Week 3.1 program tahunan yang ditunjukan untuk seluruh arsitek yang di adakan oleh IAI Jakarta.