PNB_Back_Up

Harris Hotel & Convention Serpong Gelar Topping Off, Mulai Beroperasi Awal 2026

Harris Hotel & Convention Serpong

Propertynbank.com – Pembangunan Harris Hotel & Convention Serpong yang berlokasi di Summarecon Serpong, sudah memasuki tahap akhir, dengan dilakukannya Topping Off Ceremony, hari Senin, 14 Juli 2025 lalu. Rencananya, hotel ini akan diresmikan dan mulai beroperasi pada bulan Januari 2026 mendatang. Hotel ini berlokasi strategis di Jalan Bulevar Raya Gading Serpong dan terintegrasi langsung dengan Summarecon Mall Serpong. Dengan dibangunnya hotel ini, maka akan melengkapi portofolio unit bisnis hospitality yang dikembangkan Summarecon. President Director Summarecon, Adrianto P. Adhi, mengatakan, sebagai Pengembang dengan pengalaman selama 50 Tahun, pembangunan hotel ini merupakan bentuk komitmen Summarecon dalam melengkapi pengembangan kota terpadu Summarecon Serpong dengan berbagai fasilitas agar kawasan ini semakin bernilai dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. “Summarecon Serpong yang saat ini semakin vibrant dengan aktivitas bisnis dan juga aktivitas-aktivitas lainnya, maka kehadiran fasilitas Hotel menjadi sebuah kebutuhan. Harris Hotel & Convention Serpong menjadi hotel ke-5 yang masuk dalam portofolio bisnis perhotelan Summarecon dan diharapkan kehadiran hotel ini akan mampu memperkuat recurring income perusahaan,” kata Adrianto dalam keterangannya, Rabu (16/7). Baca Juga : Penjualan 9 Kota Terpadu Meningkat, Pendapatan Summarecon di 2024 Tumbuh 59,5 Persen Hadir dalam prosesi Topping Off, Soegianto Nagaria selaku Director Summarecon. Kegiatan seremoni juga ditandai dengan penanaman paku emas dan penutupan lantai terakhir yang disaksikan oleh Jajaran Komisaris dan Direksi PT Summarecon Agung Tbk. Prosesi ini juga dihadiri oleh Jajaran Direksi The Ascott Limited selaku operator hotel, kontraktor, konsultan, serta jajaran manajemen Summarecon Serpong dan Summarecon Mall Serpong. Tentang Harris Hotel & Convention Serpong Hotel ini dibangun di atas lahan seluas 5.289 meter persegi, memiliki 18 lantai dan 1 basement. Nantinya, hotel ini akan beroperasi dengan kapasitas total 282 kamar yang terdiri dari tipe Standard, Junior Suite, dan Suite. Dilengkapi dengan beragam fasilitas lengkap dan nyaman di antaranya Ballroom, Meeting Room, Restaurant, Fitness & Gym, Reflexology & Spa, Kids Club, Kolam Renang, Executive Lounge, dan Sky Roof Top Bar di lantai teratas gedung yakni sebuah bar dan resto dengan view kota Serpong. Baca Juga : Summarecon Serpong Bukukan Penjualan Rp 300 miliar Dari City Hub Commercial Hotel terbaru di kawasan Summarecon Serpong ini memiliki keunggulan dengan akses yang terhubung langsung dengan Summarecon Mall Serpong, sehingga memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi pengunjung hotel maupun pengunjung mall. Bekerjasama dengan Pradita University, hotel ini mengusung konsep New Harris Generation (Stay Bright), yang merupakan program untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia baik dari Harris Hotel maupun siswa didik di Pradita University.

Kebijakan Efisiensi Masih Berlanjut, Hotel Mencari Celah Pasar Baru

POP Hotel Sangaji, industri hotel

Propertynbank.com – Dampak dari kebijakan efisiensi pemerintah, membuat pengeluaran anggaran daerah lebih ketat yang mencakup diantaranya perjalanan dinas, kunjungan studi, seminar, dan diskusi kelompok terarah, terasa cukup signifikan, terutama bagi hotel yang sangat bergantung terhadap pasar pemerintah. Akibat dari kebijakan efisiensi pemerintah, telah mendorong para pelaku industri perhotelan untuk menerapkan langkah efisiensi mereka sendiri agar tetap bisa beroperasi. Pekerja harian di hotel mengalami pengurangan jam kerja, dan karyawan diminta untuk mengambil cuti atau cuti tanpa dibayar guna menekan biaya operasional akibat tamu yang sepi. Tidak hanya di Jakarta, kebijakan efisiensi pemerintah juga berdampak pada hotel-hotel di Bali, khususnya yang bergantung pada pasar MICE. Berkurangnya kegiatan MICE, terutama yang berskala internasional, menjadi tantangan bagi hotel-hotel yang berfokus pada pasar ini. Aktivitas korporat juga mengalami penurunan akibat kebijakan efisiensi yang berkaitan dengan pemerintah. Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia, mengatakan, sebagai dampak dari efisiensi ini, para pelaku industri perhotelan juga harus efisien, menyesuaikan diri dengan kondisi pasar. Namun, diperkirakan kinerja hotel di Jakarta akan kembali normal pada pertengahan Juni, mengingat bulan April dan Mei dipenuhi oleh hari libur nasional yang dapat mengganggu aktivitas bisnis. Baca Juga : Pendapatan INPP Tumbuh 9,1 Persen, Perhotelan dan Komersial Kontributor Terbesar “Kinerja hotel di Bali juga diperkirakan akan membaik pada kuartal kedua. Namun, kebijakan efisiensi dan menurunnya daya beli masyarakat perlu menjadi perhatian. Tiket pesawat domestik, yang sering kali lebih mahal dibandingkan tiket internasional, dapat mengurangi minat wisatawan domestik untuk berlibur,” ujar Ferry. Pelaku industri perhotelan, sambung dia, harus mencari pasar alternatif selain pasar pemerintah, karena belum ada tanda-tanda pelonggaran kebijakan efisiensi dari pemerintah. “Jika kondisi ini terus berlanjut, peningkatan kinerja pada kuartal kedua mungkin tidak akan signifikan, sehingga semakin mempersulit para pelaku industri perhotelan di masa mendatang,” pungkasnya.

Pasokan Meningkat, Banyak Hotel Baru Di Jakarta

jll, mice

Propertynbank.com – Industri properti di Indonesia menunjukkan perkembangan yang signifikan, terutama di sektor bisnis hotel dan apartemen sewa. Berdasarkan laporan terbaru dari Leads Property Indonesia, pasokan hotel dan apartemen sewa di Jakarta meningkat pada kuartal III tahun 2024. Data yang di rilis oleh Leads Property Indonesia menyebutkan total pasokan mencapai 56,576 kunci kamar di 315 hotel pada kuartal berjalan. Penambahan baru datang dari hotel Bintang 3, Nemuru Grand Suites Hotel di MT. Haryono, menambahkan lagi 90 kunci kamar baru ke pasar. Kondisi ini sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Beberapa hotel baru masih dijadwalkan dibuka sepanjang sisa tahun ini. Hotel-hotel terkenal yang akan datang termasuk 25Hours Hotel The Oddbird Jakarta dan PARKROYAL Hotel Jakarta. Baca Juga : Kuartal III 2024, Permintaan Ruang Kantor Di Jakarta Naik Associate Director Research & Consultancy Services Leads Property Martin Samuel Hutapea mengatakan, Jakarta mencatatkan 545.100 pengunjung internasional dalam dua bulan pertama kuartal berjalan, peningkatan sebesar 28,7% YoY, yang menunjukkan berlanjutnya pertumbuhan pasar pariwisata Jakarta terutama untuk tujuan bisnis. ”Tiongkok Daratan terus menjadi sumber pengunjung asing, memimpin dengan 99.289 pengunjung, diikuti oleh kontribusi signifikan dari Malaysia, Singapura, Jepang dan Arab Saudi, sebagai lima besar,” ungkap Martin. Okupansi Hotel di Jakarta Rata-rata tingkat hunian pada kuartal ini meningkat sebesar 3,7 poin persentase dibandingkan kuartal sebelumnya, mencapai 62,9%. Kenaikan ini didorong oleh kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Conference, dan Exhibition) yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta, seiring dengan pemulihan aktivitas dunia usaha pasca pemilu. Selain itu, beragam acara seperti konser musik, konferensi, dan pameran turut memberikan dampak positif terhadap tingkat okupansi hotel di Jakarta. Baca Juga : Tak Ada Proyek Baru, Pasar Kondominium di Jakarta Kuartal III 2024 Stagnan Sentimen positif terus mendorong sektor perhotelan di Indonesia, berkat upaya pemerintah yang mempromosikan Indonesia sebagai salah satu destinasi investasi unggulan. International Tourism Investment Forum 2024 dengan tema “Invest In Wonderful Indonesia” mengundang para investor untuk berkontribusi dalam pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Secara khusus, indeks pariwisata Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan, naik ke peringkat 22 pada tahun ini dari posisi 32 pada 2021. Dengan perkembangan ini, sektor perhotelan diperkirakan akan tetap solid hingga akhir tahun. Pasokan Apartemen Sewa Sementara itu, pada kuartal ini, sebuah proyek apartemen sewa baru mulai beroperasi dengan menghadirkan 148 unit serviced residence di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Properti ini dikelola oleh Somerset Kencana, yang merupakan bagian dari merek Ascott. Dengan penambahan ini, pasokan kumulatif apartemen sewa meningkat menjadi 10.444 unit. Dari sisi lokasi, sebagian besar apartemen sewa masih terkonsentrasi di kawasan Jakarta CBD dengan porsi 48%. Namun, tingginya kenaikan harga lahan di pusat kota mendorong pengembang untuk mencari peluang di luar CBD (OCBD), terutama di kawasan Jakarta Selatan, yang mencatat kontribusi sebesar 33%. Baca Juga : Insentif PPN Belum Mampu Dorong Penjualan Kondominium, Pengembang Wait and See Martin menyebutkat mayoritas penghuni apartemen sewa masih berasal dari kalangan korporasi asing, karena sebagian besar karyawan mereka membutuhkan hunian dengan fasilitas lengkap dan kontrak jangka panjang. Untuk memenuhi kebutuhan ini, para pemilik properti menawarkan fasilitas dan layanan setara hotel, sehingga menjadi pilihan yang lebih menarik dibandingkan kondominium standar. Hal ini mendorong permintaan kumulatif hingga mencapai 6.685 unit. ”Selain klien korporat, apartemen sewa juga semakin diminati oleh wisatawan jangka pendek, terutama yang bepergian bersama keluarga. Keunggulan berupa tata ruang yang luas, termasuk fasilitas dapur dan ruang tamu terpisah, menjadi daya tarik utama bagi kelompok tamu ini,” ungkap Martin. Dalam hal pasokan di masa depan, pasar diperkirakan akan mengalami lonjakan pasokan baru, dengan setidaknya 743 unit pada tahun 2025. Ke depan, pasokan baru mungkin tidak hanya berasal dari gedung yang baru dibangun, tetapi juga dari konversi apartemen strata yang tidak terjual menjadi serviced residence. Strategi ini akan memberikan cara yang lebih efisien dari segi biaya untuk memperluas portofolio properti sambil meminimalkan pengeluaran modal akibat tingginya biaya pembangunan dan harga tanah. Antisipasi terhadap masuknya ekspatriat juga akan diperhitungkan, mengingat negara ini mengharapkan lebih banyak investasi asing untuk mendorong perekonomian di bawah pemerintahan presiden yang baru. (Laporan Rafi)

Metland Incar Investor Asing Dengan Venya Villa Ubud

Metland

Propertynbank : PT. Metropolitan Land Tbk, kembali memanjakan para investor properti dengan mengoperasionalkan Venya Villa Ubud tahap pertama, yang sempat terhenti karena Covid-19. Venya Villa Ubud merupakan bagian dari resort Metland Venya Ubud yang dikembangkan diatas lahan seluas  5 ha ini sebelumnya bernama Royal Venya Ubud. Penggantian nama tersebut seiring rencana Metland melakukan konsolidasi unit hotel milik perusahaan di bawah payung Metland Hotel Group. Ke depan untuk penamaan untuk pengembangan hotel-hotel baru akan menggunakan nama Metland yang konfigurasinya akan disesuaikan dengan kelas hotelnya. Metland Venya Ubud sendiri memberi tambahan portofolio Metland di kelas menengah atas, sebagai sumber pendapatan berulang. Seperti yang ungkapkan Wahyu Sulistio, Direktur PT Metropolitan Land Tbk,”bahwa  penggunaan nama metland ini sejalan dengan strategi perusahaan untuk memperluas jaringan hotel kami. Selain itu juga untuk memperkuat identitas dan brand Metland di masyarakat,”jelasnya saat menemani sejumlah media yang berkunjung ke  Metland Venya Ubud, Bali (28/09/2024). Metland Venya Ubud merupakan komplek suites dan villa yang berada di lembah sungai Wos Desa Kelabang Moding, Ubud, Bali. Resor ini dikelilingi oleh vegetasi alami Ubud, dan dirancang sesuai dengan kontur alami lokasi, sehingga tamu masih bisa menikmati keindahan dan keheningan alami khas salah satu destinasi wisata di Bali ini. Dengan desainnya yang unik, resor ini berhasil meraih penghargaan pada Indonesia Property Awards 2024 sebagai Best Hotel & Resort Development. Lebih jauh dijelaskan Wahyu, untuk tahap pertama, telah dioperasikan sejumlah 21 suites dan 19 unit villa, dari 54 54 unit yang akan terus dikembangkan. Metland Venya Ubud dilengkapi dengan berbagai fasilitas premium seperti Jinengku Pool and Bar, wedding chapel, co-working space, Baas Restaurant and Lounge, Venya Spa,  dan reflecting pond temple, yang semuanya didesain berpemandangan alam yang memukau. Beberapa fasilitas tersebut ada yang dibangun di lembah yang bisa dicapai dengan menuruni tangga atau funicular (inclinator lift) yang dirancang menarik. Prospek Wisata Ubud “Bali masih menjadi destinasi primadona wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Hal ini mendorong Metland untuk melanjutkan pembangunan suites dan villa mewah yang memiliki pemandangan alam yang indah dan dikelilingi pepohonan sehingga memberikan rasa tentram dan sejuk,” ucap Wahyu. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang datang langsung ke Bali periode Januari – Juli 2024 mencapai 3.553.947 sedangkan tahun 2023 periode Januari – JuIi 2023 berjumlah 2.896.526, artinya meningkat sekitar 22,7% dibandingkan tahun lalu. Berdasarkan catatan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) Bali, menunjukkan bahwa investasi asing di Bali juga mengalami pertumbuhan yang signifikan. Untuk Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp2,66 triliun pada kuartal I 2023. Dengan tingginya kunjungan wisatawan internasional dan aliran investasi yang terus tumbuh, prospek sektor pariwisata dan bisnis penginapan mewah di Bali semakin cerah. Hal ini tentunya membuka peluang baru bagi pengembangan ekonomi di pulau tersebut. Selain wisman untuk menginap, Venya Villa Ubud juga menyasar pasar asing untuk berinvestasi, dengan proyeksi Return of Investment (ROI) sebesar 8-12% per tahun dengan jaminan 8% di dua tahun pertama. Pengembalian investasi akan terus berlanjut selama operasional hotel berjalan, setelah selesai masa garansi dua tahun pertama. Melihat potensi pasar wisata Bali terutama Ubud, Metland memproyeksikan hasil sewa dari per tahunnya akan tetap stabil dan diharapkan akan naik di tahun-tahun berikutnya, seiring dengan laju inflasi dan pengaruh demand-supply di pasar penginapan mewah di Bali. Sebagai produk investasi, Venya Villa Ubud ditawarkan dengan kepemilikan long leased selama 25 tahun dan dioperasikan penuh oleh Metland Venya Ubud. Vila-vila tersebut dipasarkan dengan harga mulai dari Rp 3 miliar, sementara tarif sewanya mulai dari Rp 5 juta per malam. Venya Villa Ubud menawarkan enam tipe, yang semuanya dilengkapi dengan plunge/private pool. Saat ini tersedia tipe satu kamar dan dua kamar tidur, yang bangunannya dibuat berundak sesuai dengan kontur tanahnya. “Venya Villa Ubud merupakan pilihan tepat bagi investor karena Metland memiliki pengalaman selama 30 tahun di bidang properti. Kami optimis Metland Venya Ubud akan menjadi ikon baru di wilayah Ubud dan dapat menjadi pilihan tempat menginap bagi wisatawan mancanegara dan domestik,” ucap Nitik Hening, Direktur PT Metropolitan Land Tbk.

Prospek Investasi Cerah, Hanaya Land Bangun Hotel Budget Di Bintaro

Hanaya

Propertynbank : Kawasan Bintaro, Tangerang masih menjadi pilihan utama pengembangan properti, termasuk perhotelan untuk berinvestasi di lokasi tersebut. pasalnya kawasan yang berada di Selatan Jakarta ini memiliki daya tarik tersendiri. Selain pertumbuhan penduduk yang pesat, pergerakan bisnisnya yang tinggi, juga diikuti dengan pertumbuhan infrastruktur, jalan utama dan jalan tol yang terus digalakkan menjadi alasan kawasan ini menarik bagi masyarakat, tidak hanya untuk tempat tinggal, tapi juga menjadi sarana investasi yang menguntungkan. Melihat potensi tersebut, juga dilirik Hanaya Land  dengan membangun sebuah hotel Hanaya Suite Room, dengan konsep boutique hotel. Novrian Carnegie, Owner Hanaya Land mengatakan, “Sebagai kawasan bisnis dan komersial yang terus tumbuh, Bintaro sangat memikat para pebisnis maupun investor. Karena itu, kami akan membangun sebuah kawasan hotel dengan konsep yang berbeda dengan hotel-hotel lainnya,”ujarnya saat seremoni groundbreaking pembangunan hotel Hanaya Suite Room, Rabu (25/09/2024). Hotel yang akan dibangun di atas lahan seluas 1300 m² ini, ditargetkan rampung pada 2025 diharapkan membuka peluang bagi masyarakat untuk ikut berinvestasi di sektor properti. Dengan menawarkan berbagai tipe unit, proyek ini menjanjikan keuntungan jangka panjang. Dijelaskan Novrian, bahwa konsep hotel yang akan dibangun berupa unit-unit rumah dengan tipe dua lantai dengan 3 kamar, dan tipe tiga lantai terdiri dari 6 kamar. “Jadi calon investor yang membeli unit hunian tersebut, akan dikelola dan dioperasikan sebagai layaknya hotel,” jelasnya. Unit-unit hunian tersebut di tawarkan dengan harga mulai dari Rp 1 M hingga Rp 1,9 M, konsumen ataupun investor sudah memiliki sebuah hotel. “Harga tersebut sudah termasuk Sertifikat Hotel yang super lengkap,”tutur Novrian. Dengan konsep baru ini, tambah novrian, investor akan mendapat banyak keuntungan yang berganda, seperti status kepemilikan unit berupa SHM, mendapat fasif income dari penyewaan kamar yang dikelola sebagai Hotel. Bahkan dapat membeli 2 hingga lebih unit yang diinginkan. Dengan memiliki unit hunian yang dikelola sebagai hotel, investor akan dapat menikmati keuntungan dari hasil pengelolaan hotel oleh Escotel. Hal senada juga diungkapkan Lido De Rio , konseptor Hanaya Suite Room yang mengungkapkan bahwa selama ini, bisnis hotel ini hanya bisa disentuh kalangan atas. Dengan hadirnya Hanaya Suite Room ini, kami memberikan kesempatan yang seluasnya bagi seluruh lapisan masyarakat  untuk ikut dalam bisnis hotel yang sudah dipastikan akan mendatangkan income yang besar. “Lewat konsep cluster atau komplek perhotelan ini, semua lapisan masyarakat bisa ikutan investasi, cukup dengan Rp 1 miliaran saja, sudah bisa dapat 1 unit rumah hotel yang nantinya akan di kelola oleh operatorl hotel profesional yakni Escotel Hotel,”jelasnya. Lebih jauh dikatakan Lido, melalui skema ini pula, investor bisa memiliki asetnya  dengan stastus kepemilikan SHM, bahkan bisa diwariskan ke anak cucu tanpa perlu perpanjangan-perpanjangan. Mengenai Capital Gain ini, Novrin mengatakan, “Kalau capital gain hunian yang ada di Bintaro saja bisa mencapai ± 20%. Apa lagi kalau ada bisnis di atasnya. Dengan dikelola menjadi hotel, saya optimis capital gain bisa lebih dari 20 %. Terlebih saat incomenya sudah optimal biasanya dicapai di tahun pertama sampai tahun kedua,  Sehingga evaluasi dari hotelnya bisa naik langsung bahkan dua kali lipat, bahkan sangat memungkin dalam 1 tahun bisa naik hingga 30%-50%,”paparnya optimis. Tidak hanya memiliki lokasi strategis saja yang menjadi nilai lebihnya, Hanaya Suite Room juga memiliki fasilitas yang super lengkap di area kamar sebagai penunjang kebutuhan para penghuni apartemen. Di sini tersedia berbagai fasilitas mulai dari parkir, kolam renang, gym area, dan fasilitas pendukung lainnya. Proyek  hotel ini merupakan jawaban atas kebutuhan masyarakat. Untuk itu Hanaya Suite Room menawarkan skema baru investasi perhotelan yang lebih terjangkau untuk semua kalangan. “Kita menargetkan kelas menengah yang sedang mempersiapkan masa pensiunnya, serta karyawan yang memerlukan pasif income karena tidak ada waktu untuk berbisnis,”pungkasnya.

Kinerja Hotel Pada Paruh Kedua Tahun 2024 Diperkirakan Meningkat

kinerja hotel

Propertynbank.com – Tingkat hunian dan kinerja hotel di Jakarta diproyeksikan akan terus membaik terutama pada kuartal ketiga hingga pertengahan kuartal keempat 2024. Menurut Ferry Salanto, Head of Research, meskipun ada kemunduran di awal, bisnis hotel mulai membaik pada kuartal kedua 2024. Diperkirakan sektor hotel akan terus menguat pada paruh kedua 2024, terutama dengan meningkatnya aktivitas bisnis. “Acara-acara besar biasanya direncanakan jauh-jauh hari, di mana biasanya hotel menawarkan tarif khusus yang kompetitif guna menarik tamu. Praktik ini juga berlaku untuk acara kelompok, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun entitas korporat, di mana hotel memberikan harga kompetitif berdasarkan jumlah peserta. Selain pendapatan dari kamar, hotel juga menghasilkan pendapatan tambahan dari sektor seperti F&B serta housekeeping,” jelas Ferry. Sementara untuk pasar hotel di Surabaya, Colliers memproyeksikan bahwa pada paruh kedua tahun 2024, kinerja hotel di Surabaya akan menunjukkan perbaikan secara bertahap, meskipun dengan prospek pertumbuhan yang tidak terlalu tinggi. Aktivitas bisnis yang didukung oleh sektor pemerintah dan korporasi diproyeksikan akan meningkat hingga minggu kedua bulan Desember. Baca Juga : Kabar Baik ! Industri Perhotelan Tahun 2024 Diprediksi Makin Pulih Colliers juga memproyeksikan bahwa periode dari Juli hingga November dianggap cukup optimal untuk mengejar target tahun 2024, meskipun relatif terbatas dibandingkan dengan pasar hotel di Jakarta dan Bali. Kinerja Hotel di Bali Terkait dengan hotel di Bali, Colliers memproyeksikan bahwa kinerja hotel akan terus meningkat pada paruh kedua tahun 2024. Selain liburan sekolah, beberapa kegiatan luring  juga diharapkan memberikan kontribusi positif. Lonjakan kedatangan wisatawan ke Bali telah berdampak positif pada kinerja sektor perhotelan, terutama di kawasan Nusa Dua. Acara internasional berskala besar, seperti World Water Forum yang baru-baru ini diadakan di Bali, telah secara signifikan meningkatkan kinerja hotel di wilayah ini. Selain itu, banyaknya acara yang diselenggarakan oleh entitas pemerintah dan korporat juga berkontribusi pada peningkatan kinerja perhotelan di Bali. “Tidak hanya acara MICE, tetapi juga acara olahraga, yang menambah daya tarik Bali sebagai destinasi, semakin meningkatkan kinerja hotel,” tutup Ferry.

JLL Penasihat Investasi Hotel Terkemuka di Dunia

Whiz Luxe, bisnis hotel dan restoran

Propertynbank.com – JLL (NYSE: JLL) meraih kembali predikat sebagai konsultan investasi hotel terkemuka di dunia untuk tahun 2023, berdasarkan total volume investasi dalam kelas aset tersebut. Data yang dianalisis dan dipublikasikan oleh MSCI Real Capital Analytics (RCA) mengonfirmasi bahwa JLL telah terlibat dalam transaksi senilai $7,7 miliar, atau memiliki pangsa pasar global sebesar 25% dari seluruh transaksi investasi hotel. JLL naik ke posisi teratas setelah pada tahun sebelumnya berada di posisi kedua dalam pemeringkatan oleh lembaga independen ini. Ini sekaligus menegaskan momentum dalam strategi bisnis perusahaan dan kepercayaan yang dimiliki para investor dan operator hotel paling aktif di dunia pada platform konsultasi investasi JLL. Pencapaian ini juga mencerminkan kekuatan bisnis JLL yang terdiversifikasi sebagai penasihat investasi yang berfokus secara lokal dan terhubung secara global di Amerika, EMEA, dan Asia Pasifik (APAC). Di Amerika, wilayah investasi hotel terbesar secara global, JLL memberikan saran pada transaksi senilai sekitar $3.0 miliar, merebut pangsa pasar sebesar 19% untuk tahun 2023. Di wilayah EMEA, perusahaan memiliki pangsa pasar sebesar 30% setelah terlibat dalam transaksi senilai $2.7 miliar. Di APAC, pangsa pasar JLL mencapai 34% atau setara dengan transaksi investasi hotel senilai $2.0 miliar. Baca Juga : JLL Jadi Konsultan Penjualan Portofolio Hotel Pertama di Asia Tenggara di 2023 “JLL memiliki catatan dan reputasi yang baik sebagai penasihat investasi dengan keahlian yang unggul dalam industri perhotelan global. Di tengah situasi makroekonomi yang menantang dan tak terduga, bisnis perhotelan kami terus berkembang berkat kolaborasi, kemitraan, dan kepercayaan yang kuat yang menjadi ciri khas hubungan klien global kami. Kami bangga dengan pengakuan ini, dan ini juga dirasakan oleh klien dan jaringan pekerja hotel internasional kami,” kata Nihat Ercan, CEO, JLL Hotels & Hospitality Group, Asia Pasifik. Kinerja JLL Tahun 2023 Pada 2023, JLL menangani sejumlah transaksi penting di wilayah Amerika, EMEA, dan APAC, antara lain penjualan Diplomat Beach Resort di Fort Lauderdale, Florida, seharga $835 juta, transaksi aset tunggal terbesar ketiga sepanjang masa di Amerika Serikat; membantu Equity Inmuebles dalam penjualan 17 aset senilai EU535 juta di Spanyol, transaksi portofolio terbesar sepanjang sejarah negara tersebut; dan pemberian konsultasi dalam penjualan PARKROYAL di Kitchener Road, Singapura seharga $388 juta, yang merupakan transaksi aset hotel tunggal terbesar di negara tersebut. “Keyakinan ekonomi, konsumsi, dan pariwisata telah mengalami percepatan, dan industri hotel di Asia Pasifik menjadi penerima manfaat jangka panjang yang nyata. Kami yakin bahwa volume investasi pada kelas aset hotel di Asia Pasifik akan terus meningkat sebagai opsi investasi yang menjanjikan secara jangka panjang mengingat perubahan demografi dan konektivitas internasional yang semakin berkembang. Dengan pertimbangan, diantaranya, tingkat suku bunga yang cenderung moderat dan pemulihan pada perjalanan bisnis dan liburan, kami mengharapkan peningkatan volume investasi tahunan sebesar lebih dari $10,4 miliar untuk tahun 2024,” ujar Ercan. Baca Juga : JLL Kenalkan Model GPT Pertama Untuk Real Estat Komersial Jacintha Tabalujan Herzog, Head of Capital Markets JLL  untuk Indonesia dan Senior Director Capital Markets JLL untuk Asia Tenggara mengatakan, Indonesia mencatat total volume investasi hotel sebesar US$171 juta di Jakarta dan Bali di tengah penurunan volume transaksi global pada tahun 2023. Ini menegaskan kembali pandangan JLL bahwa investor melihat kelas aset hotel dengan sudut pandang jangka panjang dan oportunistik. “Kami memperkirakan total volume investasi hotel mencapai US$265 juta pada 2024, didorong oleh aktivitas penjualan investasi yang lebih kuat terutama di segmen luxury di Bali dan Jakarta,” kata Jacintha Tabalujan Herzog.

Industri Hospitality Ini Diproyeksi Kembali Tumbuh di Tahun 2024 

hospitality

Propertynbank.com – Tim Hospitality Services Colliers Indonesia menyebutkan, sejak tahun awal tahun 2022, kinerja sektor perhotelan di Indonesia telah terlihat mengalami perkembangan yang cukup postitif dan signifikan. Head of Hospitality Services Colliers Indonesia, Satria Wei, mengatakan bahwa mengingat potensi positif dan prospek di sektor hotel pada tahun 2024, ada juga prospek positif untuk berbagai sektor lain di industri hospitality. “Beberapa sektor pada industri hospitality yang diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan pada tahun 2024 adalah hotel bisnis,” kata dia. Jenis Industri Hospitality Yang Prospek Menurut Satria, berdasarkan dari observasi yang dilakukan tim Colliers Indonesia, secara menyeluruh kinerja hotel bisnis terlihat diproyeksikan mengalami peningkatan sekitar 6%-8% dari tahun 2023. Kinerja yang positif pada hotel bisnis di tahun 2024 didorong dengan adanya berbagai kegiatan MICE, yang didominasi baik oleh sektor swasta maupun pemerintah. Baca Juga : Hotel Hyatt Place Pertama Di Indonesia Hadir Di Makassar Selanjutnya yang mengalami pertumbuhan adalah hotel resor. Pada tahun 2024, Colliers Indonesia melihat adanya perkembangan pada pasar hotel resor bila dibandingkan dengan tahun 2023. Bagi pemilik hotel atau investor, aspek yang terpenting bagi hotel adalah memiliki indentitas dan konsep yang jelas. “Oleh sebab itu, tren transisi dari hotel tanpa merek menjadi hotel dengan merek pada hotel resor juga merupakan salah satu langkah strategis yang membutuhkan pertimbangan dan eksekusi yang tepat. Selain itu, tren liburan keluarga diproyeksikan akan bertahan dan terus berkembang. Sehingga jumlah permintaan kamar dengan tipe keluarga diantisipasi meningkat pada tahun 2024,” ujarnya. Industri hospitality yang juga mengalami pertumbuhan adalah hiburan. Proyeksi menunjukan adanya peningkatan pada permintaan untuk Spa, tempat hiburan kesehatan, klub olahraga, dan tempat hiburan olahraga. Ini terlihat dari peningkatan jumlah outlet yang beroperasi di Indonesia pada tahun 2024 bila dibandingkan dengan 2023. Berdasarkan hasil pengamatan, kata dia, untuk bisnis Spa atau tampat hiburan kesehatan di tahun 2024, berfokus pada lokasi destinasi wisata seperti  Candi Borobudur, Labuan Bajo, Danau Toba, dan Bali. Sedangkan untuk tempat hiburan olahraga, lebih ditekankan pada kota bisnis seperti  Surabaya, Makassar, dan Medan. Baca Juga : Sumber Daya Manusia, Aset Paling Berharga Perusahaan Hospitality Berikutnya adalah bisnis makanan dan minuman, terlebih yang sudah memiliki reputasi dinilai dapat lebih bertahan bila dibandingkan dengan yang tidak. Dari segi tingkat kesadaran, dan mencapai masyarakat juga lebih mudah. Terutama mengingat sifat masyarakat Indonesia yang memiliki rasa ingin tahu dan mencoba yang cukup tinggi. Kami melihat adanya peningkatan prevalensi merek F&B asing yang masuk ke Indonesia. Kemudian, lanjut Satria, adalah lapangan golf. Kepopuleran olahraga individual ini mulai meningkat pada kalangan komunitas Indonesia pada tahun 2020 saat pandemi Covid-19 terjadi. Golf, dahulu diasosiasikan dengan kalangan elit dan generasi yang lebih tua, kini berubah menjadi sebuah kegemaran baru pada kalangan generasi muda. Pergeseran ini memberikan kontribusi yang cukup signifikan atas pertumbuhan bisnis tersebut sampai dengan tahun 2023. “Salah satu peluang untuk meningkatkan pendapatan dalam bisnis ini adalah melalui kolaborasi dengan bisnis lain seperti outlet F&B, hotel, atau real estat. Hal ini dikarenakan adanya permintaan terhadap jenis hiburan yang disesuaikan dengan target pasar yang ada,” pungkas Satria.

Jelang Ramadhan 1445 H, Diprediksi Bisnis Hotel dan Restoran Meningkat

jll, mice

Propertynbank.com – Menjelang masuk bulan Ramadhan 1445 H, bisnis hotel dan restoran terlihat adanya peningkatan yang mencolok. Hal ini menandai persiapan industri perhotelan untuk menyambut musim liburan yang sibuk ini. Semakin dekatnya bulan suci Ramadhan menarik minat pelanggan untuk menikmati pengalaman kuliner dan akomodasi yang unggul. Dengan demikian, bisnis hotel dan restoran bersiap diri untuk melayani dengan standar yang tinggi demi memenuhi permintaan yang semakin meningkat, menciptakan suasana yang hangat dan mengundang untuk para pelanggan untuk merayakan momen ini. Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia, mengungkap bisnis properti ritel komersial seperti bisnis hotel dan restoran di Jakarta diperkirakan akan mengalami peningkatan pendapatan selama periode Ramadan dan libur bersama Idulfitri 2024. Baca Juga : Hotel Hyatt Place Pertama Di Indonesia Hadir Di Makassar Direktur Senior Markets JLL Indonesia Herully Suherman, menyatakan bahwa ada berbagai kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan dan keluarga di restoran dan hotel selama periode tersebut, seperti acara buka puasa bersama. Hal ini membuat bisnis hotel dan restoran akan mendapatkan peluang besar pada bulan Ramadhan. “Segmen ritel yang akan panen adalah food and beverages FnB, seperti restoran dan kafe. Menjelang Idulfitri 2024, banyak acara dari perusahaan, keluarga untuk buka bersama di Ramadan,” ujar Herully, di Media Breafing, Rabu (28/2/2024). Selain restoran, industri perhotelan juga diharapkan dapat memperoleh keuntungan selama periode libur Idulfitri 2024. Proyeksi menunjukkan bahwa masyarakat cenderung menghabiskan waktu berlibur di hotel (staycation), yang diharapkan akan meningkatkan tingkat okupansi kamar hotel, dan bisnis hotel dan restoran pda umumnya. Okupansi dan Bisnis Hotel dan Restoran Naik Menurut data dari JLL, tingkat okupansi hotel di Jakarta selama Tahun Fiskal 2023 mencapai 61,5%. Namun, Herully menekankan bahwa permintaan terhadap fasilitas meeting, incentive, conference, and exhibition (MICE) diperkirakan akan sedikit menurun selama Ramadan. Dalam konteks ini, restoran yang terdapat di dalam hotel dianggap sebagai aspek yang dapat mengkompensasi penurunan aktivitas MICE. Sementara itu, Head of Research JLL Indonesia, Yunus Karim, memproyeksikan bahwa properti ritel dalam segmen pusat perbelanjaan kemungkinan akan mengalami sedikit penurunan kinerja tahun ini. Baca Juga : Tingkat Hunian Hotel di Jakarta, Bali, dan Surabaya Meningkat Hingga 80 % Menurutnya, tingkat okupansi mal di Jakarta diperkirakan hanya akan mencapai sekitar 85% pada kuartal pertama 2024, menurun dari rata-rata okupansi sebesar 88% pada kuartal IV-2023. Yunus menganalisis bahwa penurunan ini dipengaruhi oleh pembangunan pusat perbelanjaan baru yang akan menambah segmen sebesar 100.000 meter persegi di seluruh Jakarta pada tahun 2024. “Ini membuat tingkat hunian relatif tertekan sedikit, tetapi di 10 tahun terakhir masih sehat di 80%, kalau pun ada sedikit tekanan, ada pada kisaran 85% dengan pasokan baru yang masuk,” kata Yunus Selain itu, diprediksi bahwa harga sewa akan terus meningkat sebagai bagian dari pertumbuhan yang sehat, seiring dengan peningkatan permintaan dan keterbatasan ruang yang tersedia. Pada kuartal IV/2023, harga sewa di Jakarta mencapai Rp578.684 per meter persegi per bulan. Yunus menyatakan bahwa pertumbuhan pusat perbelanjaan di Jakarta dalam 3 hingga 5 tahun terakhir telah cukup terbatas. Akibatnya, tingkat okupansi tenant cenderung stabil. Meskipun demikian, pemilik mall diharapkan dapat mengelola dan mempertahankan tingkat hunian dengan strategi campuran tenant yang tepat. Dalam hal ini, mereka dapat memilih penyewa yang beradaptasi dengan perkembangan zaman dan sesuai dengan target pasar yang dituju. Baca Juga : Kabar Baik ! Industri Perhotelan Tahun 2024 Diprediksi Makin Pulih Paling tidak, terdapat tiga sektor tenant yang memiliki permintaan tertinggi, yaitu makanan dan minuman (food and beverage/F&B), merek fast fashion, dan kecantikan. “Permintaan cukup aktif dari F&B seperti restoran. Fast fashion juga masih, jadi orang mau beli baju secara cepat, gampang dan sesuai tren saat ini, pergerakan tenant penjual fast fashion cukup aktif. Selanjutnya, beauty tenant berupa aksesori kosmetik cukup banyak, parfum juga cukup aktif pada 2023,” ungkapnya. (Nabilla Chika Putri)

Tingkat Hunian Hotel di Jakarta, Bali, dan Surabaya Meningkat Hingga 80 %

Lomba Foto, JLL

Propertynbank.com – Performa dan tingkat hunian hotel di Jakarta, Bali, dan Surabaya pada kuartal IV 2023 menunjukkan peningkatan positif, sebagaimana yang diungkapkan oleh Colliers Indonesia. Okupansi hotel di ketiga kota tersebut meningkat dari 60% hingga 80% pada November 2023. Meskipun tingkat hunian hotel di Jakarta dan Surabaya masih didominasi oleh pasar pemerintahan dan swasta, terutama dalam kegiatan MICE, Bali mengalami peningkatan kunjungan wisatawan baik domestik maupun asing menjelang libur Natal dan Tahun Baru. Selain itu, Bali juga mencatat peningkatan kegiatan MICE, terutama yang berasal dari pemerintahan. Pada akhir Desember 2023, aktivitas perhotelan tingkat hunian hotel di Jakarta dan Surabaya melambat karena libur akhir tahun bisnis, dan pelaku bisnis cenderung menunggu dan melihat situasi, terutama dengan persiapan pemilihan presiden yang sedang berlangsung. Jakarta khususnya diprediksi akan menghadapi tantangan awal tahun 2024, berbeda dengan kondisi dua kota lainnya. Baca Juga : Kabar Baik ! Industri Perhotelan Tahun 2024 Diprediksi Makin Pulih “Belum ada supply baru di tahun 2023 ini sehingga total supply masih di angka 44,685 kamar,” kata Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia, Rabu (10/1/2024). Selain itu, diperkirakan pada kuartal IV 2023, performa hotel di Jakarta akan melambat khususnya dari korporasi. Selain itu, mulai banyak persiapan pemilu presiden. “Hasil pemilu akan menentukan kegiatan bisnis yang akan berpengaruh pada performa hotel di tahun berikutnya,” ujarnya. Tingkat Hunian Hotel di Jakarta Naik Meskipun demikian, performa hotel dan tingkat hunian hotel di Jakarta terus menunjukkan tren positif sepanjang tahun 2023, walaupun mengalami penurunan pada periode Ramadan dan libur Idul Fitri. Kontribusi besar dari offline event dan kegiatan bisnis yang ramai, baik dari pemerintah maupun korporasi swasta, turut membantu meningkatkan performa hotel. Baca Juga : Intip Layanan Hotel Horison Kertajati, Setelah Tol Cisundawu Beroperasi Sementara itu, tingkat hunian hotel Bali menunjukkan pemulihan performa setelah masa pandemi. Dalam rentang waktu 2020 hingga 2023, sejumlah hotel di Bali sempat berhenti beroperasi. Beberapa di antaranya kembali beroperasi dengan manajemen yang sama atau yang baru, namun tidak sedikit yang tetap berhenti beroperasi sepenuhnya. Tingkat keterisian dan harga terus mengalami perbaikan dalam dua tahun terakhir. Tingkat hunian hotel di Surabaya, selama periode 2020 hingga 2023 sedikit menurun sehingga membuat setidaknya empat hotel menghentikan operasionalnya dan lima hotel melakukan rebranding. Pada akhir Desember 2023, performa hotel agak melambat, terutama dari segi bisnis korporasi, karena memasuki periode libur Natal dan Tahun Baru. (Nabilla Chika Putri)