PNB_Back_Up

Jakarta Masuk 5 Besar Pusat Talenta Operasional APAC, Peluang Pasar Perkantoran Makin Terbuka

perkantoran green building

Property&Bank.com – Posisi Jakarta sebagai salah satu pusat bisnis utama di Asia Tenggara semakin mendapat pengakuan internasional. Dalam laporan terbaru Colliers bertajuk Global Financial Services Markets: Top Talent Locations 2026, Jakarta berhasil masuk 5 besar pusat talenta domestik dan operasional jasa keuangan di kawasan Asia Pacific (APAC). Pencapaian tersebut menjadi sinyal positif bagi pasar properti komersial, khususnya sektor perkantoran, yang tengah bertransformasi mengikuti kebutuhan perusahaan global terhadap lokasi bisnis yang mampu menyediakan tenaga kerja berkualitas, biaya operasional kompetitif, dan dukungan infrastruktur yang memadai. Laporan yang menganalisis lebih dari 200 pasar di dunia itu menunjukkan bahwa Asia Pasifik kini menjadi pusat pertumbuhan industri jasa keuangan global. Sebanyak 39% perusahaan jasa keuangan yang masuk dalam penelitian tersebut berasal dari kawasan APAC, menjadikannya wilayah dengan kontribusi terbesar dibanding kawasan lainnya. Tak hanya itu, APAC juga mewakili sekitar 36% pusat talenta global yang masuk dalam pemeringkatan dan menguasai 44% pasar yang masuk kategori pusat domestik serta operasional. Angka tersebut menunjukkan bahwa pusat aktivitas industri jasa keuangan dunia semakin bergeser ke kawasan Asia. Di tengah perkembangan tersebut, Jakarta berhasil menempatkan diri sebagai salah satu pasar talenta paling kompetitif di kawasan. Kota ini bahkan tercatat sebagai pasar talenta jasa keuangan terbesar keenam di APAC, bersanding dengan kota-kota besar seperti Delhi NCR, Mumbai, Bengaluru, Manila, dan Kuala Lumpur. Menurut Bagus Adikusumo, Head of Office Services Colliers Indonesia, Jakarta terus memperkuat perannya sebagai pusat domestik dan operasional yang didukung oleh ketersediaan tenaga kerja dalam jumlah besar dan berorientasi pada eksekusi. Keunggulan tersebut membuat Jakarta menjadi lokasi yang ideal untuk mendukung berbagai fungsi penting perusahaan, mulai dari layanan back-office, shared services, hingga fungsi-fungsi spesialis yang menunjang aktivitas pusat bisnis regional maupun global. Bagi sektor properti, pengakuan ini menjadi katalis positif bagi permintaan ruang kantor dalam jangka panjang. Ketika perusahaan semakin mengandalkan strategi lokasi berbasis talenta, kota-kota yang mampu menyediakan sumber daya manusia berkualitas akan menjadi tujuan utama ekspansi bisnis. Jakarta Berpotensi Jadi Motor Baru Pertumbuhan Properti Komersial Perubahan strategi perusahaan jasa keuangan global menjadi salah satu temuan utama dalam laporan Collies. Jika sebelumnya kota-kota tertentu hanya berfungsi sebagai pusat operasional, kini banyak perusahaan mulai mengintegrasikan fungsi strategi, teknologi, analitik data, hingga pengambilan keputusan dalam satu lokasi yang sama. Tren ini didorong oleh perkembangan digitalisasi dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) yang mengubah cara perusahaan mengelola operasional dan sumber daya manusia. Akibatnya, kebutuhan terhadap kota yang memiliki talenta berkualitas menjadi semakin penting dibanding sebelumnya. Dalam konteks tersebut, Jakarta dinilai memiliki peluang besar untuk naik kelas dari sekadar pusat operasional menjadi pusat layanan bernilai tambah tinggi. Ketersediaan tenaga kerja yang besar, biaya operasional yang relatif kompetitif, serta semakin berkembangnya ekosistem digital menjadi modal utama untuk menarik investasi baru. Bagi pasar perkantoran, kondisi ini berpotensi mendorong peningkatan permintaan terhadap gedung perkantoran modern yang mampu mendukung kebutuhan perusahaan global. Kawasan-kawasan bisnis utama di Jakarta diperkirakan akan semakin diuntungkan apabila lebih banyak perusahaan menjadikan ibu kota sebagai basis operasional maupun pusat layanan regional. Sementara itu, kota-kota seperti Tokyo, Hong Kong, Singapura, Seoul, dan Sydney masih mempertahankan posisinya sebagai pusat keuangan utama Asia Pasifik berkat ekosistem bisnis yang matang dan arus investasi yang kuat. Namun, laporan tersebut juga menyoroti munculnya pasar-pasar baru yang semakin kompetitif, termasuk Jakarta yang dinilai menawarkan kombinasi menarik antara kualitas talenta dan efisiensi biaya. Colliers menilai bahwa perusahaan jasa keuangan global kini semakin mengandalkan data dan analisis dalam menentukan strategi lokasi bisnis mereka. Organisasi yang mampu mengoptimalkan akses terhadap talenta akan memiliki keunggulan dalam menghadapi persaingan dan menangkap peluang pertumbuhan baru. Masuknya Jakarta ke dalam 5 besar pusat talenta operasional APAC menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi hanya menjadi pasar konsumsi, tetapi mulai diakui sebagai salah satu pusat penyedia talenta yang penting bagi industri jasa keuangan global. Bagi sektor properti komersial, pengakuan tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkuat daya tarik Jakarta sebagai destinasi investasi dan pengembangan bisnis di kawasan Asia Pasifik.

Colliers Pangkas Emisi 41% di Asia Pasifik, Tren Properti Hijau Kian Menguat

PropertynBank.com – Colliers menunjukkan kemajuan signifikan dalam upaya pengurangan emisi dan penggunaan energi terbarukan di kawasan Asia Pasifik. Pencapaian tersebut mencerminkan semakin pentingnya penerapan prinsip keberlanjutan atau Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam industri properti global, seiring meningkatnya tuntutan investor, regulator, dan konsumen terhadap praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab. Sepanjang 2025, Colliers berhasil menurunkan intensitas emisi Scope 1 dan Scope 2 di Asia Pasifik sebesar 41,3% dibandingkan baseline tahun 2021. Capaian tersebut juga menunjukkan peningkatan sebesar 9,26% dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, sebanyak 36% kebutuhan listrik pada portofolio operasional perusahaan di kawasan tersebut kini berasal dari sumber energi terbarukan. Pencapaian tersebut menjadi bagian dari implementasi strategi keberlanjutan global perusahaan bertajuk Built to Last, yang berfokus pada pengelolaan risiko sekaligus penciptaan nilai jangka panjang melalui aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan. Tidak hanya dari sisi lingkungan, Colliers juga memperkuat kontribusi sosialnya dengan mencatat lebih dari 7.260 jam kegiatan sukarela yang dilakukan karyawan untuk mendukung berbagai program kemasyarakatan di kawasan Asia Pasifik. Secara global, perusahaan juga mencatat perkembangan positif. Intensitas emisi Scope 1 dan Scope 2 berhasil ditekan hingga 32,2% dibandingkan tahun dasar 2021, sementara 42% kebutuhan listrik operasional global telah berasal dari energi terbarukan. Di saat yang sama, karyawan Colliers di berbagai negara turut berkontribusi melalui lebih dari 16.400 jam kegiatan sukarela. Colliers Dorong ESG dan Properti Berkelanjutan di Asia Pasifik Chief Operating Officer Asia Pacific Colliers, Sam Harvey-Jones, mengatakan bahwa keberlanjutan saat ini tidak lagi sekadar menjadi komitmen perusahaan, tetapi telah berkembang menjadi faktor penting dalam menciptakan nilai bisnis dan mengelola risiko. “Saat ekspektasi terhadap keberlanjutan semakin berorientasi pada hasil yang terukur, fokus kami adalah menghadirkan berbagai capaian yang mampu memperkuat bisnis, mengurangi risiko, serta menciptakan nilai jangka panjang bagi operasional perusahaan maupun klien,” ujarnya. Menurut Sam, capaian yang diraih sepanjang 2025 menunjukkan bagaimana tim Colliers di Asia Pasifik mampu menerjemahkan target keberlanjutan menjadi aksi nyata. Ia menegaskan perusahaan akan terus beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan pasar dan berbagai tantangan yang muncul di masa depan. Bagi industri properti, perkembangan tersebut menjadi sinyal bahwa aspek ESG semakin mempengaruhi daya saing aset. Pemilik properti, pengembang, maupun investor kini dituntut untuk meningkatkan efisiensi energi, menekan emisi karbon, serta memperkuat tata kelola guna mempertahankan nilai aset dalam jangka panjang. Dengan layanan yang mencakup properti komersial, rekayasa teknik, hingga manajemen investasi, Colliers mendampingi klien di berbagai tahapan siklus aset, mulai dari perencanaan, pengembangan, operasional, hingga proses transisi. Pendekatan tersebut membantu pelaku industri menghadapi perubahan regulasi, tekanan biaya energi, serta risiko yang berkaitan dengan perubahan iklim. Komitmen terhadap keberlanjutan juga semakin relevan di tengah tren meningkatnya permintaan terhadap bangunan hemat energi dan aset properti yang memenuhi standar ESG. Tidak sedikit investor kini memasukkan indikator keberlanjutan sebagai salah satu pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan investasi. Seiring transformasi industri yang terus berlangsung, keberhasilan Colliers dalam menurunkan emisi dan meningkatkan penggunaan energi terbarukan menunjukkan bahwa keberlanjutan telah menjadi bagian integral dari strategi bisnis modern. Bagi sektor properti, langkah tersebut sekaligus menegaskan bahwa praktik bisnis berkelanjutan bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan untuk menjaga pertumbuhan dan menciptakan nilai jangka panjang.

Permintaan Apartemen Jakarta Meningkat, Unit Siap Huni Jadi Daya Tarik Utama di 2026

apartemen

Propertynbank.com – Pasar apartemen Jakarta menunjukkan kondisi yang relatif stabil pada kuartal pertama 2026. Di tengah kehati-hatian pengembang dalam meluncurkan proyek baru, permintaan hunian vertikal tetap terjaga dan didorong oleh tingginya minat terhadap unit siap huni. Dukungan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) juga menjadi salah satu faktor yang mendorong aktivitas transaksi di sektor ini. Berdasarkan laporan terbaru Colliers Indonesia, hampir 50% dari sekitar 300 unit apartemen yang terjual pada kuartal pertama 2026 berasal dari kategori unit siap huni. Tren tersebut menunjukkan adanya perubahan preferensi konsumen yang kini semakin mengutamakan kepastian dalam bertransaksi, baik dari sisi serah terima unit maupun potensi pemanfaatan properti dalam waktu dekat. Kondisi tersebut tidak terlepas dari kebijakan pemerintah yang memberikan insentif PPN DTP sebesar 100% sepanjang tahun 2026. Kebijakan ini dinilai mampu meningkatkan daya tarik pembelian properti karena membantu mengurangi beban biaya yang harus ditanggung konsumen. Selain untuk kebutuhan hunian, unit siap huni juga semakin diminati oleh investor yang ingin segera memperoleh manfaat dari aset yang dimiliki, baik melalui penyewaan maupun potensi kenaikan nilai properti di masa mendatang. Di tengah kondisi pasar yang masih selektif, kepastian menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan pembelian. Apartemen Jakarta Didominasi Penjualan Unit Siap Huni Data Colliers menunjukkan bahwa unit siap huni menjadi kontributor terbesar terhadap penjualan apartemen pada awal tahun ini. Hal tersebut sekaligus mencerminkan perubahan strategi pasar yang kini lebih berfokus pada produk yang telah selesai dibangun dibanding proyek yang masih dalam tahap konstruksi. Dari sisi pasokan, sekitar 2.000 unit apartemen dijadwalkan selesai sepanjang tahun 2026. Namun hingga kuartal pertama, realisasi penyelesaiannya baru mencapai sekitar 10% dari target tersebut. Kondisi ini mengindikasikan adanya potensi pergeseran jadwal penyelesaian sejumlah proyek yang saat ini masih berlangsung. Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, mengatakan bahwa apabila seluruh proyek dapat diselesaikan sesuai jadwal, maka sebagian besar pasokan apartemen untuk beberapa tahun ke depan akan terkonsentrasi pada tahun ini. “Untuk sisa tahun 2026, apabila seluruh proyek selesai tepat waktu, maka akan merepresentasikan sekitar 70% dari total pasok selama periode 2026-2029. Artinya, berdasarkan konstruksi saat ini, proyeksi pasok mendatang setelah tahun 2026 akan sangat terbatas,” ujar Ferry. Proyeksi terbatasnya pasokan baru setelah 2026 berpotensi menjadi faktor pendukung stabilitas pasar apartemen Jakarta. Jika permintaan tetap terjaga sementara pasokan baru tidak bertambah secara signifikan, keseimbangan pasar diperkirakan akan semakin baik dalam beberapa tahun mendatang. Secara geografis, Jakarta Selatan masih menjadi kawasan paling aktif dalam pengembangan apartemen dengan kontribusi sekitar 60% dari total pasokan sepanjang tahun 2026. Dominasi kawasan ini menunjukkan bahwa Jakarta Selatan tetap menjadi lokasi favorit bagi pengembang maupun konsumen karena didukung aksesibilitas yang baik serta kedekatannya dengan berbagai pusat bisnis dan komersial. Sementara itu, pengembang cenderung mengadopsi strategi yang lebih konservatif dibandingkan periode sebelum pandemi. Alih-alih meluncurkan proyek baru secara agresif, mereka lebih fokus menyerap stok yang masih tersedia di pasar. Dari sisi harga, pasar apartemen Jakarta masih bergerak relatif stabil meskipun beberapa kawasan mencatat pertumbuhan terbatas. Untuk menarik minat pembeli, pengembang lebih memilih menawarkan berbagai insentif tambahan, mulai dari unit yang telah dilengkapi furnitur, potongan harga, hingga kemudahan pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Ke depan, harga apartemen berpotensi menghadapi tekanan akibat meningkatnya biaya konstruksi yang dipengaruhi dinamika geopolitik global. Namun dengan dukungan insentif pemerintah, terbatasnya pasokan baru, serta tingginya minat terhadap unit siap huni, prospek pasar apartemen Jakarta dinilai masih cukup positif sepanjang tahun 2026.

Pasar Perkantoran Jakarta 2026 Mulai Pulih, Aktivitas Sewa Meningkat

Propertynbank.com – Pasar perkantoran Jakarta mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada awal 2026. Hal ini tercermin dalam laporan Colliers Quarterly Property Market Report Q1 2026 yang mencatat meningkatnya aktiivtas relokasi penyewa, stabilitas tarif sewa, serta terbatasnya pasokan ruang kantor baru yang secara bertahap membantu menyeimbangkan pasar. Setelah beberapa tahun bergerak lambat akibat tekanan ekonomi dan perubahan pola kerja, sektor perkantoran kini mulai mengalami peningkatan permintaan. Aktivitas inquiry atau pencarian ruang kantor tercatat meningkat signifikan dibandingperiode sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan perusahaan kembali aktif mengevaluasi kebutuhan ruang kerja mereka, baik untuk relokasi, ekspansi, maupun penambahan ruang kantor baru. Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, mengatakan bahwa tren pasar saat ini berbeda dibanding siklus sebelumnya yang lebih banyak didominasi perpanjangan masa sewa. “Permintaan pada awal tahun 2026 lebih banyak ditandai oleh aktivitas relokasi dan ekspansi ruang kantor. Perusahaan semakin terdorong untuk meningkatkan kualitas ruang kerja, meningkatkan efisiensi, atau mempertimbangkan ruang kantor di gedung yang lebih modern setelah menempati lokasi yang sama dalam jangka waktu panjang,” ujar Ferry. Menurutnya, hingga kuartal pertama 2026 tingkat hunian pasar perkantoran Jakarta tercatat mencapai 75,5%. Angka ini memang masih tergolong moderat, namun menunjukkan adanya pemulihan yang berkelanjutan dibanding periode yang sama tahun lalu. Gedung Premium dan Garde A Jadi Pilihan Utama Tenant Colliers mencatat, tren relokasi saat ini banyak didorong oleh kebutuhan perusahaan terhadap ruang kerja yang lebih efisien dan berkualitas tinggi. Penyewa kini cenderung memilih tata ruang yang lebih ringkas seiring struktur organisasi yang lebih ramping, namun tetap mengutamakan kenyamanan dan kualitas bangunan. Menariknya, banyak perusahaan yang sebelumnya menempati gedung lama mulai mempertimbangkan pindah ke gedung yang usianya relatif baru, khususnya bangunan berumur di bawah 10 tahun. Gedung-gedung tersebut dinilai menawarkan efisiensi operasional, kualitas bangunan yang lebih baik, serta aspek ketahanan yang lebih unggul. Tren ini turut mendorong performa gedung Premium dan Garde A di kawasan CBD Jakarta. Tingkat hunian gedung Premium bahkan tercatat mendekati 82% pada awal 2026. Tingginya okupansi membuat sebagian besar gedung premium mampu mempertahankan tarif sewa pada level tinggi. Sementara itu, gedung Grade A di kawasan CBD yang mendominasi total pasokan perkantoran juga mencatat tingkat hunian sekitar 76% pada kuartal pertama 2026. Colliers menilai, terbatasnya ruang kosong di gedung premium menjadi sinyal bahwa permintaan terhadap kantor berkualitas tinggi terus meningkat. Saat ini, gedung premium hanya menyumbang sekitar 8% dari total ruang kosong di kawasan CBD Jakarta. Relokasi dan Stabilitas Sewa Dorong Pemulihan Pasar Perkantoran Jakarta Di tengah meningkatnya aktivitas pasar, tarif sewa perkantoran Jakarta juga mulai bergerak stabil. Pada kuartal pertama 2026, rata-rata tarif sewa (asking rent) di kawasan CBD tercatat sekitar Rp218.000 per meter persegi per bulan. Kenaikan tarif sewa memang masih relatif moderat dibanding kuartal sebelumnya, namun kondisi ini dianggap mencerminkan meningkatnya optimisme pemilik gedung terhadap pasar perkantoran. Para pemilik gedung mulai lebih percaya diri dalam mempertahankan harga sewa, meskipun tetap menerapkan strategi harga yang kompetitif demi menjaga momentum transaksi. Ke depan, Colliers memproyeksikan rerata tarif dasar sewa akan tumbuh sekitar 3% hingga 4% per tahun selama periode 2026-2029. Proyeksi tersebut sejalan dengan ekspektasi pemulihan pasar yang berlangsung secara bertahap. Dalam beberapa tahun ke depan, aktivitas relokasi diperkirakan masih menjadi penggerak utama pasar perkantoran Jakarta, terutama untuk gedung Premium dan Grade A di CBD. Colliers memperkirakan tingkat hunian kawasan CBD dapat kembali mendekati level 880% pada 2028, dengan asumsi tidak terjadi gangguan besar dari faktor domestik maupun global, termasuk ketidakpastian geopolitik. Di sisi lain, pasar perkantoran non-CBD masih bergerak lebih lambat. Tingkat hunian gedung perkantoran di luar CBD Jakarta tercatat masih berada di kisaran 70% pada kuartal pertama 2026.  Meski demikian, kawasan Jakarta Selatan dinilai tetap menjadi destinasi potensial bagi calon penyewa karena didukung aksesibilitas, fasilitas pendukung, serta pasokan baru yang relatif terbatas. Colliers juga melihat pertumbuhan sektor bisnis yang mulai menguat berpotensi mendorong peningkatan penyerapan ruang kantor secara bertahap, baik di kawasan CBD maupun non-CBD. Dengan kombinasi peningkatan aktivitas sewa, terbatasnya pasokan baru, dan meningkatnya minat terhadap gedung berkualitas tinggi, pasar perkantoran Jakarta dinilai mulai memasuki fase pemulihan yang lebih stabil sepanjang 2026.

Properti Berbasis AI Jadi Standar Baru, Pengembang Manfaatkan Teknologi Hemat Energi

tarif sewa kantor, real estat komersial

Propertynbank.com – Transformasi digital di sektor real estat Indonesia kembali menunjukkan akselerasi signifikan seiring berkembangnya penggunaan teknologi properti berbasis AI. Kecerdasan Buatan tidak lagi hanya dipandang sebagai fitur tambahan, melainkan telah menjadi perangkat strategis untuk meningkatkan efisiensi operasional, mengoptimalkan biaya energi, dan memperkuat daya saing properti komersial. Di tingkat global, pemanfaatan AI berkembang pesat dari sekadar automasi menuju pengambilan keputusan berbasis data secara real-time, termasuk pemeliharaan prediktif dan pengoperasian gedung secara cerdas. Hal ini juga mulai terlihat di Indonesia, terutama pada komponen gedung yang memiliki konsumsi energi terbesar. Menurut Christina Ng, Head of Facilities Management Colliers Indonesia, area HVAC merupakan salah satu beban energi tertinggi di gedung, bisa mencapai 60% dari total konsumsi. “Optimalisasi dengan AI terbukti mampu menekan biaya energi hingga 30%, sekaligus meningkatkan kenyamanan termal bagi pengguna gedung,” ujarnya. Sementara itu, tim Manajemen Fasilitas dari Colliers Indonesia juga melaporkan berbagai hasil nyata dari penerapan AI untuk sistem HVAC, mulai dari kestabilan suhu, pemeliharaan yang lebih akurat, hingga efisiensi energi yang signifikan, bahkan pada gedung yang belum dilengkapi Building Management System (BMS) modern. Model pembiayaan fleksibel seperti skema shared savings turut mempercepat adopsi, karena pemilik gedung tidak perlu mengeluarkan investasi awal. Baca Juga : Perumahan Citra Mulia Megah Karawang Dipuji Menteri PKP, Siap Ekspansi Hingga 100 Hektar Dengan pendekatan berbasis hasil, teknologi AI properti kini menjadi solusi praktis untuk meningkatkan performa gedung sekaligus mendukung agenda keberlanjutan. Sistem AI yang dapat diskalakan membuat teknologi ini relevan untuk berbagai tipe gedung, mulai dari perkantoran, pusat perbelanjaan, hingga properti campuran. Tren Properti Berbasis AI Seiring pemulihan sektor real estat komersial pasca pandemi, peluang pemanfaatan AI di industri properti semakin terbuka luas. Beberapa tren yang mendorong peningkatan adopsi antara lain, permintaan bangunan hemat energi semakin tinggi, menjadi nilai tambah penting dalam strategi pengembangan properti modern. Baca Juga : JMN Gelar Seminar Nasional dan Indonesia MyHome Award Episode 8 Lalu, digital twin dan AI-assisted leasing membuat proses perencanaan hingga pemasaran lebih efisien dan cepat. Solusi penghematan biaya operasional (OpEx) menjadi daya tarik utama di tengah fokus pelaku industri pada efisiensi tanpa investasi besar. Alat AI dengan ROI terukur membantu meningkatkan nilai aset sekaligus menciptakan lingkungan gedung yang lebih sehat dan responsif. Christina Ng menambahkan, dengan berbagai manfaat yang telah terbukti, AI diproyeksikan menjadi komponen kunci dalam strategi pengembangan dan pengelolaan properti di Indonesia. “Teknologi ini tidak hanya mendukung penghematan operasional, tetapi juga meningkatkan ketahanan bisnis dan menciptakan nilai jangka panjang bagi pemilik maupun penyewa,” pungkasnya.

Permintaan Pusat Data Meningkat, Colliers Dorong Penerapan Technical Due Diligence

Kebijakan Tarif AS

Propertynbank.com – Seiring menguatnya posisi Jakarta sebagai salah satu pusat ekonomi digital dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara, permintaan terhadap fasilitas pusat data (data center) di wilayah perkotaan meningkat pesat. Colliers Indonesia, melalui tim Manajemen Proyek (Project Management), menekankan pentingnya penerapan Technical Due Diligence (TDD) secara menyeluruh dalam setiap tahap pengembangan. Menurut Rahmat Daresa Alam, Head of Project Management Colliers Indonesia, pembangunan pusat data di kawasan perkotaan bukan sekadar proyek infrastruktur biasa. “Membangun pusat data di lingkungan urban merupakan investasi dengan risiko tinggi. Pemilihan lokasi bukan hanya keputusan teknis, tetapi juga strategis karena berdampak langsung pada keandalan operasional dan hasil finansial jangka panjang,” ujarnya dalam keterangan tertulis. Dalam market insight terbarunya, Colliers Indonesia menggarisbawahi bahwa kepadatan kota Jakarta menghadirkan tantangan tersendiri. Di antaranya adalah risiko banjir, daya dukung tanah yang rendah, serta keterbatasan pasokan air, terutama bagi fasilitas berskala besar. Baca Juga : GRESB Regional Insights 2025 Dorong Transformasi Keberlanjutan Sektor Real Estate Indonesia Faktor-faktor tersebut dapat berdampak signifikan terhadap biaya modal (CAPEX) dan biaya operasional (OPEX) dalam jangka panjang. Tanpa penilaian teknis yang matang, pengembang berisiko menghadapi keterlambatan proyek, peningkatan biaya, hingga kegagalan teknis. Di sinilah Technical Due Diligence (TDD) berperan penting. Proses ini membantu mengidentifikasi risiko sejak tahap awal, menyusun ruang lingkup proyek secara jelas, serta memastikan kontrol terhadap jadwal dan anggaran. Tim Project Management Colliers Indonesia mendorong pengembang dan investor untuk mengadopsi pendekatan ganda dalam penilaian lokasi, yang tidak hanya menekankan kepatuhan teknis, tetapi juga mempertimbangkan relevansi konteks lokasi dan kebutuhan bisnis. Dalam studi yang dilakukan oleh tim, terdapat tiga faktor utama yang menjadi prioritas dalam pemilihan lokasi pusat data, yakni Lokasi strategis, Keandalan infrastruktur pendukung, Stabilitas lingkungan dan geoteknik. Baca Juga : Colliers Gandeng Jendela360 Pasarkan Marigold @Navapark BSD Ketiga faktor tersebut memungkinkan pengembang dan pemangku kepentingan untuk menilai kelayakan proyek secara komprehensif, baik dari sisi teknis maupun strategis bisnis. “Dengan mengintegrasikan TDD sejak tahap awal, potensi risiko bisa diidentifikasi lebih dini, sehingga transisi dari fase perencanaan menuju operasional dapat berjalan lebih efisien,” tambah Rahmat. Seiring berkembangnya ekonomi digital dan meningkatnya kebutuhan infrastruktur data center, Colliers Indonesia mendorong para pengembang dan investor untuk mengadopsi pola pikir “ready-to-build”, yaitu pendekatan yang berbasis data, standar teknis, serta wawasan strategis. Colliers percaya bahwa mindset ini menjadi fondasi penting dalam memastikan setiap investasi data center dapat berjalan optimal, efisien, dan berkelanjutan. “Ke depan, daya saing sektor digital di Indonesia akan sangat bergantung pada kemampuan pelaku industri untuk mengelola risiko teknis dan infrastruktur secara cerdas. Technical Due Diligence adalah langkah awal menuju pengelolaan risiko yang terukur,” tutup Rahmat.

Pelaku Industri Hotel Siap Sambut Pemulihan di Paruh Kedua 2025

POP Hotel Sangaji, kebijakan efisiensi

Propertynbank.com – Setelah melalui paruh pertama tahun yang penuh tantangan, pelaku industri hotel di Jakarta dan Bali mulai menunjukkan sikap optimistis menjelang akhir 2025. Meski tekanan dari berbagai sisi, baik domestik maupun global masih terasa, berbagai strategi adaptif dan sinyal pemulihan bertahap memberi harapan baru bagi sektor ini. Di Jakarta, kondisi pasar perhotelan sepanjang enam bulan pertama tahun ini dibayangi oleh menurunnya permintaan dari sektor pemerintahan. Hal ini memaksa pelaku bisnis hotel mengalihkan fokus ke segmen lain, terutama korporasi dan wisatawan independen (FIT). Namun, meskipun kedua segmen ini mengalami pertumbuhan, kontribusinya masih belum mampu sepenuhnya mengimbangi kekosongan yang ditinggalkan oleh sektor pemerintah. Baca Juga : Event MotoGP Mandalika Dongkrak Tarif Hotel Hingga 19% Ferry Salanto, Head of Research Colliers, menjelaskan, ada peningkatan kinerja antara kuartal I dan kuartal II 2025, didorong oleh peningkatan aktivitas bisnis. “Tapi secara keseluruhan, pemulihan masih berjalan lambat karena penurunan signifikan di segmen pemerintah belum terkompensasi,” ujar Ferry. Dengan paruh kedua tahun sudah berjalan, para pelaku industri hotel di ibu kota mulai mengambil langkah strategis. Mereka berharap adanya stimulus dari pemerintah, baik berupa insentif fiskal maupun pelonggaran regulasi—untuk menggenjot kembali permintaan. Di sisi lain, strategi jangka pendek seperti eksplorasi pasar baru dan penyesuaian layanan mulai diterapkan untuk menjaga keberlanjutan operasional. Industri Hotel Bali Sementara itu, Bali menunjukkan performa yang lebih menjanjikan. Sejak masa libur Idulfitri di awal April, geliat sektor perhotelan di Pulau Dewata mulai terlihat kembali. Kegiatan berbasis pemerintah daerah serta rangkaian libur panjang di kuartal II menjadi katalis utama bagi lonjakan aktivitas wisata domestik. Penambahan rute penerbangan langsung dari negara-negara utama seperti China dan Australia juga memperkuat tingkat kunjungan wisatawan mancanegara. Baca Juga : Kegiatan MICE Dorong Aktifitas Bisnis Hotel Bintang 4 dan 5 di Jakarta “Bali terus menarik minat investor, dan pipeline pembangunan hotel yang kuat hingga 2027 mencerminkan kepercayaan jangka panjang terhadap pasar ini,” ujar Ferry. Ia menambahkan bahwa momentum positif yang dimulai sejak pertengahan tahun diperkirakan akan berlanjut hingga kuartal III, didukung musim liburan dan kondisi geopolitik global yang mulai mereda. Meski masih ada tantangan, terutama dari sisi daya beli dan kompetisi antar properti, pelaku hotel berharap permintaan akan semakin menguat di akhir tahun. Diversifikasi segmen tamu, penyesuaian harga, serta penawaran layanan yang relevan dengan tren wisatawan kini menjadi prioritas utama untuk menjaga daya saing.

Mal Premium Penopang Utama Hunian Pusat Perbelanjaan

The Grand Eastlakes

Propertynbank.com – Memasuki pertengahan tahun 2025, sektor ritel dan pusat perbelanjaan di Indonesia terus menunjukkan langkah stabil dalam mempertahankan pertumbuhan. Didukung kolaborasi strategis antara pengelola pusat belanja dan peritel, upaya untuk meningkatkan daya tarik pengunjung tetap konsisten dijalankan. Dari promo payday yang agresif hingga gelaran festival kuliner dan kegiatan bertema di berbagai mal, strategi ini berhasil menciptakan pengalaman berbelanja yang lebih menyenangkan dan meningkatkan foot traffic. Kolaborasi tersebut tidak hanya menguntungkan penyewa, tetapi juga memperkuat posisi pusat perbelanjaan sebagai pusat gaya hidup masyarakat urban. “Pengalaman belanja saat ini tidak lagi soal produk semata, tetapi soal suasana dan nilai tambah yang ditawarkan,” ujar Ferry Salanto, Head of Research Colliers. Meski sektor makanan dan minuman (food & beverage/F&B) terus menjadi motor utama trafik kunjungan, pengelola mal tetap mengedepankan prinsip diversifikasi penyewa. Ketergantungan pada F&B yang berlebihan dinilai bisa berdampak negatif terhadap daya tahan jangka panjang pusat belanja. Baca Juga : Pusat Belanja Dengan Konsep Gaya Hidup dan Hiburan Paling Diminati Oleh karena itu, kehadiran penyewa non-F&B yang mampu menarik massa, seperti pusat kebugaran, hiburan keluarga, dan ritel elektronik, terus diperkuat guna menjaga komposisi tenant yang seimbang dan mendukung okupansi secara berkelanjutan. Pusat Perbelanjaan Kelas Atas Unggul Pada kuartal kedua 2025, data menunjukkan bahwa tingkat hunian pusat perbelanjaan di wilayah Jakarta mencapai 73,4%, Jabodetabek berada di 68,3%. Namun demikian, terdapat perbedaan mencolok antara mal kelas atas dan mal kelas bawah. Pusat perbelanjaan kelas premium berhasil mempertahankan tingkat hunian di atas 80%, sementara sebagian besar mal kelas bawah masih kesulitan untuk keluar dari zona hunian 50–60%. “Mal kelas atas menawarkan lebih dari sekadar belanja—mereka menjadi destinasi gaya hidup yang menawarkan pengalaman lengkap, dari kuliner, hiburan, hingga kenyamanan fasilitas,” lanjut Ferry. Baca Juga : Aktifitas Pusat Belanja Terus Meningkat, Okupansi Naik Hingga 88% Kondisi ini menjadikan mal-mal premium lebih menarik bagi merek global maupun lokal untuk berekspansi, sekaligus memperkuat posisi mereka di tengah kompetisi pasar. Dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat, banyak pengelola pusat perbelanjaan mulai menerapkan kurasi tenant yang lebih selektif. Fokusnya bukan hanya mengisi ruang kosong, tetapi memastikan bahwa setiap penyewa memberikan nilai tambah dan memperkaya pengalaman pengunjung. Salah satu tren yang mencolok di tahun ini adalah meningkatnya ketertarikan dari merek-merek asal Tiongkok, terutama di sektor fashion, kecantikan, dan gaya hidup. Kehadiran merek baru ini memperluas pilihan bagi konsumen sekaligus membuka peluang diversifikasi yang lebih luas untuk penyewa. Pasokan Terbatas Ke depan, pasar pusat perbelanjaan diperkirakan tetap berada dalam jalur pertumbuhan. Tidak adanya tambahan signifikan terhadap pasokan mal baru hingga akhir 2025 menciptakan ruang bagi pusat perbelanjaan yang ada untuk memperkuat performa huniannya. Baca Juga : Paradise Indonesia dan Bina Nusantara Bangun Pusat Belanja Ikonik mall 23Semarang Dengan asumsi tren saat ini berlanjut, tingkat hunian pusat perbelanjaan di kawasan utama diproyeksikan meningkat sekitar 3% hingga penutupan tahun ini. Kombinasi dari pertumbuhan sektor F&B, masuknya merek asing baru, serta strategi penyewa yang cermat akan menjadi penopang utama optimisme pasar.

Investor Tunda Relokasi Kantor Ke CBD Jakarta, Menunggu Kondisi Stabil

kondominium, sektor kondominium

Propertynbank.com – Perusahaan memilih untuk menunda pembukaan maupun relokasi kantor mereka di Jakarta. Hal ini karena pelaku usaha masih bersifat hati-hati, sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang moderat. Menurut pengamatan sejumlah praktisi,  saat ini kondisi ekonomi belum sepenuhnya mendukung iklim investasi Ferry Salanto, Head of Research Colliers, menyampaikan bahwa hingga kuartal kedua 2025, tingkat okupansi berada di kisaran 75% di area CBD dan 71% di luar CBD, dengan pertumbuhan yang terbatas selama semester pertama 2025. “Kondisi ini mendorong perusahaan untuk lebih fokus pada efisiensi ruang dan pengendalian biaya operasional,” ujarnya. Rencana ekspansi dan penambahan tenaga kerja ditunda di banyak sektor, sambil menunggu situasi yang lebih stabil. Minat ekspansi terutama datang dari perusahaan multinasional, meskipun sebagian besar masih menunggu iklim investasi yang lebih kondusif. Beberapa sektor yang tetap aktif antara lain minyak dan gas, jasa keuangan, hukum, dan media. Perusahaan-perusahaan ini cenderung mencari ruang kantor yang lebih kecil dan efisien, sesuai dengan strategi operasional yang telah disesuaikan. Di sisi lain, lembaga pemerintah baru juga menunjukkan minat untuk menyewa atau membeli ruang kantor, yang turut mendorong kinerja gedung-gedung kelas premium. “Jakarta tetap menarik bagi rencana ekspansi bisnis. Perusahaan multinasional terus mengeksplorasi pembukaan kantor untuk mendukung kegiatan operasional lokal dan menjangkau pasar Indonesia. Minat terhadap gedung ramah lingkungan bersertifikasi hijau dengan fasilitas premium terus meningkat, terutama yang berlokasi di kawasan CBD,” ungkap Ferry. Baca Juga : Kuartal I 2025, Permintaan Perkantoran dan Pergudangan Modern Meningkat Menurut dia, gedung-gedung Premium dan Grade A di kawasan ini masih mencatat tingkat hunian tinggi, mendekati 80%, didukung oleh permintaan yang kuat. Seiring dengan pulihnya permintaan secara bertahap, beberapa gedung, khususnya kelas Premium dan Grade A, sudah mulai melakukan penyesuaian sewa ke arah yang lebih tinggi. “Meskipun pasar secara umum masih berpihak kepada penyewa, gedung-gedung ini mulai menunjukkan tanda-tanda awal kenaikan harga sewa akibat keterbatasan ruang yang tersedia,” pungkas Ferry.

Di Tengah Tantangan, Pasar Properti Indonesia Pada Kuartal II 2025 Tetap Tangguh

sektor properti di indonesia

Propertynbank.com – Pada kuartal kedua tahun 2025, pasar properti Indonesia menunjukkan kinerja yang beragam di tiap sektornya. Sektor ritel tetap menunjukkan prospek positif, di mana mal-mal kelas atas lebih memilih meningkatkan pengalaman pengunjung dan mengoptimalisasikan komposisi penyewa, dibandingkan membangun proyek baru. Sementara itu, menurut Colliers Property Market Report Q2 2025, pasar hotel di Bali mencatat kinerja yang kuat, yang didorong oleh meningkatnya wisata domestik, kembalinya aktivitas pemerintah, serta bertambahnya jumlah penerbangan internasional. Sektor perkantoran mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Permintaan tumbuh secara moderat, dengan pemilik gedung menawarkan berbagai insentif untuk menarik penyewa baru. Di saat yang sama, pasar apartemen terlihat stabil, dengan harga dan tingkat serapan yang cenderung tidak berubah, karena pembeli lebih memilih unit yang siap huni. Di sisi lain, sektor hotel di Jakarta masih berada dalam proses pemulihan. Meskipun peningkatan aktivitas bisnis dan penyelenggaraan acara telah mendorong kinerja, berkurangnya permintaan dari sektor pemerintahan tetap menjadi tantangan utama. Sementara itu, pasar hunian ekspatriat tetap mengalami permintaan tinggi, namun pasokan terbatas—terutama untuk rumah tapak di kawasan favorit sangat terbatas. Akibatnya banyak ekspatriat terpaksa mempertimbangkan lokasi alternatif di sekitar wilayah utama. Secara keseluruhan, meskipun beberapa sektor mulai menunjukkan tren yang positif, sebagian lainnya masih membutuhkan penyesuaian strategi untuk menghadapi tantangan yang belum sepenuhnya terselesaikan. Sektor Perkantoran Jakarta Dalam Colliers Property Market Report Q2 2025 disebutkan bahwa prospek pasar secara umum tetap berhati-hati, sejalan dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi secara moderat. Meski begitu, tanda-tanda pemulihan mulai terlihat melalui meningkatnya permintaan , di beberapa segmen. Situasi masih menguntungkan bagi penyewa, karena posisi tawar tetap kuat di tangan mereka. Sebagai respon, para pemilik properti kini lebih fokus menyusun strategi untuk meningkatkan tingkat hunian, seperti melalui penawaran harga yang kompetitif dan pemberian insentif guna menarik penyewa baru. Jumlah gedung baru yang selesai dibangun masih terbatas, yang secara tidak langsung membantu mengurangi persaingan di antara pemilik properti. Meskipun pemulihan berlangsung secara bertahap, penyerapan ruang kantor diperkirakan akan terus meningkat. Di sisi lain, para penyewa masih memiliki peluang untuk pindah ke gedung yang menawarkan fasilitas lebih baik. Sektor Apartemen Jakarta Meskipun insentif PPN 100% masih berlaku, pasar apartemen tetap relatif stabil sepanjang kuartal ini. Perubahan yang lebih mencolok justru terjadi dari sisi pasokan. Sementara itu, permintaan masih didominasi oleh preferensi terhadap unit siap huni, mencerminkan sikap hati-hati konsumen yang cenderung menghindari risiko tinggi. Bagi para pengembang, penting untuk memprioritaskan penyelesaian proyek secara tepat waktu, terutama untuk proyek yang dijadwalkan selesai antara tahun 2025 hingga 2027. Manajemen jadwal serah terima yang baik akan membantu mencegah penumpukan pengiriman unit dan mengurangi potensi kejenuhan pasar. Dari sisi pembel–baik untuk investasi maupun penggunaan pribadi–disarankan untuk terus memantau pergerakan pasar guna menangkap peluang, khususnya dalam memperoleh unit yang ditawarkan dengan harga peluncuran yang lebih menarik. Sektor Perumahan Ekspatriat Jakarta Colliers Property Market Report Q2 2025 menyatakan, kawasan seperti Kemang, Cipete, Cilandak, dan Pondok Indah tetap menjadi pilihan utama bagi para ekspatriat di Jakarta. Kawasan-kawasan ini menawarkan rumah tapak dan apartemen yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Namun, karena tingginya permintaan dan terbatasnya ketersediaan, banyak properti popular telah dipesan jauh hari, bahkan sebelum unit siap huni. Pasokan rumah baru juga sangat terbatas terutama rumah tapak, akibat keterbatasan lahan. Oleh karena itu, rumah dengan kualitas tinggi di lokasi strategis sering kali memiliki daftar tunggu. Meskipun minat terhadap apartemen terus meningkat, rumah tapak tetap menjadi pilihan utama di kalangan ekspatriat. Keterbatasan pilihan di lokasi favorit membuat banyak dari mereka mulai mempertimbangkan alternatif di wilayah sekitar. Sektor Ritel Jakarta Sebagian besar pengembang lebih memilih mengoptimalkan aset yang sudah ada, daripada membangun proyek baru. Upaya ini mencakup pembaruan tampilan fisik bangunan hingga pengaturan ulang komposisi penyewa. Untuk menarik lebih banyak pengunjung, mal-mal mengkurasi kombinasi penyewa yang mampu menarik massa sekaligus menyajikan merek premium. Bagi mal kelas atas, investasi berkelanjutan dalam fasilitas fisik dan layanan tetap menjadi keharusan, mengingat tingginya ekspektasi pengunjung. Perubahan preferensi konsumen juga menjadi perhatian utama dalam strategi ritel. Kampanye promosi dari oleh peritel masih efektif dalam menjaga perhatian publik, sementara penyelenggaraan acara menarik oelhj pemilik mal menjadi cara lain untuk menjaga arus pengunjung. Baik pengembang maupun peritel diperkirakan akan terus bersikap fleksibel dan adaptif terhadap perubahan tren ritel, demi menjaga relavansi di tengah kondisi pasar yang terus berkembang. Sektor Perhotelan Jakarta Kinerja hotel menunjukan peningkatan dari kuartal I ke kuartal II, terutama karena meningkatnya aktivitas bisnis. Namun demikian, peningkatan ini belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan menyeluruh, sebab penurunan permintaan dari kegiatan pemerintah masih memberikan tekanan besar pada sektor perhotelan, dan belum sepenuhnya bisa diimbangi oleh segmen korporasi swasta. Kabar baiknya, kembalinya acara luring di berbagai wilayah—seperti konser, kegiatan olahraga, dan acara komunitas-telah memberikan dorongan yang berarti, terutama bagi hotel yang berada di dekat lokasi tersebut. Permintaan berbasis acara ini, meskipun belum merata, menunjukkan potensi segmen alternatif di luar pelanggan konvensional seperti korporasi dan pemerintah. Dengan mempertimbangkan ketidakpastian yang masih berlangsung serta terbatasnya sumber permintaan tradisional, para pelaku industri perhotelan perlu mencari pendekatan yang lebih inovatif. Meningkatnya jumlah acara independen dan non-korporat dapat dimanfaatkan untuk memperluas aliran pendapatan. Hotel didorong untuk membentuk kemitraan kreatif, mengadakan promosi bertema, dan merancang penawaran khusus yang menyasar kelompok demografis baru—terutama wisatawan muda yang sangat berpengaruh di ranah digital dan media sosial. Sektor Perhotelan  Bali Sejak libur Idul Fitri pada awal April, sektor perhotelan di Bali mengalami peningkatan kinerja yang signifikan. Kegiatan pemerintah, khususnya di tingkat lokal, telah kembali berjalan aktif dan turut mendorong peningkatan mobilitas. Selain itu, sejumlah akhir pekan panjang pada kuartal II mendorong lonjakan wisata domestik, sementara peningkatan rute penerbangan langsung dari negara utama seperti Tiongkok dan Australia semakin memperkuat kinerja sektor ini. Secara konsep, keberlanjutan dan praktik ramah lingkungan mulai mendapatkan perhatian lebih dan perkirakan akan mengalami peningkatan permintaan. Tidak kalah penting adalah hadirnya layanan yang dipersonalisasi-menghadirkan sentuhan manusiawi yang meningkatkan kedekatan dengan tamu. Kombinasi antara teknologi dan layanan personal akan menciptakan pengalaman menginap yang lebih berkesan. Dari sisi strategi, diversifikasi pasar sasaran disarankan juga menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko dari ketidakpastian pasar yang tinggi.