PNB_Back_Up

Hari Air Dunia 2021, IWI Dorong Generasi Muda Peduli Terjadinya Krisis Air

NASIONAL – Sejak virus Corona atau lebih dikenal Covid-19 mewabah, perilaku hidup sehat dengan selalu bersih tangan menjadi kebiasaan dan tren positif. Namun, masalahnya adalah sejauh mana ketersediaan air bersih guna memenuhi tuntutan hidup bersih tersebut. Dalam diskusi virtual Hari Air Dunia (HAD) 2021 pada Senin (22/3) kemarin, mengemuka isu mengenai krisis air karena tingginya kebutuhan dalam memutus rantai penyebaran virus. Indonesia Water Institute (IWI) sebagai salah satu lembaga konsultasi yang fokus pada pengkajian, inovasi, kebijakan, perencanaan, serta pengembangan di bidang sumber daya air dan lingkungan mengadakan serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menggali pemikiran generasi muda penerus bangsa Indonesia terhadap permasalahan krisis air untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. [irp] Memperingati Hari Air Dunia (World Water Day) 2021 yang mengusung tema Valuing Water, IWI menggelar rangkaian kegiatan yang terdiri Diskusi Online Youth World Water Day dan Public Competition. Untuk diskusi online dilakukan secara bertahap yaitu, dengan mengundang partisipan dari Mahasiswa/i Universitas Se-Indonesia dan Siswa/i Sekolah Menengah Atas (SMA) di seluruh Indonesia. Melalui diskusi ini diharapkan para generasi muda dapat menyampaikan pendapat atau pemikirannya terhadap isu krisis air bersih di Indonesia. Diskusi online berlangsung pada tanggal 22 Januari, 17 Februari, 12 Maret, dan puncaknya pada Hari Air Dunia, yaitu 22 Maret 2021. [irp] Para pembicara pada diskusi online juga merupakan generasi muda yang sudah lebih dahulu menaruh perhatian lebih pada isu krisis air, baik dari lembaga, komunitas, atau praktisi muda. Dalam diskusi online tersebut, selain memberikan sambutan, Chairman & Founder Indonesia Water Institute, Dr. Ir. Firdaus Ali, M.Sc. memberikan insights dan materi terkait isu krisis air bersih. Diantaranya yaitu dengan mengajak generasi muda untuk melihat masalah lingkungan perkotaan yang saat ini tengah dihadapi oleh Dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya, seperti bencana alam, kelangkaan air baku, pencemaran air, ektraksi air tanah berlebihan, serta dampak pemanasan global. Generasi muda diajak untuk bersama-sama melihat kondisi nyata terpuruknya daya lingkungan saat ini, mulai dari DKI Jakarta yang dapat dijadikan pembelajaran bagi kota-kota lain di Indonesia, karena kondisi dan tantangan tata kelola air yang dihadapi di Ibukota dan beberapa kota-kota besar di Indonesia merupakan isu yang sangat krusial, terutama ketika berbicara dalam menyiapkan masa depan. [irp] Sesuai dengan data statistik BPS 2021, populasi Indonesia saat ini 270,2 juta jiwa, dimana komposisi tersebut dibagi 25,87% adalah berasal dari usia milenial (24-39 tahun) dan 27.94% adalah dari generasi Z (8-23 tahun). Generasi inilah yang nantinya akan menghadapi tantangan peradaban, terutama terkait dengan ketersedian air, dan masalah-masalah lingkungan lainnya yang akan terus bermunculan. Generasi muda dibawa lebih jauh dalam memahami isu krisis air, baik di DKI Jakarta dan Indonesia secara keseluruhan dengan memaparkan kondisi rawan air Jakarta berdasarkan hasil kajian IWI yang menyatakan bahwa lebih dari 50% wilayah Jakarta mengalami kesulitan air. Pemahaman tersebut diperkuat dengan hasil perhitungan proyeksi kebutuhan air bersih dan analisis ketersediaan air DKI Jakarta hingga tahun 2030, yang menyatakan bahwa DKI Jakarta mengalami defisit air. Melihat urgensi dari isu krisis air bersih, disampaikan juga beberapa poin penyelesain yang dapat dilakukan, diantaranya dengan pengendalian eksploitasi air tanah, pengamanan dan penambahan suplai air baku, pengembangan infrastruktur system penyediaan air bersih, dan langkah yang sangat penting yang harus segera dilakukan adalah dengan membangun kesadaran masyarakat. Generasi muda merupakan kunci dalam melalukan perubahan mulai dari hal-hal kecil dan sederhana untuk ikut berkontribusi dalam menghadapi krisis air. [irp] Pada puncak Hari Air Dunia, yang jatuh pada tanggal 22 Maret 2021, diadakan Webinar Nasional dengan tema “Valuing Water”, dengan mengundang tiga pembicara yaitu Bapak Prof. Dr. Ir. Eko Winar Irianto, M.T. selaku Direktur Bina Teknik SDA Kementerian PUPR, Ibu Tri Mumpuni selaku Direktur IBEKA, dan Ibu Ir. Puspa Dewi Liman, MSc selaku Direktur Program TFCA Kalimantan Yayasan KEHATI. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. Ir. Eko Winar Irianto, M.T. menyampaikan gambaran terkait neraca air nasional dan upaya penanganan daya rusak air di masa pandemic covid-19. Dari paparan beliau diperoleh informasi bahwa terjadi tren kenaikan kebutuhan air bersih selama masa pandemic Covid-19 yang berdampak pada kondisi neraca air nasional sehingga dibutuhkan upaya dalam mengatasi krisis air yang terjadi sekalipun di masa pandemic. Dengan adanya kebijakan work from home dan anjuran untuk perilaku hidup bersih sehat (PHBS), berdampak pada menurunnya konsumsi air non domestic hingga 5,57% dari sebelum pandemic, sedangkan konsumsi air domestic bertambah 3 kali lipat dari pemakaian normal. Dengan demikian, pemerinta menerapkan rencana strategis sebagai upaya mengatasi krisis air diantaranya dengan peningkatan cakupan pelayanan, pemenuhan standar kualitas air minum, peningkatan pendanaan dan komitmen stakeholder, serta peningkatan kapasitas SPAM. [irp] Dari segi pendekatan masyarakat, Tri Mumpuni memberikan gambaran proyek-proyek terkait air yang diinisiasikan sebagai bagian dari gerakan perubahan menuju Indonesia yang lebih baik, terutama dalam upaya menghargai air lebih baik lagi. Melalui pemaparan beliau, dapat diketahui bahwa masyarakat sebetulnya sangat ingin untuk memperbaiki kondisi sumber daya air yang ada disekitar tempat tinggalnya, hanya saja masih dibutuhkan strategi dan rencana konkrit yang dapat dengan mudah diikuti oleh masyarakat dalam penerapannya. Ibu Tri Mumpuni juga mendorong anak muda untuk dapat berkontribusi langsung dalam upaya pemenuhan kebutuhan air dan energi di daerah-daerah marginal yang masih sulit dijangkau. Adapun dari aspek perlindungan air dan lingkungan, Ir. Puspa Dewi Liman, MSc menyampaikan program yang telah dilakukan untuk perlindungan air, diantaranya melalui konvensi Ramsar yang mengatur pengelolaan lahan basah secara berkelanjutan. Lahan basah ini yang nantinya akan berfungsi sebagai pendukung kehidupan secara langsung sebagai sumber air tawar/air minum, menyediakan pakan manusia, rumah bagi lebih dari 100.000 mahluk hidup serta memberikan mata pencaharian dan produk berkelanjutan. Secara ekologis, lahan basah berperan dalam pengendali banjir, pencegah intrusi air laut, erosi, pencemaran, dan pengendali iklim global. [irp] Bekerjasama dengan pakar sumber daya yang juga berasal dari generasi muda, serta organisasi-organisasi pemerhati lingkungan yang turut bergerak bersama generasi muda, seperti Sahabat Daur Ulang, SDA Muda, Sahabat Lingkungan, Ikatan Mahasiswa Teknik Lingkungan Indonesia, Biodiversity Warior KEHATI, dan Meloka Initiative, diskusi online berupaya untuk menggali dan menginformasikan kepada generasi muda tentang potensi yang dimiliki oleh generasi muda untuk berkontribusi nyata dalam menghadapi isu krisis air. Selain itu juga dilakukan pemberian opini dari para peserta diskusi untuk mengetahui feedback yang diperoleh dari hasil diskusi.  Dari opini yang disampaikan oleh tiga perwakilan mahasiswa