PNB_Back_Up

Strategi Kembangkan Bisnis, Intiland Bersinergi Garap Peremajaan Poins Square

BERITA PROPERTI– Tampilan yang kusam dan cenderung terlihat bagai tak terawat saat melintas di depan bangunan di Poins Square, Jakarta Selatan, tak lama lagi akan berubah total. Pasalnya, properti yang berada di persimpangan strategis antara kawasan Pondok Indah dengan Lebak Bulus menuju Ciputat itu, segara diremajakan kembali. Adalah PT Intiland Development Tbk (DILD;Intiland) melalui anak perusahaannya PT Inti Sarana Ekaraya yang akan melakukan peremejaan kawasan Poins Square tersebut. Intiland menjalin kerjasama dengan PT Menara Prambanan, guna mengembangkan mixed-use dan high rise Poins Square. Kerjasama dituangkan lewat skema joint venture ini meliputi aspek kepemilikan, pengelolaan, dan pengembangan Poins Square ke depan, khususnya pada fasilitas dan area ritel serta komersial. “Kerjasama kemitraan ini bersifat mutual bagi kedua belah pihak. Kami optimis kolaborasi ini memberikan nilai tambah bagi Poins Square. Lokasinya sangat strategis, di samping stasiun MRT (Mass Rapid Transit) Lebak Bulus, sehingga akan menjadi simpul pertemuan utama bagi warga yang memanfaatkan moda transportasi tersebut. Kami sepakat untuk membentuk PT Inti Menara Jaya dengan komposisi kepemilikan masing-masing 50 persen,” ujar Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono usai penandatanganan nota kerjasama, Kamis, 11 April 2019 di Grand Whiz Poins Square Jakarta Selatan. [irp] Kerjasama joint venture ini meliputi pengembangan, pengelolaan, penjualan atau penyewaan unit-unit strata title maupun area-area komersial yang terdapat di Poins Square seluas kurang lebih 36,2 ribu meter persegi.  Sebagai pengembang properti, Intiland memiliki beragam segmen pengembangan, seperti kawasan perumahan, mixed use & high rise, kawasan industri, dan properti investasi. Ini merupakan salah satu strategi pertumbuhan utama Intiland, selain pertumbuhan yang dilakukan secara organik. PT Menara Prambanan selaku mitra dari kerjasama ini merupakan pengembang yang membangun Poins Square. Mulai dikembangkan sejak 2005, Poins Square merupakan proyek mixed use & high rise terpadu seluas 2,5 ha di Jalan RA Kartini, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. [irp] Direktur utama PT Menara Prambanan Kiki Hamidjaja yakin kolaborasi dan kerjasama dengan Intiland memberikan nilai tambah bagi Poins Square maupun bagi para penyewa, konsumen, hingga masyarakat secara luas. Kerjasama ini mensinergikan dua pengalaman dan keahlian di bidang pengembangan properti dan pengelolaan ritel. “Sinergi ini akan melahirkan sebuah konsep baru Poins Square sebagai pusat pertemuan dan hub modern bagi masyarakat di kawasan Jakarta Selatan dan sekitarnya,” ujar Kiki Hamidjaja. Poins Square berada di kawasan Transit Oriented Development (TOD) Lebak Bulus, Jakarta Selatan. TOD merupakan kawasan mixed use terpadu yang ditetapkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang pengembangannya berbasiskan kombinasi transportasi masal seperti Bus Rapid Transit (BRT), Commuter Line, Light Rapid Transit (LRT), Kereta Rel Listrik (KRL), dan Mass Rapid Transit (MRT). [irp] Permadi Indra Yoga direktur pengembangan bisnis Intiland menegaskan kerjasama pengembangan Poins Square merupakan bagian dari strategi pengembangan proyek Intiland di tiga lokasi TOD. Saat ini Intiland memiliki empat proyek pengembangan di kawasan TOD meliputi proyek Fifty Seven Promenade yang berada di kawasan TOD Dukuh Atas, Intiland Tower di kawasan TOD Bendungan Hilir, serta Poins Square di jantung kawasan TOD Lebak Bulus, Jakarta Selatan serta kawasan South Quarter yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari stasiun Fatmawati. “Kami akan merenovasi serta mengkonsep ulang area dan fasilitas ritel dan komersial, sehingga akan ada perubahan konsep dari sebelumnya berupa trade center menjadi transit mall,” kata Yoga lebih lanjut.  Sebagai transit mall, Poins Square diposisikan menjadi hub dan meeting point baru bagi ribuan orang per hari yang berada di area ini. Penyediaan fasilitas food & beverage baru yang nyaman seperti area restoran dan kafe serta berbagai jenis makanan yang berkonsep grab and go.

Jadi Nilai Tambah, Hampir Semua Proyek Intiland Di Jakarta Dekat Jalur MRT

BERITA PROPERTI – Transportasi modern Mass Rapid Transit (MRT) Fase I dengan rute Lebak Bulus – Bundaran HI telah resmi beroperasi sejak Senin, 1 April 2019 lalu. Menariknya, hampir seluruh proyek-proyek PT Intiland Development Tbk, di Jakarta terhubung dan lokasinya berdekatan dengan MRT. Hal ini tentu sangat menguntungkan Intiland dan menjadi nilai tambah bagi properti-properti tersebut. Direktur Pengembangan Bisnis Intiland, Permadi Indra Yoga mencontohkan, proyek Intiland di jalur MRT Jakarta antara lain kawasan mixed use & high rise terpadu South Quarter (perkantoran, ritel, dan apartemen) di TB Simatupang, Fifty Seven Promenade (apartemen, perkantoran, dan ritel) di Thamrin, gedung perkantoran Intiland Tower di Sudirman dan Grand Whiz Poin Square di Lebak Bulus Jakarta. “Rata-rata jarak tiap properti tersebut dari stasiun MRT terdekatnya kurang dari 500 meter, sehingga waktu tempuh berjalan kaki kurang dari 10 menit. Bahkan Intiland Tower Jakarta berada tepat bersebelahan dengan stasiun MRT Bendungan Hilir,” ungkap Yoga pada diskusi yang membahas mengenai pengaruh positif fasilitas transportasi publik terhadap nilai investasi kawasan, di South Quarter, Jakarta, Kamis (4/4). [irp] Yoga menjelaskan, beragam moda transportasi publik modern yang dibangun oleh pemerintah memberikan manfaat nyata, bukan hanya mampu menciptakan konektivitas, efisiensi, dan meningkatkan produktivitas, tetapi juga meningkatkan nilai investasi kawasan. Dampak positif lainnya adalah terjadinya perubahan budaya dan gaya hidup masyarakat urban untuk mencapai kualitas kehidupan yang lebih baik. Permadi Indra Yoga menjelaskan tema #LivingConnected yang digaungkan oleh Intiland merupakan sebuah program kampanye untuk mengapresiasi beroperasinya fasilitas MRT, serta upaya membangun kesadaran publik untuk peningkatan kualitas hidup. Hadirnya beragam moda transportasi modern ini diyakininya membawa perubahan, seperti memudahkan konektivitas dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat dalam jangka panjang. “Intiland telah berpartisipasi secara pro-aktif dan mengantisipasi dinamika tersebut dengan menghadirkan sejumlah produk properti hunian dan perkantoran terbaik yang dilalui jalur MRT maupun moda transportasi modern lainnya. Ketersediaan fasilitas transportasi publik telah menjadi faktor kunci bagi sebagian besar masyarakat dalam memilih properti, seiring dengan munculnya kesadaran untuk mendapatkan kualitas kehidupan yang lebih baik,” tegas Yoga. [irp] Integrasi moda transportasi yang modern dan memadai, sambung Yoga, mutlak diperlukan masyarakat, dan pihaknya berusaha menjawab kebutuhan tersebut dengan menghadirkan proyek-proyek properti yang menawarkan kemudahan mobilitas dan konektivitas masyarakat dalam beraktifitas. Perubahan tersebut tidak lepas dari berkembangnya konsep Transit Oriented Development (TOD) secara terpadu, khususnya di wilayah Jakarta. Pengembangan konsep ini menciptakan konektivitas secara terpadu melalui beragam moda transportasi modern. Konsep TOD memiliki banyak keunggulan, termasuk mampu memperbaiki mobilitas masyarakat urban dan sub-urban. Yoga menceritakan salah satu kisah klasik warga Jakarta dan sekitarnya adalah kemacetan yang membuat “tua di jalan”. Sebagaimana catatan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 2007, kemacetan berdampak pada menurunnya produktivitas dan kualitas hidup warga kota. Waktu untuk beristirahat dan bercengkrama bersama keluarga dan sahabat semakin berkurang karena masyarakat harus bergegas setiap pagi dan baru pulang ketika malam menjelang. [irp] “Kami optimis pembangunan transportasi publik yang digenjot pemerintah dapat meningkatkan kualitas hidup, terutama dengan terpangkasnya waktu yang dihabiskan di perjalanan. Beroperasinya MRT akan memberi warna baru bagi kehidupan warga kota, terutama bagi mereka yang tempat tinggal atau kantornya terhubung dengan jaringan MRT,” kata Yoga. Kehadiran MRT dan moda transportasi modern lainnya pun diperkirakan akan mampu mengubah pola hidup masyarakat menjadi lebih teratur. Perubahan tersebut mungkin tidak secara langsung terjadi, tetapi memerlukan waktu karena berkaitan dengan hal yang sangat mendasar seperti kebiasaan dan budaya masyarakat.

Sembilan Bulan, Pendapatan DILD Naik 40%, Laba Bersih Turun 47%

BERITA PROPERTI – Pendapatan usaha PT Intiland Development Tbk (Intiland;DILD) periode sembilan bulan tahun 2018 mencapai sebesar Rp2,4 triliun, atau meningkat 40 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2017 sebesar Rp1,7 triliun. Pengembangan kawasan perumahan memberikan kontribusi terbesar hingga 50%. Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono dalam paparan kinerja yang disampaikan dalam keterangan resmi mengatakan, peningkatan pendapatan usaha salah satunya ditopang oleh adanya pengakuan dari penjualan tanah yang masuk kategori bukan bisnis inti. Penjualan tanah ini tercatat di segmen pengembangan kawasan perumahan. “Kontributor lainnya pada segmen ini antara lain berasal dari sejumlah proyek perumahan seperti Serenia Hills Jakarta, Graha Famili dan Graha Natura Surabaya, Talaga Bestari dan Magnolia Residence di Tangerang. Pengembangan kawasan perumahan mampu memberikan kontribusi Rp1,2 trilun atau sekitar 50 persen dari keseluruhan pendapatan usaha. Kalau dibandingkan tahun lalu, pendapatan usaha di segmen ini naik 255 persen,” ujar Archied. Segmen pengembangan mixed-use & high rise mencatatkan kontribusi pendapatan usaha sebesar Rp729,1 miliar atau 30 persen dari keseluruhan. Sementara dari segmen pengembangan kawasan industri yang berasal dari penjualan lahan di Ngoro Industrial Park di Mojokerto, perseroan memperoleh pendapatan usaha sebesar Rp54,7 miliar, atau dua persen dari keseluruhan. [irp] Segmen properti investasi perseroan yang merupakan sumber pendapatan berkelanjutan (recurring income) mencatatkan kontribusi pendapatan usaha sebesar Rp430,6 miliar atau 18 persen dari keseluruhan. Nilai pendapatan ini meningkat 24,5 persen dari pencapaian pada periode sembilan bulan tahun 2017 sebesar Rp345,9 miliar. Archied menjelaskan meningkatnya pendapatan dari segmen properti investasi terutama ditopang oleh naiknya pendapatan sewa ruang perkantoran, seperti South Quarter dan Intiland Tower. Selain dari penyewaan ruang perkantoran, pendapatan dari segmen ini berasal dari penyewaan ruang ritel, pergudangan, serta pengelolaan klub olahraga dan lapangan golf. Ditinjau berdasarkan tipe sumber pendapatan usahanya, pendapatan pengembangan (development income) memberikan kontribusi Rp2 triliun atau mencapai 82 persen dari keseluruhan. Sisanya berasal dari segmen recurring income yang tercatat sebesar Rp430,6 miliar atau memberikan kontribusi sekitar 18 persen. Dikatakan Archied, meskipun pendapatan usaha meningkat, namun kinerja profitabilitas perseroan di sembilan bulan 2018 mengalami tren penurunan. Perseroan mencatatkan perolehan laba kotor sebesar Rp719 miliar atau meningkat tipis dibandingkan periode yang sama tahun 2017 yang mencapai Rp706 miliar. [irp] Perseroan membukukan laba usaha sebesar Rp202,1 miliar atau turun 20,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laba bersih perseroan tercatat mencapai Rp123 miliar, atau mengalami penurunan sebesar 47 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp233 miliar. “Laba bersih turun terutama karena meningkatnya beban bunga pinjaman untuk modal kerja penyelesaian konstruksi proyek-proyek. Faktor lainnya karena adanya penurunan margin laba kotor yang disebabkan adanya penjualan non-core asset dan meningkatnya beban penjualan,” jelas Archied. Dari sisi kinerja penjualan, perseroan sampai sembilan bulan 2018 berhasil membukukan nilai marketing sales sebesar Rp1,6 triliun atau 46 persen dari target tahun ini. Perolehan tersebut lebih rendah 40 persen dibandingkan perolehan marketing sales per 30 September 2017 yang mencapai Rp2,7 triliun. Segmen pengembangan mixed-use dan high rise tercatat masih memberikan kontribusi marketing sales terbesar senilai Rp1,1 triliun, atau 71 persen dari keseluruhan. Segmen pengembangan kawasan perumahan menjadi kontributor marketing sales terbesar kedua yang mencapai Rp405 miliar atau 26 persen dari keseluruhan. Penjualan terbesar di segmen ini berasal dari proyek Graha Natura di Surabaya dan Serenia Hills Jakarta. [irp] Segmen pengembangan kawasan industri membukukan nilai marketing sales Rp45 miliar atau tiga persen dari keseluruhan. Kontribusi tersebut berasal dari penjualan lahan industri di Ngoro Industrial Park Mojokerto, Jawa Timur. Menurut Archied, ditinjau dari lokasi pengembangannya, kontribusi marketing sales terbesar berasal dari proyek-proyek di Jakarta dan sekitarnya yang mencapai RpRp1,2 triliun atau 80 persen. Sementara sisanya berasal dari penjualan proyek-proyek di Surabaya yang mencapai Rp319 miliar atau 20 persen dari keseluruhan.

Triwulan Pertama 2018, Intiland Bukukan Penjualan Rp966 Miliar

BERITA PROPERTI – PT Intiland Development Tbk (Intiland) menargetkan penjualan pemasaran (marketing sales) tahun ini sebesar Rp3,3 triliun. Hingga akhir triwulan pertama 2018, Perseroan telah membukukan marketing sales sebesar Rp966 miliar, atau setara 29,3 persen dari target. Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono mengatakan, pihaknya optimis pasar properti tahun ini akan membaik. Perseroan telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mengantisipasi perubahan pasar dan pulihnya minat beli dan investasi masyarakat terhadap sektor properti. “Kami optimis pasar properti membaik. Kami memberi kesempatan untuk konsumen dan investor agar dapat memanfaatkan momentum yang baik ini. Kondisi pasar properti sepanjang tahun 2017 cukup menantang. Namun kamu masih cukup berhasil menjaga kinerja dan pertumbuhan usaha, baik secara keuangan maupun penjualan,” kata Archied usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan dan RUPS Luar Biasa, Jumat (20/4). Lebih lanjut Archied jelaskan, tahun ini Intiland merencanakan untuk meluncurkan beberapa beberapa proyek baru. Salah satunya yang sedang disiapkan adalah Tierra, sebuah proyek pengembangan mixed-use & high rise terpadu di kawasan Surabaya Barat, Jawa Timur. Proyek baru tersebut memiliki skala pengembangan cukup besar dan jangka panjang. Menempati area seluas 7,5 hektar, pengembangan Tierra dilakukan dalam beberapa tahapan yang meliputi apartemen, gedung perkantoran, komersial, shopping district, hotel, hingga penyediaan area terbuka yang luas. Pengembangan tahap pertama meliputi pembangunan dua tower apartemen setinggi 24 lantai dan 14 lantai. Dari dua tower tersebut, Perseroan akan memulai dari pembangunan satu tower apartemen yang menyediakan sebanyak 638 unit. Proyek Tierra menjadi salah satu key project Intiland untuk pengembangan jangka panjang. Intiland juga telah meluncurkan “Intiland Smart Deal”, sebuah program promosi penjualan (marketing campaign) terpadu yang menawarkan banyak kemudahan dan keuntungan bagi konsumen untuk pembelian produk properti Intiland. Program ini menawarkan kemudahan dan keuntungan bagi konsumen untuk pembelian maupun berinvestasi pada produk-produk Intiland dan berlaku hingga 31 Mei 2018 ini. Terkait agenda RUPS Tahunan dan RUPS Luar Biasa, para pemegang saham perseroan menyetujui dan menerima laporan pertanggungjawaban manajemen dan rencana-rencana perseroan yang tertuang di dalam agenda rapat. Perseroan juga mendapat persetujuan dari pemegang saham atas usulan perubahan susunan direksi dan pengangkatan satu anggota direksi baru. Direktur perseroan Utama Gondokusumo menempati posisi baru sebagai Wakil Direktur Utama dan Chief Operating Officer serta pengangkatan Permadi Indra Yoga sebagai salah satu anggota direksi perseroan. Para pemegang saham juga telah menyetujui rencana perseroan untuk tidak membagikan dividen untuk tahun buku 31 Desember 2017. Seluruh laba bersih yang dibukukan akan digunakan untuk menambah modal kerja seiring dengan kondisi perusahaan yang berkembang pesat. “Kami perlu memperkuat modal kerja untuk pengembangan usaha,” ungkap Archied. Selain menyetujui agenda RUPS Tahunan, pemegang saham juga menyetujui rencana Perseroan untuk menerbitkan obligasi dengan nilai sebesar maksimal USD 250 juta dalam kurun waktu dua tahun sejak disetujui. Rencana penerbitan obligasi dalam bentuk USD merupakan langkah perseroan untuk mengatur keragaman profil sumber pembiayaan strategis seiring dengan usaha perseroan yang tumbuh pesat. “Dana hasil penerbitan obligasi akan digunakan untuk menambah modal kerja dan re-financing sebagian hutang,” ungkap Archied.

Intiland Terus Garap Potensi Pasar Surabaya

BERITA PROPERTI – PT Intiland Development Tbk (Intiland, DILD) terus memperkuat kinerja usaha melalui peluncuran proyek-proyek baru maupun proyek yang sedang dikembangkan. Pasca sukses memasarkan proyek baru, Fifty Seven Promenade di Jakarta, perseroan juga akan terus menggarap potensi pasar properti di Surabaya, Jawa Timur, lewat pengembangan pada produk hunian, perkantoran, kawasan industri, hingga komersial. Wakil Presiden Direktur dan Chief Operating Officer Intiland Sinarto Dharmawan menjelaskan pasar properti di kota Surabaya memiliki prospek dan peluang yang baik. Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia dan menjadi pusat perekonomian dan bisnis untuk kawasan Indonesia bagian timur, pasar properti Surabaya terus mengalami pertumbuhan secara positif, sejalan dengan pertumbuhan perekonomian dan infrastruktur daerah. “Kami mendapatkan respon pasar yang baik terhadap proyek-proyek properti yang kami kembangkan. Sebagai developer, kami berusaha memenuhi beragam kebutuhan properti para konsumen, seperti untuk hunian, komersial, hingga mampu memberikan nilai tambah dalam menunjang gaya hidup saat ini,” kata Sinarto. Pasar properti di Surabaya memiliki peran strategis bagi prospek usaha Intiland. Di kota ini, perseroan memiliki beragam pengembangan produk yang inovatif, mulai dari kawasan perumahan, perkantoran, apartemen, kawasan industri, komersial dan ritel, hingga pengelolaan lapangan golf dan sarana olah raga. Berdasarkan hasil perolehan pendapatan penjualan (marketing sales) perseroan periode sembilan bulan tahun ini, kontribusi pasar Surabaya mencapai Rp787 miliar. Jumlah tersebut setara dengan 26% total perolehan marketing sales perseroan yang tercatat mencapai Rp3 triliun. Sinarto mengakui bahwa tantangan pasar properti di Surabaya cukup berat di sepanjang tahun ini. Perseroan juga merasakan adanya tren penurunan tingkat permintaan pasar, khususnya untuk produk- produk di segmen mixed-use & high rise, seperti apartemen, komersial dan perkantoran. Namun demikian, Sinarto optimistik pasar properti akan berangsur-angsur membaik. Permintaan lahan kawasan industri, misalnya, justru mengalami pertumbuhan tahun ini dengan angka penjualan dari proyek Ngoro Industrial Park di Mojokerto seluas 28 hektar dengan nilai sekitar Rp531 miliar.

Coba Ini ! Sensasi Tidur Di Capsule Hotel

LEISURE – Pada ajang Indonesia Property&Bank Award (IPBA) 2017 lalu, Intiland Development mendapat penghargaan sebagai The Most Innovative Developer. Perusahaan ini memang dikenal banyak mengembangkan produk-produk properti yang inovatif. Salah satunya adalah Capsule Hotel yang diluncurkan oleh PT Intiwhiz International, management jaringan Hotel Whiz anak usaha PT. Intiland Development, Tbk Capsule Hotel merupakan konsep hotel terbaru yang saat ini mulai menjadi tren di Indonesia. Di sejumlah negara berkembang, konsep Capsule Hotel sudah lama diterapkan. Kini, Intiwhiz mengembangkan konsep yang sangat inovatif dan efisien ini di Whiz Capsule Trawas, Mojokerto, Jawa Timur. Jadi, tidak perlu lagi keluar negeri guna menikmati Capsule Hotel. Whiz Capsule Trawas dijamin akan memberikan pengalaman yang tidak akan terlupakan bagi siapapun yang akan menginap. Konsep Whiz Capsule Hotel diperuntukan hanya untuk satu tamu di dalam Capsule Bed, dimana mereka akan menginap di sebuah kamar yang berbentuk seperti Capsule. Di dalam ruangan Capsule terdapat fasilitas pendukung untuk mendukung kenyamanan tamu seperti Televisi, Earphone, Meja Baca, Pendingin Ruangan dan dilengkapi Lampu Baca. “Guna menyiasati kompetisi di industri perhotelan, maka kami melakukan sebuah inovasi terbaru yang tergolong tidak biasa. Dengan hadirnya Whiz Capsule Hotel ini, kami harapkan dapat meningkatkan pelayanan serta dapat meningkatkan daya saing kami terhadap hotel-hotel lain di wilayah Mojokerto,” ujar Corporate GM Sales & Marketing Intiwhiz Hospitality Management Edi Syumardi di Trawas, Mojokerto, Jawa Timur beberapa waktu lalu. Pihaknya, sambung Edi, optimis dengan target persentasi tingkat hunian kamar atau market share sebesar 60% hingga 6 bulan kedepan, di mana pesentasi terbesar dari total pangsa pasar adalah wisatawan. Dan dalam waktu dekat ini, Intiwhiz segera meresmikan Grand Bromo Capsule di kawasan wisata Bromo. “Kami berharap konsep baru ini bisa menjadi pilihan akomodasi untuk para tamu. Saat pembukaan perdana ini, kami berikan harga Rp 250.000 net termasuk sarapan pagi untuk 1 orang. Tamu juga dapat menikmati fasilitas-fasilitas lain yang ada di sekitar area Capsule Hotel,” imbuh General Manager Grand Whiz Hotel Trawas Mojokerto Danny Budiman.

Intiwhiz Resmikan Hotel ke 21 Di Kota Malang

BERITA PROPERTI – Jaringan hotel Whiz bertambah lagi menjadi 21 hotel, usai PT Intiwhiz International secara resmi mulai mengoprasikan Whiz Prime Hotel Basuki Rahmat Malang, Sabtu 11 November 2017 lalu. Intiwhiz merupakan anak perusahaan PT. Intiland Development, Tbk yang bergerak di bidang Hospitality Management. President Director Intiwhiz Hospitality Management Moedjianto S. Tjahjono mengatakan, keberadaan hotel ini merupakan jawaban atas kebutuhan hotel bintang 3 yang tidak hanya menawarkan kenyamanan namun juga lokasi yang strategis. Diharapkan hotel ini dapat menambah pilihan akomodasi dan bisa menjadi salah satu hotel favorit di kota Malang. “Kami optimis Whiz Prime Hotel Basuki Rahmat Malang mampu bersaing dan menjadi salah satu Hotel pilihan utama di Malang dengan target persentasi tingkat hunian kamar atau market share sebesar 60% hingga 6 bulan kedepan. Persentasi terbesar dari total pangsa pasar adalah wisatawan dan pekerja yang melakukan perjalanan dinas,” ujar Moedjianto S saat peresmian. Whiz Prime Hotel Basuki Rahmat Malang berlokasi di tengah kota Malang tepatnya di Jalan Basuki Rahmat No. 85-87 Malang. Lokasinya hanya berjarak 5 menit menuju Alun-Alun kota Malang, Stasiun kereta api Malang, pusat perkantoran dan Pusat Perbelanjaan. Terdapat 70 kamar yang terdiri dari 2 tipe kamar superior dan deluxe, dilengkapi dengan fasilitas restoran, kolam renang, meeting room, spa, dan internet corner. “Tahun depan kami menargetkan menjadi salah satu dari 3 hotel papan atas di wilayah Malang berdasarkan tingkat hunian kamar. Sedangkan MICE (meeting, incentive, convention, and exhibition) and leisure, kami lengkapi dengan ruang meeting berkapasitas hingga 100 orang,” jelas Corporate GM Sales & Marketing Intiwhiz Hospitality Management Edi Syumardi. Sementara itu, Hotel Manager Whiz Prime Basuki Rahmat Malang Azis Sismono mengatakan, pertumbuhan kota Malang serta kegiatan bisinis dan pariwisata yang berkembang pesat, menjadi salah satu alasan Intiwhiz untuk berekspansi ke kota ini dengan mengoperasikan Whiz Prime Hotel Basuki Rahmat Malang. Intiwhiz Hospitality Management berdiri sejak tahun 2008 dengan hotel pertama di tahun 2010 yaitu, Whiz Hotel Malioboro Yogyakarta. Jaringan hotel ini memliki 3 brand yaitu, Whiz Hotel (**), Whiz Prime Hotel (***), Grand Whiz Hotel (****), dan 1 Other brand yaitu Swift Inn (**). Saat ini 20 Hotel tersebar di seluruh Indonesia yakni , Jakarta, Bogor, Tangerang, Cilacap, Mojokerto, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Bali, Balikpapan, Makassar, Manado, Lampung, Pekanbaru, dan Malang. Berikut ini list Hotel Whiz berdasarkan klasifikasi brand : Whiz Hotel Whiz Hotel Malioboro Yogyakarta Whiz Hotel Pemuda Semarang Whiz Hotel Cikini Jakarta Whiz Hotel Sudirman Pekanbaru Whiz Hotel sudirman Cilacap Whiz Hotel Falatehan Jakarta Whiz Prime Hotel Whiz Prime Hotel Kelapa Gading Jakarta Whiz Prime Hotel Balikpapan Whiz Prime Hotel Darmo Harapan Surabaya Whiz Prime Hotel Megamas Manado Whiz Prime Hotel Pajajaran Bogor Whiz Prime Hotel Hasanuddin Makassar Whiz Prime Hotel Ahmad Yani Lampung Whiz Prime Hotel Malioboro Yogyakarta Whiz Prime Hotel Sudirman Makassar Whiz Prime Basuki Rahmat Malang Whiz prime Hotel Khatib Sulaiman Padang (segera beroperasi tahun ini) Grand Whiz Hotel Grand Whiz Hotel Nusa Dua Bali Grand Whiz Kelapa Gading Jakarta Grand Whiz Poins Square Jakarta Grand Whiz Hotel Trawas Mojokerto Others Brand Swift in Aeropolis

Hingga 30 September, Pendapatan Intiland Rp1,7 T

BERITA PROPERTI – PT Intiland Development Tbk (Intiland;DILD) berhasil membukukan pendapatan usaha sebesar Rp1,7 triliun, atau naik 4,1 persen dibandingkan perolehan yang dibukukan pada periode yang sama tahun 2016 sebesar Rp1,66 triliun. Demikian laporan hasil kinerja keuangan untuk periode sembilan bulan tahun 2017 yang berakhir pada 30 September. “Meningkatnya pendapatan usaha didorong oleh peningkatan pengakuan penjualan segmen industri sebesar Rp551 miliar. Penjualan dari segmen ini memberikan kontribusi sebesar 31,9 persen dari total seluruh pendapatan usaha perseroan,” ujar Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono dalam keterangan tertulis. Dikatakan Archied, pada sembilan bulan tahun ini, penjualan lahan industri memberikan kontribusi cukup besar terhadap pendapatan usaha. Peningkatan ini terutama berasal dari pengakuan penjualan lahan industri Ngoro Industrial Park ke perusahaan otomotif pada triwulan kedua tahun ini. Selain dari kawasan industri, kata Archied, kontribusi pendapatan usaha terbesar setelah kawasan industri berasal dari pengembangan mixed-use dan high rise yang tercatat mencapai Rp490,8 miliar atau setara dengan 28,4 persen. Kontribusi terbesar pada segmen ini berasal dari proyek apartemen 1Park Avenue di Jakarta Selatan. Sementara untuk segmen pengembangan kawasan perumahan tercatat membukukan pendapatan usaha sebesar Rp339,3 miliar, atau memberikan kontribusi sebesar 19,6 persen dari keseluruhan. Proyek kawasan perumahan Serenia Hills di Jakarta Selatan tercatat sebagai kontributor terbesar di segmen ini mencapai Rp232 miliar. “Segmen properti investasi yang merupakan sumber pendapatan berkelanjutan (recurring income) bagi perseroan mencatatkan kontribusi pendapatan usaha Rp345,9 miliar atau 20 persen dari keseluruhan. Perolehan ini melonjak 38 persen dari pencapaian pada periode sembilan bulan tahun 2016 sebesar Rp250,4 miliar,” jelas Archied. Menurut Archied, meningkatnya kontribusi pendapatan dari segmen properti investasi lebih didorong naiknya pendapatan dari penyewaan ruang perkantoran yang memberikan kontribusi total sebesar Rp162,6 miliar. Selain dari hasil penyewaan ruang perkantoran, pendapatan dari segmen properti investasi juga diperoleh perseroan dari penyewaan ritel, pergudangan, serta pengelolaan klub olahraga dan lapangan golf. Sedangkan jika berdasarkan tipe sumber pendapatan usaha, maka pendapatan pengembangan (development income) tercatat memberikan kontribusi sebesar Rp1,4 triliun atau mencapai 80 persen dari keseluruhan. Sisanya berasal dari segmen recurring income yang tercatat sebesar Rp345,9 miliar atau memberikan kontribusi sekitar 20 persen. Dari kinerja profitabilitasnya, Archied mengungkapkan bahwa Intiland mencatatkan perolehan laba kotor sebesar Rp705,9 miliar dan laba usaha mencapai Rp276,7 miliar. Pencapaian ini relatif stabil dibandingkan pencapaian pada periode yang sama tahun 2016 yang masing-masing mencapai Rp709,3 miliar dan Rp273 miliar. Perseroan pada sembilan bulan pertama tahun ini berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp168 miliar. Jumlah tersebut lebih rendah 18 persen dibanding perolehan laba bersih pada periode periode yang sama tahun lalu yang tercatat mencapai Rp205 miliar. “Penurunan laba bersih terutama disebabkan meningkatnya beban bunga pinjaman untuk modal kerja penyelesaian konstruksi proyek-proyek,” jelas Archied. Saat ini, lanjut Archied, terlihat mulai membaiknya pasar properti dengan membaiknya hasil penjualan perseroan, khususnya di triwulan ketiga tahun ini. Perseroan pada periode sembilan bulan 2017 berhasil meraih pendapatan penjualan (marketing sales) sebesar Rp3 triliun, atau naik 115 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2016. Pencapaian tersebut setara 131 persen dari target perseroan yang ditetapkan pada awal tahun sebesar Rp2,3 triliun. “Kami terus meninjau pergerakan pasar properti. Fokus kami saat ini adalah pada pemasaran proyek-proyek yang sudah berjalan,” kata Archied.

Bermitra, Intiland Bangun 106 Unit Rumah Murah

BERITA PROPERTI – Guna ikut membangun rumah murah dan mendukung program sejuta rumah, PT Intiland Development Tbk (Intiland) menggandeng sejumlah pengembang daerah. Kemitraan dengan Intiland ini melibatkan tiga pengembang, yaitu PT Multi Bangun Realtindo (MBR), PT Menara Tinggi Bertumbuh (MTB) dan PT Cipta Griya Sriwijaya (CGS). Penandatanganan kemitraan dilakukan Selasa (24/10) kemarin, dilakukan oleh Sekretaris Perseroan Intiland Theresia Rustandi, Direktur MBR Dadang Juhro, Direktur Utama MTB Tomi Wistan dan Direktur Utama CGS Oka Moerad. Penandatanganan disaksikan oleh Presiden Direktur Intiland Development yang juga Wakil Ketua KADIN Hendro Gondokusumo. “Kemitraan ini merupakan bagian dari pelaksanaan program CSR yang bertujuan membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia. Dengan kemitraan ini kami ingin merangkul semua pihak yang punya kepedulian yang sama dalam memberikan solusi penyediaan hunian yang layak di daerah dengan menggandeng pengembang,” ujar Theresia. Program pertama kemitraan ini akan membangun sebanyak 106 unit rumah sederhana (RSH) yang mendapatkan fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) di lahan seluas 1 hektar (ha). Lokasi pembangunan perumahan ini telah ditetapkan di kawasan perumahan Puri Permata Indah, Pacitan, Jawa Timur, yang merupakan lahan milik Intiland. Puri Permata Indah merupakan kawasan perumahan seluas 4 ha yang dikembangkan Intiland sejak tahun 2007. Saat ini Intiland telah merampungkan pengembangan tahap pertama untuk lahan seluas 3 ha. “Kami memberikan apresiasi dan menyambut baik kerja sama ini. Kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif solusi dan mendorong pengembangan perumahan rakyat yang berkualitas di daerah-daerah,” ujar Direktur Utama MTB, Tomi Wistan. Dikatakan Tomi yang sempat menjabat Ketua DPD REI Sumatera Utara ini, sebagai pengembang daerah, dengan adanya dukungan dari Intiland ini, akan membantu mempercepat pembangunan rumah rakyat, sekaligus juga membantu meningkatkan kualitas pembangunan di daerah sesuai standar nasional.

Program CSR, Intiland Kembali Gandeng Habitat

SEKITAR KITA – PT Intiland Development Tbk melalui Yayasan Intiland Foundation melanjutkan program CSR (corporate social responsibility) yang bekerjasama dengan Habitat for Humanity Indonesia. Program yang dilakukan sebelumnya dengan Habitat meliputi Pengembangan Perumahan Berbasis Komunitas. “Bersama Habitat, yang merupakan salah satu rangkaian program Intiland Teduh yang telah dilaksanakan sejak tahun 2016. Tujuan utama dari program ini adalah memberikan bantuan pembangunan bagi masyarakat tidak mampu, yang lokasinya berada disekitar proyek yang dikembangkan Intiland,” ujar Head of CSR Intiland Theresia Rustandi usai penandantanganan kerjasama CSR dengan Habitat, di arena Intiland Expo 2017, Jumat (13/10). Habitat for Humanity Indonesia merupakan lembaga nirlaba yang berpengalaman menyalurkan rumah kepada masyarakat yang membutuhkan. “Kami mengapresiasi Intiland sebagai perusahaan yang berkomitmen untuk membantu masyarakat kurang mampu untuk memperoleh kesempatan hidup yang layak,” ujar Senior Manager of Field Operation Habitat Indonesia Herbet Barimbing. Kerjasama Intiland Teduh dengan Habitat sebelumnya meliputi renovasi rumah warga di desa Pekong, Tangerang. Desa ini berada dekat dengan proyek Talaga Bestari yang dikembangkan oleh Intiland Development. Sebanyak 25 unit rumah yang sudah di renovasi seperti sarana MCK dan ruangan lainnya, diserahkan kepada warga yang berhak menerimanya. Program pengembangan rumah berbasis komunitas Intiland Teduh ini melibatkan partisipasi aktif masyarakat setempat untuk proses pembangunan tiap-tiap rumah. Setiap kepala keluarga penerima bantuan diwajibkan turut terlibat langsung dalam pembangunan bersama tim dari Habitat, warga setempat dan relawan Intiland. “Kebijakan ini bertujuan menumbuhkan rasa memiliki dan membentuk komunitas desa yang lebih kuat. Program ini tidak hanya berhenti pada pembangunan rumah namun juga pengembangan komunitas dan berbagi informasi mengenai pola hidup sehat,” ujar Theresia yang enggan menjelaskan berapa anggaran perseroan untuk program ini. Selain kerjasama dengan Habitat untuk program ini, Intiland juga aktif menjalankan program CSR lainnya seperti pembangunan tiga Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA) bersama pemerintah DKI Jakarta di Karet Tengsin (Jakarta Pusat), Rawa Buaya (Jakarta Barat) dan Semper (Jakarta Utara). Program lainnya adalah pemberian bantuan sewa bagi penghuni di tiga Rusunawa yakni Pesakih, Pinus Elok dan Marunda. Intiland Teduh juga bekerjasama dengan lembaga lainnya seperti REI dalam pembangunan Rusunami. Saat ini Intiland tengah mempersiapkan pembangunan rumah susun di wilayah Jakarta.