PNB_Back_Up

Jababeka dan China Silk Road Bentuk Innovation Center, Perkuat Investasi RI–Tiongkok

jababeka

Propertynbank.com – PT Jababeka Tbk (Jababeka Group) menjalin kemitraan strategis dengan China Silk Road Group Ltd, perusahaan multinasional yang aktif dalam jaringan Belt and Road, dengan membentuk China–Indonesia Innovation & Cooperation Center. Kolaborasi lintas negara ini untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi investasi strategis. Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama yang berlangsung di President Lounge, Menara Batavia, Jakarta Pusat, pada Kamis (23/04/2026). Penandatanganan dilakukan oleh Founder dan Chairman Jababeka, Setyono Djuandi (SD) Darmono, bersama Chairman China Silk Road Group Ltd, Lijin Yan, serta disaksikan sejumlah tokoh dari kedua pihak. Kolaborasi ini menjadi langkah konkret dalam menghadirkan platform terintegrasi yang menghubungkan peluang investasi, industri, dan perdagangan antara Indonesia dan Tiongkok. Kehadiran Innovation & Cooperation Center diharapkan mampu menjadi jembatan utama dalam mendorong arus investasi dua arah sekaligus memperkuat kerja sama bisnis lintas negara. SD Darmono mengatakan, melalui pusat kolaborasi ini, perusahaan-perusahaan asal Tiongkok akan difasilitasi untuk berekspansi ke Indonesia dengan dukungan ekosistem industri yang telah terintegrasi. Di sisi lain, pelaku usaha nasional juga didorong untuk memperluas penetrasi produk ke pasar Tiongkok yang memiliki potensi besar. “Kerja sama ini sebagai momentum penting untuk membangun ekosistem industri yang berkelanjutan di Indonesia. Kolaborasi ini tidak hanya berfokus pada masuknya investasi, tetapi juga memastikan kesiapan infrastruktur, kemudahan perizinan, hingga konektivitas dengan rantai pasok lokal,” ungkap SD Darmono di sela-sela penandatanganan kerjasama. Jababeka membawa pengalaman lebih dari tiga dekade dalam pengembangan kawasan industri dan kota mandiri, termasuk pengelolaan kawasan ekonomi khusus dan integrasi kawasan industri dengan hunian. Sementara itu, China Silk Road Group memiliki kekuatan dalam jaringan global, promosi investasi, serta akses pasar internasional, khususnya Tiongkok. Selain itu, peluang ekspor produk Indonesia ke pasar Tiongkok juga menjadi bagian penting dalam kerja sama ini. “Dengan demikian, hubungan yang terjalin tidak hanya bersifat satu arah, tetapi mampu menciptakan manfaat yang seimbang bagi kedua negara,” tegas SD Darmono. Lebih lanjut SD Darmono menambahkan, kerja sama ini akan difokuskan pada pengembangan sektor-sektor strategis seperti smart city, layanan kesehatan berbasis teknologi, pertanian modern, energi, hingga keuangan digital. “Pendekatan berbasis lokalisasi juga akan diterapkan agar teknologi dan inovasi yang dibawa dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat Indonesia,” ujarnya. Sebagai bagian dari implementasi, kedua pihak juga akan mengembangkan berbagai inisiatif pendukung seperti forum ekonomi, pameran bisnis, penguatan jaringan logistik, serta pembangunan showroom di Beijing dan Jakarta sebagai sarana promosi bersama. Sementara itu, Lijin Yan menilai bahwa pembentukan China–Indonesia Innovation & Cooperation Center hadir pada momentum strategis, di tengah penguatan hubungan ekonomi kedua negara yang memasuki fase pertumbuhan berkualitas tinggi. Ia melihat potensi besar pada sektor ekonomi digital, kecerdasan buatan, hingga manufaktur cerdas yang dapat dikembangkan secara kolaboratif. Jababeka Optimis Dorong Investasi Langkah awal dari kerja sama ini akan diwujudkan melalui pengembangan proyek percontohan, termasuk rencana peluncuran Jababeka Digital Park seluas 500 hektar yang dijadwalkan diperkenalkan pada World Digital Economic Forum di Beijing pada Juli 2026. “Melalui kolaborasi strategis ini, Jababeka dan China Silk Road Group optimistis dapat mendorong pertumbuhan investasi yang lebih inklusif dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat konektivitas ekonomi antara Indonesia dan Tiongkok di era transformasi digital,” tutup SD Darmono.

Kota Wisata Industri Jababeka, Terobosan Baru Perkuat Ekosistem Manufaktur Nasional

kota wisata industri

Propertynbank.com – Kota Jababeka memperkenalkan pengembangan kota wisata industri sebagai salah satu konsep baru dan strategi menghadapi tantangan deindustrialisasi dini yang mulai dirasakan sektor manufaktur nasional. Melalui pendekatan ini, kawasan industri tidak lagi hanya berfungsi sebagai pusat produksi, tetapi juga berkembang menjadi destinasi edukasi, promosi industri, dan wisata berbasis pengalaman. Inisiatif tersebut digagas oleh pengembang kawasan PT Jababeka Tbk yang ingin mengintegrasikan kekuatan industri dengan potensi pariwisata berbasis manufaktur. Konsep kota wisata industri diharapkan mampu menciptakan nilai tambah baru bagi sektor industri sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. President Director PT Graha Buana Cikarang, Ivonne Anggraini, menjelaskan bahwa masa depan kawasan industri tidak lagi hanya berfokus pada aktivitas produksi semata. Menurutnya, kawasan industri perlu berkembang menjadi ruang pembelajaran, kolaborasi, dan inovasi yang mampu memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat dan pelaku usaha. “Pengembangan kota wisata industri merupakan bentuk komitmen kami untuk memperkuat revitalisasi manufaktur sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat, pelaku usaha, dan investor global,” ujar Ivonne di Jakarta, Jumat (6/3). Ia menambahkan, transformasi kawasan industri menjadi destinasi wisata berbasis industri merupakan langkah strategis untuk memperluas fungsi industri dari sekadar pusat produksi menjadi pusat pengalaman dan pengetahuan. Dengan pendekatan tersebut, Jababeka berharap dapat memperkuat daya saing industri nasional di tengah perubahan ekonomi global yang semakin dinamis. Ekosistem Kota Industri Global Sebagai kota mandiri terintegrasi, Kota Jababeka telah berkembang menjadi kawasan hunian, industri, bisnis, dan pendidikan berskala global. Saat ini kawasan tersebut dihuni sekitar 1,2 juta penduduk dengan komunitas internasional yang terdiri dari lebih dari 10.000 ekspatriat. “Keberagaman latar belakang masyarakat ini menciptakan ekosistem global yang dinamis sekaligus mendorong interaksi lintas budaya yang produktif bagi pertumbuhan ekonomi kawasan,” imbuh Ivonne Anggraini. Di kawasan ini, sambungnya, juga beroperasi lebih dari 2.000 perusahaan nasional maupun multinasional. Keberadaan ribuan perusahaan tersebut membuka peluang lahirnya konsep wisata industri yang unik dan edukatif. Didukung dengan hotel bintang 3 hingga bintang 5, transportasi dan aksesibilitas yang lancar serta pilihan transportasi umum yang cepat dan modern seperti Commuter Line (KRL) dan TransJakarta. “Melalui konsep ini, masyarakat dapat berbelanja langsung dari pabrik, pelajar memperoleh kesempatan mempelajari proses produksi secara nyata, sementara investor dapat melihat secara langsung potensi bisnis dan ekosistem industri yang berkembang di kawasan tersebut,” ungkapnya. Transformasi ini juga diperkuat melalui kolaborasi antara sektor industri global, pariwisata budaya, serta pemberdayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sinergi tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusif dan berdaya saing. “Kami percaya bahwa industri yang kuat harus tumbuh bersama masyarakat di sekitarnya. Integrasi sektor industri, pariwisata, dan UMKM akan menciptakan perputaran ekonomi yang lebih inklusif serta membuka peluang usaha baru bagi masyarakat lokal,” tambah Ivonne. Pemerintah Daerah Dukung Kota Wisata Industri Gagasan kota wisata industri ini juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bekasi, Andri Julianto, menilai konsep tersebut sebagai langkah progresif dalam memperluas potensi pariwisata daerah. Menurutnya, wisata industri memiliki potensi besar untuk memperluas segmentasi pasar wisata, khususnya wisata edukasi dan business tourism, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang lebih merata. “Kami melihat deklarasi Kota Jababeka sebagai kota wisata industri sejalan dengan upaya diversifikasi destinasi pariwisata daerah,” ujarnya. Sebagai implementasi dari visi kota wisata industri, Jababeka menghadirkan Jababeka Harmony Festival 2026 yang berlangsung pada 6–8 Maret 2026. Festival ini menjadi ruang kolaborasi antara ekosistem industri global, pariwisata budaya, serta lebih dari 100 UMKM lokal. Acara tersebut juga memadukan perayaan Cap Go Meh dan Festival Ramadan dalam satu panggung yang mencerminkan harmoni keberagaman budaya di kawasan Jababeka. Selain kegiatan budaya dan ekonomi kreatif, festival ini juga menghadirkan berbagai kegiatan sosial dan charity yang melibatkan tenant industri, masyarakat, serta pengelola kawasan. “Kami juga menyiapkan langkah strategis lanjutan melalui pengembangan Jababeka Factory Outlet (JFO) yang dirancang sebagai ikon wisata industri di kawasan tersebut. JFO akan menjadi ruang showcase bagi produk manufaktur para tenant Jababeka,” tutur Ivonne. Pengunjung tidak hanya dapat membeli produk langsung dari produsen dengan harga kompetitif, tetapi juga memahami proses produksi, inovasi, serta standar kualitas industri yang diterapkan perusahaan-perusahaan di kawasan tersebut. Ivonne menambahkan, ekosistem kawasan yang stabil, kolaboratif, dan terbuka terhadap keberagaman budaya menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan investor. “Pengembangan kota wisata industri ini tidak hanya memperkuat fondasi ekonomi kawasan, tetapi juga menunjukkan kesiapan kami menjadi mitra strategis investasi jangka panjang sekaligus model solusi inovatif menghadapi tantangan deindustrialisasi dini di Indonesia,” pungkasnya.

Serapan Kawasan Industri di 2025 Didominasi Sektor EV dan Manufaktur

kawasan industri, sektor industri

Propertynbank.com – Kawasan industri di Greater Jakarta menunjukkan ketahanan yang solid di tengah tekanan global dan dinamika penyesuaian rantai pasok regional. Strategi diversifikasi produksi yang dikenal dengan pendekatan China+1 maupun China+many terus mendorong relokasi basis manufaktur ke kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia yang dinilai semakin kompetitif. Greater Jakarta kini tidak hanya menjadi pusat aktivitas ekonomi nasional, tetapi juga berkembang sebagai ekosistem industri paling matang di Tanah Air. Dukungan infrastruktur yang terintegrasi, mulai dari akses pelabuhan, jaringan jalan tol, hingga ketersediaan tenaga kerja menjadi daya tarik utama bagi investor, baik untuk ekspansi maupun pengembangan fasilitas baru. Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat mengatakan, memasuki akhir 2025, total stok kawasan industri di Greater Jakarta tercatat mencapai sekitar 15.920 hektar, dengan tambahan pasokan baru terutama di koridor Timur. Penambahan ini membuat pasar bergerak semakin selektif dan kompetitif, terlebih dalam beberapa tahun ke depan diproyeksikan akan ada gelombang suplai baru yang masuk ke pasar. “Dari sisi kinerja, total serapan lahan industri sepanjang 2025 mencapai sekitar 318,3 hektar. Angka ini memang sedikit lebih rendah dibandingkan capaian 2024, namun tetap mencerminkan permintaan yang stabil. Sektor konstruksi, khususnya heavy equipment, menjadi occupier paling aktif di penghujung tahun. Sementara secara tahunan, sektor EV-related dan manufaktur menjadi kontributor serapan terbesar,” ujar Syarifah dalam paparannya saat Online Press Conference Jakarta Property Highlights, Retail & Industrial Sector H2 2025, Kamis (26/2). Menariknya, sambung Syarifah, sektor terkait kendaraan listrik (EV-related) menyumbang sekitar 18% dari total serapan lahan sepanjang 2025. Dalam lima tahun terakhir, sektor ini konsisten menjadi penyerap lahan tertinggi, disusul oleh sektor data center yang terus berkembang seiring kebutuhan infrastruktur digital. Kawasan Industri Agresif Dari sisi wilayah, koridor Barat yang mencakup Serang–Cilegon tampil agresif dan mendominasi serapan lahan di akhir 2025. Strategi penjualan langsung kepada investor, ketersediaan lahan yang relatif luas, harga yang stabil, serta tingkat upah minimum yang kompetitif menjadi kombinasi daya tarik kawasan ini. Di sisi lain, Bekasi tetap menjadi magnet utama, bersama Karawang dan Subang, yang mencatat kenaikan harga lahan akibat tingginya permintaan. Willson Kalip, Country Head dari Knight Frank Indonesia menambahkan, Greater Jakarta telah tumbuh menjadi ekosistem industri paling matang di Indonesia. Menurutnya, keunggulan komparatif kawasan ini menjadi pertimbangan utama investor, baik pada fase awal investasi maupun ekspansi lanjutan. Dengan dukungan berkelanjutan dari pemerintah dan para pemangku kepentingan, Greater Jakarta diyakini mampu mempertahankan performanya di tengah persaingan regional yang semakin ketat. “Optimisme ini menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan pasar lahan industri nasional dalam beberapa tahun ke depan,” pungkas Wilson.