Segmen Menengah Bawah Masih Potensial, BTN Bidik Kredit Tumbuh 4 Persen
INFO PERBANKAN – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. meyakini pertumbuhan kredit tumbuh hingga 4 persen, melalui permintaan kredit subsidi pada kuartal ketiga tahun ini, serta upaya pemasaran dalam situasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) jilid II. Dalam wawancara khusus dengan redaksi Property&Bank dan Myhome, melalui aplikasi zoom, Jumat (18/09), Direktur Utama Bank BTN Pahala Nugraha Mansury mengatakan ekonomi pada paruh kedua tahun ini menjadi penentu kinerja fungsi intermediasi, termasuk penyaluran kredit kepemilikan rumah (KPR). [irp] “Kondisi perbankan saat ini terjadi peningkatan likuiditas oleh masyarakat yang menempatkan dananya, terutama di Himbara dan juga Bank Umum berdasarkan Kegiatan Usaha (BUKU) 3 dan 4,” ujar Pahala. Namun disisi lain, Pahala menyebut masyarakat pun lebih banyak menahan pengeluaran dananya yang terhitung cukup besar serta menginvestasikannya di instrumen yang lebih aman. Dari ekspansi kredit, Pahala melihat terjadi penurunan jumlah yang signifikan dari tahun lalu. “Pada 2019, Kredit perbankan yang sempat berada di kisaran 6%-7%. Sementara saat ini, hingga Juni 2020, turun di kisaran 0% – 4%,” ucapnya. [irp] Kedepannya kalaupun terjadi ekspansi, pria kelahiran Bogor 1 April 1971 menyebut prognosa atau eskpetasi pertumbuhan eskpansi kredit Bank BTN berada di kisaran 3% – 4%. Dengan kondisi ini, Bank BTN sebenarnya cukup beruntung, karena fokus di kredit perumahan, khususnya kategori rumah kecil dan menengah, yang rata-rata masih menjadi rumah pertama bagi pembelinya. “Selama Juli- Agustus, terjadi tren peningkatan penjualan yang cukup berarti di sektor ini. Catatan khususnya selama Agustus 2020 itu banyak libur dan tanggal merah, dampaknya banyak mengurangi penjualan. Yang biasanya dalam sebulan itu ada 20-23 hari kerja, di Agustus itu, hanya 16-17 hari kerja saja,” terangnya. Perlambatan permintaan KPR sejatinya sejalan dengan volume penjualan residensial yang menurun pada kuartal kedua tahun ini. Hasil survei BI mengindikasikan penjualan properti residensial mengalami kontraksi mencapai 25,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. [irp] Penurunan penjualan properti residensial terjadi pada seluruh tipe rumah. Rumah tipe menengah mencatatkan penurunan penjualan paling dalam mencapai 40,11%. Sementara penjualan rumah tipe besar turun 36,71% dan rumah tipe kecil turun 14,36%. Meski bunga KPR telah menurun, responden survei tetap menilai bunga tersebut masih cukup tinggi. Selain bunga KPR, faktor lain yang dinilai menghambat penjualan rumah yakni proporsi uang muka yang masih tinggi dalam pengajuan KPR perbankan. [irp] Survei juga menunjukkan terjadi pembatalan penjualan unit properti oleh konsumen mencapai 10% dari total unit yang dijual. Proporsi terbesar adalah rumah tipe kecil. Faktor ketidakpastian ekonomi akibat Pandemi Covid-19 berpengaruh cukup signifikan pada permintaan rumah. Di sisi lain, harga properti masih tercatat meningkat. Berdasarkan survei BI, harga rumah tipe kecil masih naik 1,56% secara tahunan. Sedangkan rumah tipe menengah dan besar masing-masing naik 1,24%. Harga properti pada kuartal ketiga diperkirakan masih tumbuh, tetapi bakal melambat dibandingkan kuartal lalu. Harga rumah tipe kecil diperkirakan tumbuh 1,59%, tipe menengah 1,24%, dan tipe kecil 0,78%. Segmen Menengah Bawah Masih Potensial Adanya anggapan bahwa masyarakat menengah ke bawah yang saat ini tidak berminat membeli rumah karena pandemi dan lebih mengutamakan kebutuhan lain, dibantah oleh Pahala. Menurut dia, hingga saat ini justru pembiayaan dari Bank BTN untuk segmen menengah bawah masih baik penyalurannya. Justru rumah-rumah yang bersubsidi mencatat penjualan masih tumbuh. [irp] “Ya memang tergantung segmen mana yang kita akan bidik. Tentunya segmen yang masih cukup baik adalah segmen masyarakat yang pendapatannya tidak besar, tetapi paling tidak mereka berpendapatan tetap. Mereka inilah yang kita bidik, berpendapatan tetap tetapi membutuhkan rumah bersubsidi atau berpendapatan tetap tetapi membutuhkan rumah non subsidi,” tegas Pahala. Jadi, sambung Pahala, Bank BTN akan fokus di segmen menengah ke bawah, yakni masyarakat yang bisa memiliki rumah, adalah yang memiliki gaji, lalu pindahkan rekening gaji ke Bank BTN, dan selanjutnya Bank BTN akan salurkan kreditnya ke mereka.
KPR Subsidi Mendominasi, Laba Bersih Bank BTN Semester I Rp768 Miliar
INFO PERBANKAN – Di tengah pandemi Covid – 19 yang masih mewabah, Bank BTN mampu menyalurkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan baik. Tercatat, adanya kenaikan penyaluran kredit dan pembiayaan sebesar 0,32% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari Rp251,04 triliun pada semester I/2019 menjadi Rp251,83 triliun di periode yang sama tahun ini. Dengan meningkatnya penyaluran kredit tersebut, maka emiten bersandi saham BBTN ini mampu mencetak laba bersih senilai Rp768 miliar pada semester I/2020. Laba bersih Bank BTN ditopang pendapatan bunga bersih sebesar Rp4,43 triliun. Sedangkan laba dari operasional di luar provisi adalah sebesar Rp1,99 triliun. [irp] Dalam Press Conference Kinerja Keuangan Bank BTN Semester I/2020 yang digelar secara virtual pada, Senin (3/8), Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk,. Pahala Nugraha Mansury mengatakan, perolehan yang dicapai merupakan hasil dari dijalankannya strategi 5 Fokus dan 8 Inisiatif sehingga BTN tetap mencatatkan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan kendati di tengah pandemi. “Di era New Normal saat ini, Bank BTN terus memupuk pencadangan, likuiditas, sambil memacu bisnis dengan asas kehati-hatian di masa pandemi sesuai dengan 8 inisiatif perseroan. Dengan strategi tersebut, kami yakin bisnis Bank BTN masih akan terus bertumbuh dan mencetak laba di semester II/2020 nanti,” tegas Pahala seraya menambahkan perolehan laba bersih pada semester I ini melebihi dari ekspektasi. KPR Subsidi Paling Dominan Pahala menjelaskan, KPR Subsidi menjadi penyumbang pertumbuhan kredit Bank BTN secara keseluruhan. KPR Subsidi yang menempati porsi sebesar 45,11% dari total portofolio kredit di Bank BTN tersebut tumbuh positif di level 5,84% yoy. Per semester I/2020, KPR Subsidi Bank BTN tercatat naik dari Rp107,34 triliun pada semester I/2019 menjadi Rp113,61 triliun. [irp] Sementara di segmen kredit perumahan, Bank BTN juga telah menyalurkan KPR Non-subsidi, kredit perumahan lainnya, dan kredit konstruksi masing-masing sebesar Rp79,87 triliun, Rp7,56 triliun, dan Rp27,87 triliun per semester I/2020. Dengan penyaluran tersebut, total KPR di Bank BTN tumbuh sebesar 2,47% yoy dari Rp188,82 triliun menjadi Rp193,49 triliun per 30 Juni 2020. Kemudian, di segmen kredit non perumahan, perseroan menyalurkan kredit senilai Rp22,91 triliun per akhir Juni 2020. Menurut Pahala, di tengah pertumbuhan positif tersebut, perseroan pun tetap menjaga kualitas kredit yang disalurkan. Per Juni 2020, BBTN mencatatkan penurunan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) net dari 2,42% per Juni 2019 menjadi 2,40% pada Juni 2020. [irp] Perseroan juga tercatat menyiapkan rasio pencadangan yang cukup besar. Pada semester I/2020, Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) Bank BTN melonjak ke level 107,90%. Posisi tersebut melesat jauh dari 37,87% pada periode yang sama tahun lalu. Menurut Pahala, pemupukan pencadangan tersebut merupakan inisiatif perseroan dalam rangka menjaga kualitas pertumbuhan bisnis di tengah pandemi. Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank BTN pun terpantau naik 2,99% yoy dari Rp219,76 triliun pada Juni 2019 menjadi Rp226,32 triliun di bulan yang sama tahun ini. Pertumbuhan tersebut disumbang peningkatan perolehan giro sebesar 13% yoy dari Rp52,88 triliun pada menjadi Rp59,75 triliun di kuartal II/2020. [irp] Dengan peningkatan giro tersebut, Bank BTN mencatatkan kenaikan dana murah (Current Account Savings Account/CASA) sebesar 3,75% yoy dari Rp92,83 triliun menjadi Rp96,32 triliun per semester I/2020. “Secara bertahap kami terus meningkatkan porsi dana murah dengan memangkas porsi dana mahal,” tutur Pahala. Kinerja positif pada kredit dan DPK tersebut juga turut mengerek naik aset BBTN sebesar 0,68% yoy menjadi sebesar Rp314,60 triliun. “Kami juga berupaya terus memperbaiki proses bisnis sehingga dapat mempertahankan pertumbuhan positif yang berkelanjutan,” jelas Pahala. [irp] Pahala menambahkan, walaupun masa pandemi covid-19, perseroan terus memupuk likuiditas. Menurut Pahala, Liquidity Coverage Ratio (LCR) perseroan naik ke level 132,22% pada semester I/2020 dari 105,50% di periode yang sama tahun sebelumnya. Permodalan (Capital Adequacy Ratio/CAR) BBTN pun kian menguat untuk menopang laju bisnis dari level 16,99% menjadi 19,10% per semester I/2020. Dengan likuiditas yang sangat kuat ini, perseroan optimis akan dapat melalui masa pandemi dengan baik. Apalagi, profil restrukturisasi yang harus dilakukan perseroan pun diproyeksi turun drastis hingga akhir 2020. “Di luar ekspektasi, restrukturisasi terus menunjukkan penurunan. Sehingga kami proyeksikan tren penurunan restrukturisasi tersebut akan berlanjut hingga akhir 2020,” tegas Pahala. [irp] Sementara itu, UUS Bank BTN hingga paruh pertama tahun ini, mencetak laba bersih senilai Rp100,33 miliar. Perolehan laba bersih tersebut ditopang pertumbuhan pembiayaan syariah sebesar 3,07% yoy menjadi Rp23,88 triliun pada semester I/2020. “BTN Syariah juga mencatatkan perolehan DPK senilai Rp20,80 triliun per semester I/2020. Dengan capaian tersebut, aset UUS Bank BTN naik 6,56% yoy dari Rp29,18 triliun pada 30 Juni 2019 menjadi Rp31,09 triliun di bulan yang sama tahun ini,” pungkas Pahala.
Bank BTN Tawarkan 1.831 Aset Properti Dengan Harga Miring
PROPERTI – Sebanyak 1.831 aset dengan nilai total sekitar Rp 6,06 triliun, ditawarkan Bank BTN dalam Investor Gathering bertajuk Properti Murah di Era New Normal, melalui daring (dalam jaringan) yang digelar hari ini, Kamis (30/7). Aset yang ditawarkan berupa proyek perumahan, proyek apartemen, rumah, kost atau kontrakan, perkantoran, unit apartemen, pabrik, ruko, hingga gudang yang tersebar di Pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi. Direktur Utama Bank BTN, Pahala Nugraha Mansury menjelaskan, Bank BTN memberikan peluang bagi para investor untuk membeli ataupun mengelola aset-aset dari Bank BTN menjadi aset yang produktif dan bermanfaat serta dapat mendukung program pemerintah menggerakkan perekonomian nasional. Gathering tersebut, kata dia, untuk membantu para investor dan pelaku usaha menginvestasikan dananya untuk aset yang tepat. [irp] “Investor Gathering ini juga bertujuan untuk menggalang penjualan aset para debitur Bank BTN yang tidak performing sekaligus sebagai salah satu strategi untuk mendorong pemulihan aset korporasi, yang tidak produktif menjadi aset yang produktif menghasilkan profit, baik ke BTN maupun ke investor baru,” jelas Pahala Nugraha Mansury. Harga yang ditawarkan Bank BTN ke investor, sambung Pahala, sangat miring karena hanya harga pokok dengan bunga yang bisa dinegosiasikan atau negotiable sehingga menarik untuk investor. Aset-aset tersebut dapat dikelola atau dijual kembali oleh para investor. Agenda Investor Gathering yang digelar melalui aplikasi Zoom dan kanal YouTube Bank BTN ini dipandu oleh moderator, Indra Utama yang merupakan Pemimpin Redaksi Property&Bank dan Ketua LSP AREA. [irp] Dalam investor gathering yang diikuti ratusan investor di seluruh Indonesia, baik dari developer, agen penjualan properti, dan investor properti itu, Bank BTN mematok target penjualan aset sebesar Rp 1 triliun yang terdiri dari Rp 800 miliar dari penjualan aset seperti perkantoran, pabrik, gudang, proyek apartemen dan proyek perumahan dan Rp 200 miliar dari penjualan aset perumahan, atau unit apartemen. Direktur Remedial and Wholesale Risk Bank BTN, Elisabeth Novie Riswanti menjelaskan, dalam e-book yang dibagikan kepada Investor memuat informasi lengkap mengenai jenis properti, luas tanah/bangunan, lokasi dan informasi lainnya termasuk dokumen, harga jual, nilai appraisal termasuk nilai pasar dan nilai likuidasi, sisa kredit, denda dan lain sebagainya secara transparan. [irp] “Kami memberikan informasi selengkap-lengkapnya kepada calon investor agar mereka bisa menghitung nilai investasi, kemungkinan keuntungan yang mereka terima dalam jangka panjang sehingga ke depan mereka dapat memproyeksikan imbal hasil investasi atau return of investment mereka,” kata Novie. Menurut Novie, proyek perumahan masih prospektif mengingat tingginya backlog perumahan dan kebutuhan rumah yang masih tinggi. Lokasi akan menjadi pertimbangan utama, selain faktor kelengkapan dokumen. Namun demikian, kata dia, investor yang tertarik akan dilakukan due diligence untuk mengkonfirmasi potensi dan prospek dari aset yang dijual atau lelang. [irp] Dijelaskan Novie, untuk mendapatkan aset tersebut, investor cukup mengajukan form minat, dan petugas dari Bank BTN akan memproses lebih lanjut para investor untuk ikut serta dalam lelang dan proses due diligence. Proses dan mekanisme lelang, maupun mekanisme lain untuk pengambilalihan aset tersebut dilakukan sesuai ketentuan lelang atau peraturan perundangan yang berlaku agar memenuhi aspek legalitas. Novie menambahkan, penjualan dan pelelangan aset merupakan strategi yang cukup efektif dalam recovery aset Bank BTN. Tahun ini, Bank BTN menargetkan bisa menembus Rp 3 triliun, dan acara Investor Gathering ini akan rutin diagendakan. Selain itu, Bank BTN juga gencar mempromosikan portal www.rumahmurahbtn.co.id yang disediakan bagi para peminat rumah murah yang merupakan agunan kredit Bank BTN yang sudah tidak performing. [irp] “Peminat dapat langsung memilih dan menghubungi langsung petugas kami agar dapat didaftarkan dalam proses lelang aset tersebut, kami buat semudah mungkin diakses, sehingga semua kalangan dapat membeli rumah lelang,” kata Novi menjelaskan. Proses Lelang Sangat Mudah Sementara itu, Direktur Lelang, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan DJKN Kemenkeu Joko Prihanto menjelaskan, proses lelang saat ini dipermudah dan tetap aman. Pemerintah melalui DJKN sudah membuka ruang bagi masyarakat agar mudah mengikuti fasilitas lelang yg dapat diakses melalui www.lelang.go.id dan aplikasinya pun sudah dapat diunduh ke ponsel. Dengan mengikuti lelang, Joko menilai, masyarakat secara tidak langsung ikut membantu Pemerintah dalam memulihkan aset pemerintah dan menggerakkan ekonomi. “Jika seluruh properti yang dilelang BTN ini terjual semua, maka nilai barang akan meningkat, rumah terjual akan ada transaksi, peredaran barang, jasa, renovasi, dampak pergerakan ekonomi ini akan luar biasa,” kata Joko.