Kepuasan Tamu Hotel Jadi Strategi Jitu Ryan Wardhana

Propertynbank : Berbekal pengalaman panjang di industri perhotelan, Ryan Wardhana memulai karirnya dari level bawah. Selama lebih 20 tahun, pria kelahiran Bandung Jawa Barat mengasah kemampuan dan kematangannya dalam mengelola berbagai properti hotel. Pria yang kerap disapa Ryan ini mengawali karir nya sebagai seorang operator telepon hotel di salah satu Hotel di Kota Bandung dan melanjutkan merintis karir Hospitalitynya dibeberapa Jaringan Hotel nasional maupun internasional. Perjalanan panjang membawanya menempati beberapa posisi strategis sebagai Head of Department, Hotel Manager dan General Manager di beberapa hotel di Indonesia, seperti di Bandung, Surabaya, Makassar dan Bali. Terakhir, Pria jebolan Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung, 2003 ini dipercaya menjadi General Manager Hotel Horison Ultima Seminyak, Bali. Memiliki latar belakang di dunia perhotelan, membuat Ryan makin memberanikan diri untuk meniti karier di bidang ini. Karier pertamanya ia torehkan di Sheraton Bandung, di front office department. “Saya memulai karir sebagai operator telepon, lalu ke Butter, kemudian Supervisor dan Duty Manager hingga akhirnya ke front office manager,” paparnya. Ryan mengaku, berkarir di bisnis hospitality memang banyak tantangannya. Pasalnya kita harus menghadapi para tamu dengan beragam karakter orang. Disini kita dituntut untuk memberikan kenyamanan kepada tamu hotel sehingga membuat mereka senang “Nah tantangan inilah yang membuat saya tertarik berkerja dan berkarir di bisnis hospitality, karena sejalah dengan kesenangan saya yang gemar membuat orang lain senang,” ujarnya. Sebagai orang yang telah malang melintang di industry perhotelan, Ryan merasakan sector pariwisata di Indonesia semakin berkembang. Namun demikian, ia juga berharap perkembangan sector pariwisata ini tidak hanya dirasakan di Pulau Bali saja. Jadi harus merata di seluruh Indonesia. Untuk itu diperlukan dukungan dari pihak-pihak terkait, baik pemerintah, pelaku usaha serta dilengkapi dengan fasilitas termasuk ketersediaan hotel yang memberikan kenyamanan bagi para wisatawan. “Saya yakin Indonesia punya potensi budaya yang tidak kalah dengan bali. Hanya mungkin belum terekspose secara maksimal . jika itu bisa berkembang, kita bisa take off atau bisa meluncur dengan signifikan. pariwisata maju tentunya berdampak pada majunya perekonomian masyarakat, income bagi negara,” pungkasnya.
Kembangkan Ecoverse, NPG Indonesia Usung Kearifan Lokal Budaya Bali

Propertynbank.com – NPG Indonesia, perusahaan pengembang propertii yang berbasis di Bali, menyoroti masifnya pembangunan properti di Pulau Dewata saat ini. Pasca pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu, memang terjadi lonjakan wisatawan yang mengunjungi Bali. Hal ini karena masyarakat bisa kembali bebas berpergian seperti saat sebelum pandemi. “Bali telah menjadi hot spot destinasi pariwisata Indonesia dalam beberapa dekade terakhir, di mana kunjungan wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, melonjak tajam,” jelas Evgeny Obolentsev, General Manager NPG Indonesia dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (14/10). Pernyataan tersebut sesuai dengan data Badan Pusat Statistik Bali dan Kantor Otoritas Pariwisata Bali yang dirilis Agustus 2024, bahwa pada enam bulan pertama tahun ini, Bali kedatangan wisatawan mancanegara sebanyak 2.910.679 orang, atau meningkat 23,59% dibandingkan periode yang sama tahun 2023. Baca Juga : Ditopang Aspek Keberlanjutan dan AI, Transparansi Properti Meningkat Begitu juga volume Pengunjung Domestik pada bulan Juni 2024 tercatat 898.355 orang. Angka ini terus melampaui jumlah pengunjung domestik di rentang tahun 2020 hingga 2023. Wisatawan mancanegara asal Australia masih yang terbanyak di Bali dengan persentase 24,11% hingga Juni 2024. Sedangkan, wisatawan asal India dan China menunjukkan tingkat pertumbuhan tertinggi. Sehingga penerbangan langsung ke Bali oleh beberapa maskapai internasional pun ditambah. Tercatat pada tanggal 25 Juni 2024, untuk pertama kalinya Etihad Airways meluncurkan layanan penerbangan langsung Bali – Abu Dhabi. Rute baru tersebut mendapat sambutan hangat dari wisatawan internasional. Hal ini terlihat dari peningkatan frekuensi penerbangan hanya tiga bulan setelah penerbangan pertama ke Denpasar. Sementara permintaan perjalanan ke Indonesia dari Abu Dhabi juga tumbuh pesat. Pada bulan April 2025, layanan penerbangan Abu Dhabi ke Jakarta akan meningkatkan frekuensi penerbangannya dengan beroperasi dua kali sehari. “Hal ini tentu saja memberikan dorongan yang luar biasa terhadap pertumbuhan industri properti di Bali secara signifikan, khususnya pembangunan vila dan hotel guna mengakomodasi peningkatan kunjungan wisatawan ke Bali,” jelas Evgeny Obolentsev. Baca Juga : 6 Langkah Mendorong Investasi Berwawasan Lingkungan Untuk Keberlanjutan Lebih lanjut dia menjelaskan, terjadinya perubahan minat para wisatawan ke area baru seperti Seseh, Kedungu, Cemagi, dan Tabanan menjadi salah satu pertanda terbukanya peluang baru di sektor properti untuk berkembang. “Pertanyaan penting yang kerap muncul adalah bagaimana kita menyikapi masifnya perkembangan industri properti di Bali, sembari tetap menjaga kelestarian alam dan budaya Bali itu sendiri?” tukasnya. Menurut Evgeny Obolentsev, jawaban dari pertanyaan tersebut bukanlah menolak pariwisata sepenuhnya, karena pariwisata telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Bali. “Yang diperlukan adalah keseimbangan. Bagaimana cara menjaga agar Bali tetap menjadi surga tropis bagi wisatawan, tanpa mengorbankan alam dan budaya yang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu,” tuturnya. Untuk itu, imbuhnya, peran Pemerintah sangatlah penting, khususnya dalam enforcement regulasi kepemilikan dan peruntukan atas tanah ataupun sawah. “Dengan demikian, zonasi menjadi sangat krusial agar tidak terjadi tumpang tindih peruntukan lahan yang akhirnya bisa merugikan semua pihak yang terlibat,” ungkapnya. Baca Juga : Properti Hijau dan Produk Yang Efisien Makin Dibutuhkan Untuk Keberlanjutan Evgeny Obolentsev juga menyoroti rencana percepatan pembangunan infrakstruktur di Bali oleh Pemerintah yang menurutnya juga sangat berperan penting untuk mengimbangi lonjakan kunjungan wisatawan dalam beberapa tahun terakhir. Mega proyek moda transportasi massal, baik berupa MRT maupun LRT yang rencananya dibangun di Bali, dapat menjadi salah satu upaya pemerintah dalam mengurangi kemacetan yang telah menjadi pemandangan sehari-hari masyarakat Bali, di samping untuk menekan emisi gas kendaraan bermotor. “Dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita sebagai pengembang bisa membangun properti secara harmonis dengan alam sekitar dan budaya Bali itu sendiri. Pasalnya, alam dan budaya merupakan bagian dari konsep pembangunan hunian itu sendiri,” terangnya. NPG Indonesia Kembangkan Ecoverse Evgeny Obolentsev menambahkan, NPG selalu mengedepankan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam setiap proyek hunian yang dikembangkan. NPG Indonesia, kata dia, adalah pengembang yang memfokuskan diri dalam pengembangan real estat di Bali melalui penyelarasan bangunan, fasilitas, dan gaya hidup modern dengan alam dan lingkungan sekitar. “Dalam membangun proyek hunian, kami sebisa mungkin mempertahankan area hijau dan pepohonan yang ada, sehingga kami bisa memiliki area hijau hingga 50% dari total Pembangunan. Dan ini merupakan tantangan tersendiri,” tuturnya. Baca Juga : Joko Widodo Bilang Membangun IKN Transformasi Menuju Kota Hutan Berkelanjutan Tantangan sebenarnya adalah bagaimana menyesuaikan bangunan dengan alam sekitar. Karena hal itulah yang membuat semua orang jatuh cinta kepada Bali, yaitu alam dan budayanya. “Seperti halnya Ecoverse, proyek hunian premium yang sedang kami kerjakan dengan target penyelesaian di Kuartal Keempat 2025. Kami selalu mengaplikasikan beberapa fitur keberlanjutan seperti energi terbarukan di setiap unit melalui penggunaan panel tenaga surya, sistem pengolahan sampah, filter air osmosis dan Rain Water Trap,” kata Evgeny. Ecoverse adalah sebuah komplek hunian di kawasan Nyanyi, Bali yang menghadirkan 34 unit apartemen serta 16 unit townhouse dengan 2 dan 3 lantai yang memberikan kenyamanan luar biasa melalui fasilitas konstruksi berkualitas tinggi serta keharmonisan dengan alam sekitar. Tak hanya selaras dengan alam sekitar, ternyata sebagian besar tenaga kerja yang membangun proyek Ecoverse pun merupakan tenaga kerja lokal. Bagi Evgeny, dari para pekerja lokal tersebut pihaknya bisa belajar tentang budaya dan kearifan lokal, khususnya Tri Hita Karana, konsep kehidupan masyarakat Bali yang menitikberatkan hubungan manusia dengan sesama, alam, dan Tuhan, yang mampu menumbuhkan toleransi dan rasa damai. “Sementara itu, kami bisa mengalihkan keahlian kami dari Eropa dalam mendirikan bangunan. Hal ini sangat penting bagi kami agar tercipta keseimbangan yang harmonis antara pertumbuhan pariwisata dengan alam dan budaya Bali itu sendiri,” pungkasnya.
Metland Incar Investor Asing Dengan Venya Villa Ubud

Propertynbank : PT. Metropolitan Land Tbk, kembali memanjakan para investor properti dengan mengoperasionalkan Venya Villa Ubud tahap pertama, yang sempat terhenti karena Covid-19. Venya Villa Ubud merupakan bagian dari resort Metland Venya Ubud yang dikembangkan diatas lahan seluas 5 ha ini sebelumnya bernama Royal Venya Ubud. Penggantian nama tersebut seiring rencana Metland melakukan konsolidasi unit hotel milik perusahaan di bawah payung Metland Hotel Group. Ke depan untuk penamaan untuk pengembangan hotel-hotel baru akan menggunakan nama Metland yang konfigurasinya akan disesuaikan dengan kelas hotelnya. Metland Venya Ubud sendiri memberi tambahan portofolio Metland di kelas menengah atas, sebagai sumber pendapatan berulang. Seperti yang ungkapkan Wahyu Sulistio, Direktur PT Metropolitan Land Tbk,”bahwa penggunaan nama metland ini sejalan dengan strategi perusahaan untuk memperluas jaringan hotel kami. Selain itu juga untuk memperkuat identitas dan brand Metland di masyarakat,”jelasnya saat menemani sejumlah media yang berkunjung ke Metland Venya Ubud, Bali (28/09/2024). Metland Venya Ubud merupakan komplek suites dan villa yang berada di lembah sungai Wos Desa Kelabang Moding, Ubud, Bali. Resor ini dikelilingi oleh vegetasi alami Ubud, dan dirancang sesuai dengan kontur alami lokasi, sehingga tamu masih bisa menikmati keindahan dan keheningan alami khas salah satu destinasi wisata di Bali ini. Dengan desainnya yang unik, resor ini berhasil meraih penghargaan pada Indonesia Property Awards 2024 sebagai Best Hotel & Resort Development. Lebih jauh dijelaskan Wahyu, untuk tahap pertama, telah dioperasikan sejumlah 21 suites dan 19 unit villa, dari 54 54 unit yang akan terus dikembangkan. Metland Venya Ubud dilengkapi dengan berbagai fasilitas premium seperti Jinengku Pool and Bar, wedding chapel, co-working space, Baas Restaurant and Lounge, Venya Spa, dan reflecting pond temple, yang semuanya didesain berpemandangan alam yang memukau. Beberapa fasilitas tersebut ada yang dibangun di lembah yang bisa dicapai dengan menuruni tangga atau funicular (inclinator lift) yang dirancang menarik. Prospek Wisata Ubud “Bali masih menjadi destinasi primadona wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Hal ini mendorong Metland untuk melanjutkan pembangunan suites dan villa mewah yang memiliki pemandangan alam yang indah dan dikelilingi pepohonan sehingga memberikan rasa tentram dan sejuk,” ucap Wahyu. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang datang langsung ke Bali periode Januari – Juli 2024 mencapai 3.553.947 sedangkan tahun 2023 periode Januari – JuIi 2023 berjumlah 2.896.526, artinya meningkat sekitar 22,7% dibandingkan tahun lalu. Berdasarkan catatan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) Bali, menunjukkan bahwa investasi asing di Bali juga mengalami pertumbuhan yang signifikan. Untuk Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp2,66 triliun pada kuartal I 2023. Dengan tingginya kunjungan wisatawan internasional dan aliran investasi yang terus tumbuh, prospek sektor pariwisata dan bisnis penginapan mewah di Bali semakin cerah. Hal ini tentunya membuka peluang baru bagi pengembangan ekonomi di pulau tersebut. Selain wisman untuk menginap, Venya Villa Ubud juga menyasar pasar asing untuk berinvestasi, dengan proyeksi Return of Investment (ROI) sebesar 8-12% per tahun dengan jaminan 8% di dua tahun pertama. Pengembalian investasi akan terus berlanjut selama operasional hotel berjalan, setelah selesai masa garansi dua tahun pertama. Melihat potensi pasar wisata Bali terutama Ubud, Metland memproyeksikan hasil sewa dari per tahunnya akan tetap stabil dan diharapkan akan naik di tahun-tahun berikutnya, seiring dengan laju inflasi dan pengaruh demand-supply di pasar penginapan mewah di Bali. Sebagai produk investasi, Venya Villa Ubud ditawarkan dengan kepemilikan long leased selama 25 tahun dan dioperasikan penuh oleh Metland Venya Ubud. Vila-vila tersebut dipasarkan dengan harga mulai dari Rp 3 miliar, sementara tarif sewanya mulai dari Rp 5 juta per malam. Venya Villa Ubud menawarkan enam tipe, yang semuanya dilengkapi dengan plunge/private pool. Saat ini tersedia tipe satu kamar dan dua kamar tidur, yang bangunannya dibuat berundak sesuai dengan kontur tanahnya. “Venya Villa Ubud merupakan pilihan tepat bagi investor karena Metland memiliki pengalaman selama 30 tahun di bidang properti. Kami optimis Metland Venya Ubud akan menjadi ikon baru di wilayah Ubud dan dapat menjadi pilihan tempat menginap bagi wisatawan mancanegara dan domestik,” ucap Nitik Hening, Direktur PT Metropolitan Land Tbk.
PPKM Darurat Diperpanjang Hingga 30 Juli 2021, Pariwisata Bali Kian Parah
PARIWISATA : Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di wilayah Jawa – Bali, sudah berjalan dua pekan, akhirnya di perpanjang pemerintah hingga 30 Juli 2021, bakal memperparah industri pariwisata dan ekonomi kreatif lainnya. Pasalnya pemberlakuan PPKM ini telah menghentikan mobilitas masyarakat hingga menutup destinasi wisata. Salah satu pariwisata yang paling terdampak adalah daerah Bali. Di mana tempat wisata ini biasanya banyak dikunjungi oleh wisatawan. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengatakan setidaknya ada 34 juta pelaku parekraf yang terkena dampak penutupan destinasi wisata. Efek atau dampak PPKM Darurat akan terlihat pada bulan mendatang, termasuk mengenai nasib para pekerja di sektor parekraf. [irp] “Jadi tantangannya gimana kita, Kemenparekraf bisa menghadirkan kebijakan yang tepat manfaat, tepat sasaran dan tepat waktu,” ujar Sandiaga. Lebih lanjut, Sandiaga mengungkapkan bahwa pandemi Covid-19 telah memaksa seluruh pihak meningkatkan keterampilan. Tujuannya, agar dapat mengakselerasi seluruh program, baik inovasi, adaptasi, digitalisasi, maupun kolaborasi. [irp] Pemerintah pun dipastikan hadir mengurangi beban masyarakat. Sandiaga menyebut pihaknya memiliki tiga instrumen untuk keluar dari keterpurukan, yaitu kebijakan, anggaran, dan pendampingan. “Nah ini yang menjadi tantangan kita. Ya ini masa-masa yang sangat berat ya,” katanya. Jeritan pelaku usaha perhotelan dan restoran di Bali kian miris usai pemberlakuan PPKM darurat. Sehingga pergerakan ekonomi di sektor ini termasuk bisnis perhotelan bisa terjun bebas. [irp] Bakal terjadi penurunan yang tajam terhadap tingkat hunian kamar maupun usaha restoran. Diperkirakan akan terjadi penurunan dari rata-rata yang saat ini 20-40 persen menjadi 10-15 persen atas tingkat hunian pada Hotel Non-Karantina (OTG, Isoman dan Repatriasi. PPKM Darurat juga berdampak pada aktivitas agen-agen properti di Bali. Hal ini pastinya akan memengaruhi keinginan pasar untuk membeli ataupun menyewa properti. [irp] Seperti yang dikatakan RT, seorang agen properti di Bali ini mengatakan bahwa Bali saat ini seperti kota hantu, mulai dari Kuta sampai Seminyak. Kehidupan mulai ada di daerah Changgu,”ujarnya yang mengaku sebulan di Bali merasa seperti di kota hantu. Meski demikian, dia melihat masih ada sejumlah villa disana yang disewa oleh orang-orang keturunan China asal Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Barat yang mengungsi ke sana. Apalagi saat ini harga sewa hotel atau villa di Bali lagi turun drastis. Kalau dulu bisa mencapai Rp 3 juta, saat ini ditawarkan hanya Rp 750 ribu saja. [irp] “jadi kalau kita mau menikmati Bali sekarang saat nya , karena sepi, sewa motor 60% off, hotel 75% off,” paparnya. Sementara itu, Wakil Ketua PHRI Bali I Gusti Ngurah Agung Rai Suryawijaya menjelaskan saat ini tingkat akupansi hotel hanya sekitar 5 persen, karena dampak dari aturan pengetatan mobilitas penduduk. Akibat rendahnya tingkat keterisian, beberapa hotel yang tidak ada tamu memutuskan menutup sementara. “Karena keterisian rendah hanya satu atau dua kamar, ya sejumlah pelaku memilih menutup dulu sementara,” ujarnya seperti dilansir balinesia.id. [irp] Lebih jauh dikatakan Ketua PHRI Badung ini, “adanya pengetatan saat ini menyebabkan tidak semua hotel beroperasi. Paling tidak hanya sekitar 10 persen saja memilih tetap beroperasi. Apalagi jumlah kunjungan wisatawan domestic juga anjlok menjadi sekitar puluhan orang per hari dari. Padahal sebelum PPKM darurat bisa sebanyak 9.000 orang wisdom. Untuk itu, PHRI mengharapkan pemerintah tidak lagi memperpanjang PPKM Darurat meskipun tujuannya baik untuk menekan penyebaran virus Covid-19. Menurutnya, apabila diperpanjang akan memberi dampak luar biasa terhadap pengusaha hotel di seluruh Bali karena terbatasnya akses mobilitas wisatawan.