PNB_Back_Up

Realisasi Investasi Properti Peringkat 1, Di Lapangan Masih Banyak Kendala

Propertynbank.com – Realisasi investasi properti terus membaik. Oleh karena itu, Apersi (Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia) berharap, pasar industri properti tahun 2022 akan lebih cerah dan tumbuh lebih baik dibandingkan tahun 2021 dan 2020 lalu. Optimisme tersebut sejalan dengan Data Peringkat Realisasi Investasi Tahun 2021, bahwa sektor yang dikeluarkan Deputi PIPM Kementerian Investasi/BKPM, sektor properti atau perumahan menduduki peringkat 1 dengan realisasi investasi tahun 2021, yaitu sebesar Rp. 85,49 triliun atau 19,1 % dari total investasi PMDN Rp. 447 Triliun. Sekretaris Jenderal DPP Apersi Daniel Djumali mengatakan, selain investasi yang besar ini atau peringkat 1 realisasi investasi 2021, sektor properti juga menyerap jutaan tenaga kerja langsung, yang sangat berguna dimasa pandemi Covid-19 ini. Sektor properti, kata Daniel Djumali, mempunyai multiflier efek, dimana didalamnya ada 174 sektor industri ikutan properti seperti semen, batu, besi, alluminium, genteng, kabel, lampu, cat, hingga TV, AC, kulkas, dan furniture, yang juga menyerap jutaan tenaga kerja. “Namun, kinerja industri properti yang baik dan lebih cerah ditahun 2022 ini mengalami kendala dan hambatan sehingga dapat mengganggu pembangunan rumah bagi masyarakar berpenghasilan rendah (MBR), yang sangat membutuhkan hunian terjangkau,” jelas Daniel. Dikatakan Daniel, saat ini masalah PBG (Perijinan Bangunan Gedung), sebagai ganti IMB, sejak 2 Agustus 2021 hingga kini belum berjalan atau masih belum ada Perda nya, hampir semua di kabupaten atau kota. Sehingga sangat mengganggu dan menghambat pembangunan rumah, baik bagi MBR maupun milenial. “Begitu juga dengan rumah komersial, baik perumahan baru maupun perumahan lama yang belum terbit PBG sebagai ganti IMB. Bila PBG (pengganti IMB) tertunda 6 bulan, atau separuh program Sejuta Rumah Pemerintah, maka terjadi idle investasi lebih dari Rp. 60 – 80 Triliun,” ujar Daniel dengan tegas. Oleh karena itu, sambung Daneil, dengan terbitnya Surat Edaran Bersama 4 Menteri (Dalam Negeri, Keuangan, PUPR dan Investasi/BKPM) tertanggal 25 Februari 2022, maka percepatan terbitnya PBG pemerintah daerah dengan memakai Perda Retribusi IMB sangat diperlukan sekali. “Hal ini untuk mengejar ketertinggalan waktu terbuang 6-7 bulan, juga untuk menghindari idle investasi di sektor properti yang terbukti menjadi peringkat 1 realisasi investasi pada tahun 2021. Ini juga akan berdampak pada perekonomian nasional dan terganggunya penyerapan jutaan tenaga kerja baik langsung maupun jutaan tenaga kerja yang terserap dalam industri ikutan atau multiflier efeknya,” tutur Daniel. Realisasi Investasi Properti Baik, Apersi Masih Keluhkan Masalah Perijinan Lebih lanjut dijelaskan Daniel, perijinan lainnya juga ikut mengganggu sektor properti yakni masih banyak Kabupaten dan Kota yang belum bisa menerbitkan perijinan baru, sehingga menghambat  investasi. Dirinya mengakui OSS tujuannya sangat bagus, mulia dan effisien, karena menghemat waktu dan biaya. “Terutama bagi investasi guna pertumbuhan roda perekonomian maupun menyerap jutaan tenaga kerja, yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan negara saat ini. Oleh karena itu diperlukan terobosan dan rileksasi serta koordinasi yang jitu guna mengurai kebuntuan masalah Perijinan ini,” ungkap Daniel. Maka dari itu, imbuh Daniel, diperlukan percepatan dan rileksasi regulasi peraturan, perijinan, prosedure perbankan dan harga tanah serta rileksasi kemudahan dan percepatan realisasi KPR khususnya bagi MBR dan Millenials serta realestate, merupakan kendala bagi pengembang properti untuk membangun lebih banyak rumah hunian, yang dibutuhkan untuk mengurangi angka Backlog sektor perumahan. “Selanjutnya adalah tidak ada penyesuaian harga setelah lebih dua tahun ini yakni 2020 dan 2021. Sementara kenaikan harga bahan bangunan seperti besi beton terus terjadi. Oleh karena itu diperlukan adanya penyesuaian harga jual rumah subsidi bagi MBR dan skema khusus dengan harga dan suku bunga khusus bagi kalangan millenial,” pungkas Daniel.

Di Tengah Pandemi, Realisasi Investasi Jakarta Tertinggi Se-Indonesia

UMUM – Provinsi DKI Jakarta mencatatkan nilai realisasi investasi tertinggi secara nasional pada Triwulan II Tahun 2020 (periode April s.d. Juni) dengan total nilai investasi sebesar Rp. 30,1 triliun. Selama periode Triwulan II tahun 2020 realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) DKI Jakarta, sebesar US$ 0,8 miliar atau setara dengan Rp. 12,2 triliun dengan kurs APBN 2020 US$1= Rp. 14.400 dan realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) DKI Jakarta, sebesar Rp. 17,9 triliun. [irp] “Alhamdulillah, Provinsi DKI Jakarta kembali meraih pencapaian dalam bidang penanaman modal. Berdasarkan data BKPM RI, DKI Jakarta meraih realisasi investasi PMA dan PMDN sebesar Rp.30,1 triliun pada Triwulan II tahun 2020, menempati urutan pertama sebagai Provinsi dengan realisasi investasi tertinggi se-Indonesia” kata Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi DKI Jakarta, Benni Aguscandra melalui keterangan tertulis, Sabtu, (8/8/2020). Dengan demikian, Realisasi Investasi PMA dan PMDN DKI Jakarta selama Semester I tahun 2020 (periode Januari s.d. Juni) mencapai Rp. 50,2 triliun atau berkontribusi 12,5% dari Total Realisasi Investasi PMA dan PMDN Nasional, sebesar Rp. 402,6 triliun. “ini menunjukkan bahwa masih adanya geliat investasi di Ibu Kota meskipun di tengah Pandemi Covid19” imbuh Benni. [irp] Kendati demikian, Benni menyampaikan terjadi penurunan realisasi investasi PMA DKI Jakarta sebesar 10,29% pada Triwulan II tahun 2020 bila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2019 lalu. Hal ini, kata Benni disebabkan karena faktor pandemi Covid-19 yang melanda berbagai negara di dunia yang mengakibatkan dampak terhadap perekonomian global sehingga terjadi perlambatan kinerja investasi. Hal sebaliknya terjadi pada Realisasi Investasi PMDN DKI Jakarta yang tetap menunjukkan performa positif pada triwulan kedua ini dengan mengalami kenaikan sebesar 10,49% bila dibandingkan dengan realisasi PMDN pada periode yang sama tahun 2019 lalu. “Pencapaian ini merupakan bukti bahwa berbagai kebijakan Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Bapak Anies Rasyid Baswedan saat Pandemi Covid-19 menuju masyarakat sehat, aman dan produktif disambut baik oleh para investor dan tetap menciptakan lingkungan berusaha yang kondusif di Jakarta” tutur Benni. [irp] Benni menambahkan Pemprov DKI Jakarta, melalui DPMPTSP Provinsi DKI Jakarta gencar melakukan promosi proyek- proyek potensial kepada para investor meskipun dilakukan dengan Adaptasi Kebiasaan Baru mengikuti protokol pencegahan Covid-19 dan senantiasa menghadirkan inovasi layanan perizinan dan nonperizinan yang memudahkan pelaku usaha untuk membangun bisnisnya di Ibu Kota. Sektor Usaha Paling Diminati Lebih lanjut, Benni merinci sektor usaha yang mencatatkan nilai realisasi investasi tinggi dan menarik minat investor dalam menanamkan modalnya di Jakarta. Bagi investor PMA sektor usaha yang paling diminati adalah Perumahan, Kawasan Industri dan Perkantoran dengan nilai realisasi investasi sebesar, US$ 308 juta atau berkontribusi sebesar 36% dari total Realisasi Investasi PMA DKI Jakarta pada Triwulan II tahun 2020. [irp] Sementara sektor usaha Transportasi, Gudang, dan Telekomunikasi, kata Benni, menjadi sektor yang paling diminati oleh investor PMDN, sebesar dari Rp 6,6 triliun pada Triwulan II tahun 2020. Data realisasi investasi PMA dan PMDN berdasarkan wilayah Kota Administrasi, paling tinggi berada di Jakarta Selatan dengan total realisasi investasi sebesar Rp. 13,5 triliun terdiri dari PMA sebesar Rp. 8,3 triliun dan PMDN sebesar Rp. 5,2 triliun. Kedua, imbuhnya, Jakarta Pusat dengan realisasi investasi sebesar Rp. 8,8 triliun terdiri dari PMA sebesar Rp. 1,7 triliun dan PMDN Rp. 7,1 triliun; Ketiga, Jakarta Utara dengan realisasi investasi sebesar Rp.3,4 triliun terdiri dari PMA sebesar Rp. 936 miliar dan PMDN sebesar Rp. 2,5 triliun; Keempat, Jakarta Barat dengan realisasi investasi Rp. 2,3 triliun terdiri dari PMA Rp. 430 miliar dan PMDN 1,9 triliun; dan Jakarta Timur dengan realisasi investasi sebesar Rp.2 triliun terdiri dari PMA sebesar Rp. 799 miliar dan PMDN Rp. 1,2 triliun. [irp] “Kami terus melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pemangku kepentingan untuk menyusun strategi dan solusi penguatan iklim investasi di Jakarta serta aktif melakukan promosi dalam berbagai forum investasi yang diselenggarakan dengan Adaptasi Kebiasaan Baru dalam upaya pencegahan Covid19,” pungkas Benni