Dampak Pandemi Covid-19 Transaksi Penjualan Properti Turun 60 Persen
Properti : Wabah virus Corona, telah melumpuhkan hampir semua lini kehidupan manusia. Virus ini menciptakan efek domino yang merugikan berbagai sektor, termasuk properti. Selama tahun 2020, virus corona juga telah mengganggu transaksi di sektor perumahan, yang berimbas tersendatnya penyaluran kredit pemilikian rumah (KPR). Seperti yang dijelaskan Djoko Yoewomo, Founder Real Estate & Morgage Institute (REMI), penjualan properti baru per triwulan III 2020 year on year untuk type besar turun 60 %, sementara untuk type menengah turun 29,28 %, sedangkan type kecil turun 24,99 %, sehingga secara total turun 30,93 %. [irp] “Bahkan Di triwulan ke IV 2020 angka penurunannya dari Triwulan III 2020 tersebut menurun menjadi di angka 20,59 %,”ujarnya. Djoko Yoewomo menambahkan, berdasarkan hasil sebuah survey Harga Properti Residensial, Bank Indonesia mengindikasikan harga properti residensial masih tumbuh terbatas pada triwulan IV 2020. Untuk pembelian properti residensial via KPR di Triwulan 2 yang masih di angka 78,41 %, menurun menjadi 76,02 di Triwulan III 2020 dan menurun lagi di 75,31 % di Triwulan IV 2020. Berbeda dengan pembelian properti residensial secara Cash bertahap di Triwulan II 2020 sebesar 16,22 %, naik di angka 17,67 % di Triwulan III 2020 dan naik kembali di 17,85 % di Triwulan IV 2020 Begitu pula dengan juga pembelian secara cash naik dari 5,37 % di Triwulan II 2020, menjadi 6,31 % di Triwulan III 2020 dan naik lagi di 6,84 % di Triwulan IV 2020. [irp] “Kondisi diatas mengindikasikan benar keluhan developer dan masyarakat bahwa perbankan makin ketat dan sulit memproses KPR, termasuk untuk segment first buyer atau end user,”ujarnya. Bank Indonesia sendiri akhirnya mengeluarkan kebijakan LTV sampai 100 persen untuk pembiayaan KPR dan tidak lagi mengatur porsi pencairan KPR Indent yang berlaku per 1 Maret 2021 sd 31 Desember 2021. Djoko melihat, kondisi ini mengingatkan kembali pada era sebelum pengetatan pembiayaan KPR tahun 2012. Dimana penjualan properto mengalami masa booming. Karena pada saat itu, perbankan dan developer bebas melakukan inovasi produk dan program marketing secara bersama-sama. “Mudah mudahan kondisi ini bisa menjadi titik awal kembali bangkitnya sektor properti dan pembiayaan KPR setelah hampir 10 tahunan mengalami kondisi stagnant,” papar Djoko.
Pengembang Minta Relaksasi, Bank Tegaskan Tidak Ada Pengetatan KPR
BERITA UTAMA – Indonesia masih berpeluang untuk mencatatkan pertumbuhan ekonomi positif di tengah pertumbuhan ekonomi global yang negatif akibat pandemi Covid-19. Properti bisa menjadi salah satu pendorong untuk catatan positif ekonomi nasional. Pemerintahan di seluruh dunia hingga saat ini masih terus menghitung berbagai dampak yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19. Hal ini dilakukan untuk menerapkan strategi yang paling tepat sehingga bisa mengurangi dampak khususnya pada bidang perekonomian agar penurunan yang terjadi tidak terlalu dalam. [irp] Dalam mengurangi angka backlog perumahan, pemerintah Indonesia meluncurkan sejumlah kebijakan dan strategi di bidang pembiayaan, seperti melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dan Subsidi Selisih Bunga (SSB), serta yang paling anyar adalah Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera). Namun, masih lambannya proses akad Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di pihak perbankan, membuat pembangunan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) masih terkendala. Saat ini yang diperlukan selain relaksasi adalah percepatan akad KPR khusus rumah subsidi, yang kerap terjadi di lapangan. [irp] Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI), Paulus Totok Lusida mengaku, jika konsumen perumahan subsidi kesulitan melakukan akad kredit dengan perbankan. Hal itu terkait belum tersedianya daya listrik di unit rumah yang akan diperjual belikan kepada konsumen. “Kami masih mendapat keluhan dari anggota. Sebagian besarnya adalah pengembang yang membangun perumahan bersubsidi. Ada bank yang enggan melakukan akad kredit dengan konsumen, dengan alasannya unit rumah belum tersambung daya listrik,” terang Totok. PLN beralasan lanjutnya, tidak dapat melakukan investasi baru saat ini. Hal ini mengemuka saat diskusi yang diselenggarakan Majalah Property&Bank bersama Aliansi Jurnalis Properti dan Keuangan (AJPK), dalam acara Webinar Nasional Ngopsor bertajuk Relaksasi Pembiayaan Rumah Rakyat Ditengah Pandemi. Diskusi ini berlangsung pada Selasa (4 Agustus 2020), dipandu oleh Indra Utama (Pimred Majalah Property&Bank) dan Djoko Yoewono, founder lembaga kajian properti REMI (Real Estate & Mortgage Institute). [irp] Sejumlah nara sumber yang hadir antara lain, Prof. Dr. Ir. Arief Sabaruddin CES (Direktur Utama Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP)), Suryanti Agustinar (Executive Vice President Nonsubsidized Mortgage & Personal Lending Division (NSLD) Bank BTN), Hermita (SVP Hubungan Kelembagaan Bank BNI), Frito Marcevianto (Vice President Divisi Social Learning Network (SLN) BNI), Paulus Totok Lusida (Ketua Umum REI), John Satri (Sekjend Asosiasi Pengembang Perumahan Nasional (Appernas) Jaya), serta Agung Mulyana (Waketum The HUD Institute). Dalam bahasan awal, Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) menjadi tema sentral sebagai dukungan fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan atau subsidi rumah murah kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), yang pengelolaannya dilaksanakan oleh Kementerian PUPR. [irp] “Kalau kita lihat per hari Selasa (04/08/2020), sudah ada total 204.710 debitur yang mengakses aplikasi SiKasep ini. Per hari ini 78.251 debitur sudah mendapatkan FLPP,” ujar Direktur Utama PPDPP, Arief Sabaruddin. Tercatat 204.710 debitur telah mengakses aplikasi Sistem KPR Bersubsidi (SiKasep). Sebanyak 84.289 debitur sudah dinyatakan lolos subsidi checking, 12.726 calon debitur masuk dalam proses verifikasi dengan bank pelaksana, dan 769 debitur masuk dalam proses pengajuan dana FLPP kepada PPDPP. Per 3 Agustus lalu, lanjut Arief, sebanyak 10.977 jumlah lokasi perumahan telah terdaftar dalam Sistem Informasi untuk Pengembang atau SiKumbang. Sebanyak 206.486 unit rumah tapak sudah terdaftar dan 87.768 unit rumah tapak subsidi sudah terdaftar di SiKumbang. [irp] Berdasarkan data survei kepuasan masyarakat pada aplikasi SiKasep, dari 26.553 yang melakukan kunjungan ke aplikasi per 3 Agustus 2020, sebanyak 15.440 kunjungan menyatakan aplikasi SiKasep sangat baik sebesar 58,18 persen, sebanyak 9.297 kunjungan menyatakan baik sebesar 35,01 persen. Jika dari data yang ada di database PPDPP, terlihat pada Juli jumlah masyarakat yang mengakses aplikasi ini sebanyak 41.696, meningkat jika dibandingkan bulan Juni sebesar 32.557 pengakses. “PPDPP sebagai lembaga yang menyalurkan dan mengelola dana FLPP, akan terus berinovasi untuk pembiayaan perumahan yang lebih baik,” jelasnya. Tercatat per 30 Juli 2020 telah tersalurkan dana KPR FLPP sebanyak 77.986 unit senilai Rp 7,9 triliun atau sebesar 76,08 persen. Antusiasme ini dimanfaatkan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) kepada para pencari properti di tengah pandemi Covid-19, dengan menyiapkan berbagai program yang cocok bagi semua kelompok masyarakat, termasuk kaum milenial. Termasuk program komersial serta program subsidi dari pemerintah, tanpa melakukan pengetatan. [irp] Salah satu terobosan bank pelat merah ini adalah dengan menggelar BNI Griya Expo Online yakni pameran properti online yang bisa diakses masyarakat hanya dari rumah. BNI menawarkan beragam penawaran menarik bagi para pencari rumah selama perhelatan itu berlangsung mulai 7 Juli- 7 Agustus 2020. “Selain ingin memudahkan para pencari rumah impian, semua upaya kami dalam menyalurkan KPR dan mengajak masyarakat untuk membeli properti itu merupakan langkah – langkah untuk membantu perekonomian Indonesia agar terus bergerak. Kami pun aktif membantu program pemerintah terkait relaksasi saat pandemic Covid-19 ini,” ujar SVP Hubungan Kelembagaan Bank BNI Hermita, seraya menyebut program ini juga berlaku bagi non nasabah dengan prosedur yang selektif. BNI secara khusus juga memberi perhatian pada generasi milenial yang ingin memiliki properti. Kalangan ini memiliki ciri khas menginginkan hal-hal yang serba cepat, mudah, dan tidak terlalu mahal. Sehingga pameran online ini akan menjawab kebutuhan tersebut. [irp] Adapun penawaran menarik yang diberikan selama pameran ini berlangsung diantara grace period 2 tahun, dimana nasabah selama dua tahun pertama hanya membayarkan bunga saja dan cicilan pokok baru dibayarkan setelahnya. Kemudian menawarkan suku bunga khusus mulai 1% pa efektif fixed 1 tahun, diskon provisi hingga 74%, berbagai hadiah undian menarik bagi pengujung, instan approval dan lain-lain. Syarat bagi millenial untuk mendapatkan KPR BNI pun sangat mudah. “Syaratnya pun sederhana, pilih rumahnya, lengkapi datanya, akan langsung diproses dengan cepat. Itu yang paling penting dan kami siapkan dalam BNI Griya Online Expo. Milenial yang punya penghasilan Rp 2 juta per bulan saja, sudah bisa memilih rumah,” tukas Frito Marcevianto (Vice President Divisi Social Learning Network (SLN) BNI). [irp] Hal serupa juga dilakukan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) sebagai salah satu bank penyalur KPR subsidi melalui SiKasep. Menurut Suryanti Agustinar (Executive Vice President Nonsubsidized Mortgage & Personal Lending Division (NSLD) Bank BTN), pihaknya tidak melakukan pengetatan, bahkan terus mengajak para developer untuk bermitra. Ia juga berujar, paling tidak ada dua perubahan yang dirasakan BTN selama Covid-19. Pertama, yaitu proses seleksi calon nasabah harus lebih diperketat karena ada calon debitur yang mengalami penurunan pendapatan, bahkan tidak lagi memiliki pekerjaan. Dampak kedua yakni proses pembangunan rumah dan fasilitas penunjang.