PNB_Back_Up

Investasi Properti Komersial Asia Pasifik Tembus Rekor US$47 Miliar, Data Center dan Logistik Jadi Incaran Investor

PropertynBank.com – Pasar properti komersial di kawasan Asia Pasifik menunjukkan performa impresif pada awal 2026. Tingginya minat investor terhadap aset perkantoran, logistik, hingga data center mendorong nilai investasi properti komersial (commercial real estate/CRE) mencapai rekor baru sebesar US$47 miliar pada kuartal pertama 2026. Berdasarkan laporan terbaru JLL, capaian tersebut meningkat 31% dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan menjadi kinerja kuartal pertama tertinggi sepanjang sejarah di kawasan Asia Pasifik. Pencapaian ini mencerminkan kuatnya kepercayaan investor terhadap sektor properti komersiaal meskipun pasar global masih dibayangi ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga energi. Selain pertumbuhan investasi secara keseluruhan, aktivitas investasi lintas negara juga mencatat lonjakan signifikan. Nilai transaksi cross-border innvestment mencapai US$16,3 miliar atau naik 87% secara tahunan, sekaligus menjadi rektor tertinggi untuk satu kuartal. Singapura menjadi pasar dengan pertumbuhan investasi paling agresif di kawasan. Volume investasi properti komersial di negara tersebut melonjak 433% menjadi US$11,5 miliar. Sementara itu, Jepang tetap mempertahankan posisinya sebagai pasar terbesar dengan total investasi mencapai US$13,2  miliar. Menurut Stuart Crow, CEO Asia Pacific Capital Markets JLL, meskipun pasar mencatat awal tahun yang sangat kuat, investor masih mencermati potensi dampak perkembangan geopolitik terhadap harga energi global. “Dalam jangka pendek, modal diperkirakan akan lebih banyak mengalir ke pasar yang matang dan likuid seperti Jepang dan Singapura. Di sisi lain, kenaikan biaya konstruksi akibat harga energi berpotensi membatasi pasokan baru sehingga dapat mendukung pertumbuhan nilai aset di lokasi-lokasi strategis,” ujarnya. Data Center dan Logistik Makin Menarik bagi Investor Dari sisi sektor, properti perkantoran masih menjadi kontributor terbesar dengan nilai transaksi mencapai US$24 miliar atau meningkat 46% dibandingkan kuartal pertama tahun lalu. Nilai tersebut mewakili lebih dari separuh total investasi properti komersial di Asia Pasifik. Namun, sektor yang semakin mencuri perhatian investor adalah logistik dan data center. Investasi pada aset industri dan logistik tumbuh 53% menjadi US$8,5 miliar, didukung oleh kebutuhan rantai pasok yang semakin kuat serta permintaan terhadap fasilitas logistik modern. Sementara itu, investasi data center mencapai US$4,1 miliar pada kuartal pertama 2026. Tren ini didorong oleh pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) kebutuhan layanan cloud, serta kebijakan kedaulatan data yang diterapkan di berbagai negara. JLL memperkirakan kebutuhan kapasitas data center di Asia Pasifik akan tumbuh rata-rata 19% per tahun dalam 5 tahun ke depan. Keterbatasan pasokan dan ketersediaan listrik di sejumlah pasar utama juga mendorong pengembang untuk mencari lokasi alternatif yang memiliki dukungan infrastruktur energi lebih memadai. Beberapa kawasan yang mulai mendapat perhatian sebagai pusat pengembangan data center baru antara lain Johor Bahru di Malaysia, Batam di Indonesia, serta Bangkok di Thailand. Sektor perhotelan juga menunjukkan tren positif. Pemulihan pariwisata regional yang terus berlangsung mendorong kenaikan tingkat hunian dan pendapatan hotel. Volume transaksi hotel meningkat 36% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan menjadi pasar yang paling aktif. Di Indonesia, prospek investasi properti komersial dinilai tetap menjanjikan. Country Head JLL Indonesia, Farazia Basarah, mengatakan bahwa fundamental ekonomi yang kuat, pertumbuhan ekonomi digital, bonus demografi, serta meningkatnya adopsi AI menjadi faktor utama yang terus menarik minat investor. Menurutnya, investor saat ini masih menaruh perhatian besar pada sektor-sektor dengan prospek pertumbuhan jangka panjang, terutama logistik dan manufaktur, data center, serta perhotelan. JLL juga melihat semakin banyak investor institusional menerapkan pendekatan investasi “HALO” (Heavy Assets with Low Obsolescence), yaitu strategi yang berfokus pada aset fisik yang memiliki potensi pendapatan stabil dan relatif tidak mudah terdampak perubahan teknologi. Tren ini diyakini akan semakin memperkuat daya tarik aset-aset berkualitas yang mampu menghasilkan pendapatan berkelanjutan dalam jangka panjang.

AI Dorong Ledakan Data Center Global, Indonesia Jadi Pasar Strategis

Data Center Global

Propertynbank.com – Sektor data center global diproyeksikan memasuki fase pertumbuhan paling agresif dalam sejarahnya. Laporan Global Data Center Outlook 2026 terbaru dari JLL mencatat kapasitas data center dunia diperkirakan melonjak hampir dua kali lipat, dari sekitar 103 GW saat ini menjadi 200 GW pada 2030. Percepatan adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi katalis utama transformasi ini. JLL memproyeksikan bahwa pada 2030, beban kerja berbasis AI akan menyerap sekitar 50% dari total kapasitas data center global, meningkat tajam dibandingkan sekitar 25% pada 2025. Meski ekspansi berlangsung sangat cepat, indikator properti menunjukkan sektor ini masih memiliki fundamental yang solid dan tidak mengarah pada risiko gelembung pasar. Lonjakan kapasitas tersebut diperkirakan menuntut total investasi hingga USD 3 triliun dalam lima tahun ke depan. Angka ini mencakup sekitar USD 1,2 triliun peningkatan nilai aset properti serta USD 870 miliar pembiayaan utang baru, menandai dimulainya era supercycle investasi infrastruktur digital secara global. Global Division President, Data Centers and Critical Environments JLL, Matt Landek, menyebut industri tengah menghadapi perubahan struktural terbesar sejak era migrasi cloud. Menurutnya, belanja hyperscaler untuk pengembangan data center dalam periode 2024–2026 saja diperkirakan mencapai USD 1 triliun, sementara keterbatasan pasokan lahan dan panjangnya waktu koneksi jaringan listrik hingga empat tahun menciptakan tantangan baru dalam pengembangan proyek. Tren global tersebut tercermin pada pasar domestik. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memperkirakan industri data center Indonesia tumbuh sekitar 14% per tahun hingga 2028, didorong oleh peningkatan jumlah pengguna internet dan akselerasi ekonomi digital. Sementara itu, Bank Dunia memproyeksikan permintaan data center nasional tumbuh hingga 16,8% per tahun, memperkuat keyakinan terhadap fundamental jangka panjang sektor ini. Country Head JLL Indonesia, Farazia Basarah, menilai pasar properti Indonesia saat ini tengah memasuki fase diversifikasi investasi. Investor semakin aktif menjajaki segmen-segmen alternatif di luar properti konvensional, dengan data center menjadi salah satu aset paling menarik, berdampingan dengan sektor logistik, kesehatan, dan pendidikan. JLL memperkirakan titik krusial akan terjadi pada 2027, ketika kebutuhan AI inference melampaui kebutuhan training. Fasilitas data center yang difokuskan pada pelatihan AI memerlukan kepadatan daya hingga 10 kali lebih tinggi dibandingkan data center konvensional, dengan potensi tarif sewa hingga 60% lebih mahal. Global Head of Data Center Research JLL, Andrew Batson, menambahkan bahwa AI kini telah menjadi isu strategis nasional di banyak negara. Hal ini mendorong investasi infrastruktur yang didukung pemerintah, dengan peluang belanja modal global diperkirakan mencapai USD 8 miliar hingga 2030. Di sisi teknologi, kontribusi pendapatan dari chip AI diproyeksikan meningkat dari sekitar 20% menjadi 50% dari total pasar semikonduktor global pada 2030. Selain itu, custom silicon diperkirakan menguasai sekitar 15% pangsa pasar, seiring hyperscaler mengembangkan prosesor internal untuk meningkatkan efisiensi dan menekan biaya operasional. Pola Pertumbuhan Regional Data Center Global Secara geografis, kawasan Amerika diperkirakan tetap mendominasi dengan pangsa sekitar 50% dari kapasitas global, sekaligus mencatat laju pertumbuhan tercepat hingga 2030. Asia Pasifik diproyeksikan tumbuh dari 32 GW menjadi 57 GW, sementara Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA) menambah sekitar 13 GW kapasitas baru. Di Asia Tenggara, Indonesia semakin menonjol sebagai pasar pertumbuhan utama. Kawasan CBD Jakarta tetap relevan berkat kedekatannya dengan pusat pertukaran internet utama. Di luar Jabodetabek, wilayah Cikarang dan Karawang menarik minat hyperscaler karena keberadaan kawasan industri matang dan akses ke sumber listrik mandiri. Batam juga mulai dilirik sebagai calon hub data center regional berkat keunggulan konektivitas lintas negara. JLL mencatat tingkat okupansi global data center mencapai 97%, dengan sekitar 77% proyek yang sedang dibangun telah mengantongi komitmen penyewa. Tarif sewa global diperkirakan tumbuh rata-rata 5% per tahun hingga 2030, dengan kawasan Amerika memimpin kenaikan akibat keterbatasan pasokan. Meski tantangan rantai pasok masih terasa, ditandai waktu tunggu peralatan rata-rata mencapai 33 minggu, kepercayaan pasar tetap tinggi. Untuk mengatasi keterlambatan konstruksi, pengembang mulai mengadopsi solusi modular dan micro data center, dengan nilai penjualan global diproyeksikan mencapai USD 48 miliar pada 2030. Ketersediaan listrik menjadi isu krusial, dengan waktu tunggu koneksi jaringan di pasar utama kini melebihi empat tahun. Sejumlah operator bahkan mulai mendanai pembangkit energi sendiri. Ke depan, kombinasi energi terbarukan, sistem penyimpanan baterai (BESS), dan solusi energi hibrida diproyeksikan menjadi strategi utama industri data center global. Bagi Indonesia, dinamika ini menegaskan pentingnya perencanaan jangka panjang dalam pengembangan data center, khususnya terkait ketersediaan listrik, konektivitas, air bersih, dan kesiapan talenta agar tetap kompetitif di tengah persaingan regional.

Hunian Tapak Melambat, Ritel dan Perkantoran Masih Menjanjikan

permintaan, investasi properti di indonesia

Propertynbank.com – Kinerja pasar properti Indonesia pada tahun 2025 diprediksi akan terus membaik, meskipun di beberapa sektor masih menunjukkan pergerakan yang lamban. Data dari JLL Indonesia mengungkapkan bahwa tingkat hunian, harga sewa, hingga permintaan di sektor-sektor kunci seperti pusat perbelanjaan, apartemen, rumah tapak, gudang modern, dan perhotelan, cenderung bergerak stabil dengan potensi pertumbuhan di beberapa area. Yunus Karim, Head of Research JLL Indonesia, menjelaskan tingkat hunian perkantoran di kawasan CBD dan non-CBD bertahan di angka 71%. Aktivitas penyewa pada paruh pertama 2025 masih fokus pada relokasi strategis dan optimalisasi ruang. “Tidak akan ada tambahan pasokan gedung baru di CBD sepanjang tahun ini, sementara kawasan non-CBD akan menerima tambahan pasokan,” jelasnya. Di segmen perkantoran CBD, permintaan bersih meningkat dibanding kuartal sebelumnya, didominasi oleh sektor teknologi, pertambangan, dan keuangan. ”Tidak ada suplai baru yang masuk, sehingga tingkat hunian rata-rata stabil di angka 71%. Sewa kantor Grade A naik tipis 0,5% quarter-on-quarter (q-o-q) seiring pemilik gedung dengan okupansi tinggi mulai menaikkan tarif secara hati-hati” jelas Rosari Chia, Head of Office Leasing Advisory. Menurut Rosari, sektor perkantoran non-CBD juga mencatat permintaan positif, dipimpin oleh sektor manufaktur. Namun, tarif sewa di kawasan TB Simatupang turun 0,4% q-o-q karena persaingan menarik penyewa baru di tengah strategi efisiensi biaya perusahaan. Untuk ritel, sektor makanan dan minuman tetap menjadi katalisator pusat perbelanjaan, salah satu yang terlihat aktif adalah ekspansi minuman beraneka rasa dari luar negeri, seperti dari Thailand dan Tiongkok. Baca Juga : Berada di Ketinggian 430 mdpl, Rancamaya Bogor Direvitalisasi Menjadi Hunian Resor Premium  Di sisi lain, sektor Athleisure menunjukkan aktivitas dalam beberapa tahun terakhir seiring olahraga menjadi gaya hidup. Tidak adanya pasokan baru yang beroperasi membuat tingkat hunian tetap terjaga sehat di angka 85% dengan pergerakan peritel yang juga tetap terpantau cukup aktif namun terbatas di triwulan ini. Pusat perbelanjaan premium mencatat kenaikan sewa 0,9% q-o-q, ditopang tren athleisure dan dominasi sektor F&B, termasuk masuknya merek minuman rasa asal Thailand dan China. Lokasi alternatif seperti lifestyle center semakin diminati Gen Z dan milenial. JLL memperkirakan pertumbuhan sewa mencapai 3% hingga akhir 2025. Sementara sektor hunian tapak, menurut Vivin Harsanto selaku Head of Growth and Head of Strategic Consulting JLL Indonesia mengungkapkan, pasar hunian tapak Jabodetabek melambat akibat berakhirnya insentif pajak 100% pada 30 Juni dan ketidakpastian global. Meski demikian, segmen harga Rp1,3–2 miliar tetap mencatat transaksi kuat. Pengembang juga mulai mengadopsi sertifikasi hijau seperti EDGE, GBCI, dan Greenship. Baca Juga : Kuartal I 2025, Permintaan Perkantoran dan Pergudangan Modern Meningkat “Pasar perumahan tapak di Jabodetabek mengalami perlambatan pada semester pertama 2025. Jumlah unit yang diluncurkan turun 49% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Perlambatan ini dimungkinkan akibat beberapa faktor seperti berakhirnya insentif pajak 100% di bulan Juni dan ketidakpastian ekonomi global yang membuat pasar lebih berhati- hati,” ungkapnya. Namun, segmen menengah ke atas menunjukkan ketahanan dengan aktivitas transaksi yang lebih banyak. Di tengah kondisi ini, kota-kota mandiri yang sudah mapan terus berkembang. Mereka memperluas komponen komersial dengan membangun ruko, pusat bisnis, area F&B, dan fasilitas hiburan. Bahkan, terdapat satu perumahan skala besar yang diluncurkan dengan luas > 1,000 ha di Tangerang yang menunjukkan bahwa sektor perumahan tapak masih menarik minat pengembang.

Akuisisi Lahan 50.000 m2, DAMAC Digital Kembangkan Pusat Data AI Terbesar di Indonesia 

data center, damac digital

Propertynbank.com – JLL (NYSE: JLL) JLL Indonesia mengumumkan keberhasilan dalam memfasilitasi akuisisi lahan yang signifikan untuk DAMAC Digital, perusahaan infrastruktur digital global, dalam memperoleh 50.000 meter persegi di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Indonesia. Proyek penting ini menandai total investasi sebesar USD 2,3 miliar dan akan dilengkapi dengan rack AI berdensitas tinggi dengan kapasitas proyeksi melebihi 144MW, menjadikannya salah satu pusat data AI khusus terbesar di Indonesia. Farazia Basarah, Country Head & Head of Industrial and Logistics, JLL Indonesia mengatakan, transaksi ini menandakan peran Indonesia yang semakin penting dalam lanskap infrastruktur digital. Seiring dengan tumbuhnya permintaan komputasi AI di kawasan Asia Tenggara, Jakarta tengah menempatkan diri sebagai hub yang strategis untuk pusat data generasi mendatang. “Kami dapat menggunakan pemahaman pasar dan pendekatan layanan terintegrasi kami untuk membantu DAMAC Digital memperoleh lokasi strategis yang akan mendukung perjalanan transformasi digital Indonesia,” jelas Farazia dalam keterangan tertulis. Baca Juga : Berpengalaman 12 Tahun di JLL, Farazia Basarah Ditunjuk Sebagai Country Head Indonesia Lebih lanjut dijelaskannya, fase pertama untuk pembangunan direncanakan selesai pada kuartal ketiga 2026, hal ini akan menambah jejak DAMAC Digital di Asia Tenggara, yang telah mencakup operasi di Thailand dan Malaysia. Perusahaan menargetkan kapasitas operasional lebih dari 300MW pada tahun 2026. JLL, kata Farazia, bekerja sama secara kolaboratif untuk mengidentifikasi dan memperoleh lokasi ideal yang memenuhi spesifikasi teknis dan tujuan strategis DAMAC. “Transaksi ini tidak hanya memperkuat posisi JLL di garis depan sektor infrastruktur digital Indonesia yang berkembang pesat, tetapi juga mencerminkan dukungan kami terhadap transformasi digital nasional,” ungkap Farazia. Melalui keahlian mendalam di pasar lokal, jaringan yang luas, dan pemahaman komprehensif tentang tren yang sedang berkembang, sambung dia, JLL terus menghubungkan klien global seperti DAMAC Digital dengan peluang strategis di lanskap pusat data yang dinamis di Indonesia.

JLL Perkuat Operasional Fasilitas Bali International Hospital

jll

Propertynbank.com – JLL (Jones Lang LaSalle) dipercaya sebagai mitra pengelola properti dan fasilitas oleh Bali International Hospital (BIH), rumah sakit berstandar internasional yang merupakan bagian dari PT Pertamina Bina Medika IHC. Kolaborasi ini mendukung operasional BIH yang terletak di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan Sanur, Bali. Fasilitas strategis yang telah diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 25 Juni 2025. Sebagai bagian dari komitmen menghadirkan layanan kesehatan berkelas dunia, JLL mengerahkan tim ahli dari JLL Global Healthcare Practice. Tim ini bertugas memastikan seluruh aspek operasional gedung, termasuk infrastruktur utama dan sistem fasilitas, dikelola secara profesional sesuai standar internasional. Lingkup tanggung jawab JLL mencakup manajemen operasional harian properti, pemeliharaan sistem dan peralatan bangunan, hingga pengawasan terhadap dampak lingkungan. Naomi Patadungan, Head of Property & Asset Management, JLL Indonesia, mengatakan, rumah sakit merupakan lingkungan dinamis dan strategis di mana pengelolaan properti yang profesional sangat diperlukan untuk memastikan kelancaran operasional dan tersedianya lingkungan kerja yang efisien dan higienis bagi para profesional medis. “JLL menerapkan protokol kesehatan khusus yang selaras dengan standar perawatan kelas dunia yang menjadi komitmen BIH,” ujarnya. Baca Juga : Sinar Mas Land Raih Penghargaan The Best Property Developer with Digital Technology Support di IPBA 2025 Inisiatif ini merupakan bagian dari kolaborasi strategis antara sektor publik dan swasta untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi unggulan wisata medis di kawasan regional. BIH lahir dari sinergi berbagai pihak yang memiliki visi sejalan dalam mendorong inovasi, menciptakan nilai, serta mempercepat transformasi layanan kesehatan nasional. Pilih JLL Jadi Mitra Direktur Utama PT Pertamedika Bali Hospital, dr. Dewi F. Fitriana, MPH, menjelaskan, BIH bukan sekadar proyek pembangunan fasilitas kesehatan, melainkan merupakan bagian dari investasi jangka panjang dalam pengembangan infrastruktur strategis untuk mendukung masa depan layanan kesehatan di Indonesia. “Kami memilih JLL sebagai mitra karena mereka memiliki pemahaman menyeluruh tentang pengelolaan operasional dan keselamatan gedung rumah sakit berstandar internasional,” tegasnya. Baca Juga : Jalin Kolaborasi Strategis, Central Group Dorong Sekupang Jadi Pusat Wellness Tourism Asia BIH dilengkapi dengan teknologi medis canggih, seperti MRI 3.0 Tesla untuk pencitraan otak, tulang, dan tumor dengan resolusi tinggi, mammogram digital untuk deteksi dini kanker payudara, serta brachytherapy 3D untuk terapi radiasi internal yang akurat dan minim efek samping. BIH juga menggunakan alat radioterapi LINAC modern yang memungkinkan pemberian dosis tinggi secara presisi dalam waktu singkat, bahkan untuk tumor yang bergerak. Didukung layanan laboratorium berstandar internasional, BIH memastikan hasil diagnosis yang cepat, akurat, dan dapat diandalkan, memperkuat posisinya sebagai rumah sakit berkelas dunia di Indonesia. Dengan dukungan berbagai pihak, JLL berkomitmen memastikan agar seluruh fasilitas di BIH beroperasi secara optimal setiap hari. Upaya ini bertujuan menciptakan lingkungan pelayanan kesehatan yang tidak hanya memenuhi standar global, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang aman, nyaman, dan bermakna bagi pasien maupun tenaga medis.

Terbaik Sejak 2022, Investasi Real Estat Komersial Asia Pasifik Meningkat

ekonomi indonesia, arsitektur lokal indonesia, bank mandiri

Propertynbank.com – Investasi real estat komersial di Asia Pasifik meningkat 28% secara tahunan (YoY) pada Q3/2024, mencapai USD 38,8 miliar. Ini merupakan volume investasi kuartalan tertinggi di Asia Pasifik sejak siklus kenaikan suku bunga tahun 2022 dan pertumbuhan kuartalan keempat kalinya secara berturut-turut di wilayah tersebut. Berdasarkan data dan analisis dari perusahaan konsultan properti global JLL (NYSE: JLL), total volume investasi tahun berjalan (YTD) 2024 mencapai USD 96,3 miliar, meningkat 82% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Seluruh sektor properti utama, kecuali sektor hunian, mencatat pertumbuhan volume investasi, ditandai dengan investasi antar negara yang mencapai USD 14,5 miliar tahun berjalan (YTD), meningkat 6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Lonjakan investasi lintas negara ini didorong oleh minat tinggi investor asing pada aset perkantoran dan logistik. Baca Juga : JLL Sebut Harga Sewa Perkantoran Jakarta Tumbuh Positif Stuart Crow, CEO, Asia Pacific Capital Markets, JLL mengatakan, Jepang tetap menjadi pasar paling aktif di Asia Pasifik, dengan volume perdagangan senilai USD 8,4 miliar pada kuartal ketiga, didorong oleh akuisisi portfolio hotel besar-besaran dan rekor jumlah wisatawan. Sementara Singapura, kata dia, juga menunjukkan kinerja yang baik dengan nilai transaksi sebesar USD 4,4 miliar pada kuartal ketiga, meningkat 118% dibandingkan kuartal ketiga 2023, berkat tingginya permintaan dari investor institusi terhadap aset industri dan ritel. “Banyak faktor yang berperan mendorong volume transaksi di Asia Pasifik di kuartal ketiga, dan kami yakin tren ini akan terus meningkat dengan perkiraan penurunan biaya pinjaman di pasar utama regional,” kata Stuart Crow. Selain itu, ujarnya, ditambah dengan penurunan valuasi properti, pihaknya memperkirakan tahun 2025 akan menjadi momen yang kuat untuk  memasuki pasar, di mana investor yang bergerak lebih awal kemungkinan akan menghadapi persaingan yang lebih sedikit dibanding investor lain. Investasi Real Estat Komersial Perkantoran Di seluruh Asia Pasifik, sektor perkantoran dan logistik menyumbang lebih dari setengah nilai investasi. Di sektor perkantoran, Seoul dan Tokyomenjadi pemain utama dengan fundamental perkantoran yang kuat . Pertumbuhan penyewaan pun terus melampaui tingkat inflasi di Seoul berkat permintaan yang tinggi, sampai-sampai tidak ada stok ruang perkantoran grade-A yang tersisa untuk tahun 2025. Baca Juga : Awal Tahun 2024, JLL Sebut Tingkat Permintaan Semua Sektor Properti Positif Di Tokyo, tingkat kekosongan ruang perkantoran grade-A mendekati di angka -3%, sedangkan penyewaan ruang kantor tercatat naik tiga perempat dari pertumbuhan berturut-turut di kuartal ketiga. Sektor logistik didukung oleh transaksi portofolio yang besar, investor lokal dan asing optimis terhadap sektor logistik di Jepang berkat prospek penyewaan yang bagus. Volume transaksi logistik di Australia juga melonjak, terutama di pasar-pasar strategis  seperti Sydney dan Melbourne. Investasi besar dalam infrastruktur juga mulai muncul, bersamaan dengan alternatif real estat komersial seperti pusat data, memanfaatkan momentum global untuk infrastruktur digital, energi terbarukan, dan keamanan energi (energy security). Penggalangan dana untuk infrastruktur yang berfokus di Asia Pasifik menunjukkan kenaikan pada semester pertama 2024, mencapai USD 13,2 miliar – didorong oleh kesepakatan pendanaan seperti KKR Asia Pacific Infrastructure Investors II (USD 6,4 miliar). Menurut Stuart Crow, seiring lonjakan pasokan energi terbarukan di Asia Pasifik, yang mencakup 70% dari kapasitas listrik terbarukan secara global pada 2023, akan ada lebih banyak pendanaan yang akan tersalurkan ke sektor infrastruktur. Baca Juga : Berpengalaman 12 Tahun di JLL, Farazia Basarah Ditunjuk Sebagai Country Head Indonesia Pamela Ambler, Head of Investor Intelligence, Asia Pacific, JLL menambahkan, sejalan dengan meredanya inflasi di kawasan ini dan penurunan suku bunga The Fed pada bulan September, pihaknya melihat bank sentral di Asia Pasifik mulai memasuki siklus penurunan suku bunga. “Imbal hasil properti mungkin akan mengikuti tren serupa, namun suku bunga jangka panjang diperkirakan tetap lebih tinggi dibandingkan dekade terakhir. Investor perlu memperhatikan bagaimana pasar meresponsnya,” kata Pamela Ambler. Dalam hal transparansi, tuturnya, Asia Pasifik telah mengalami peningkatan yang signifikan, mencatat rata-rata peningkatan tertinggi sejak tahun 2022. “Transparansi akan menarik lebih banyak investasi di kawasan ini,” pungkas Pamela Ambler.

JLL Penasihat Investasi Hotel Terkemuka di Dunia

Whiz Luxe, bisnis hotel dan restoran

Propertynbank.com – JLL (NYSE: JLL) meraih kembali predikat sebagai konsultan investasi hotel terkemuka di dunia untuk tahun 2023, berdasarkan total volume investasi dalam kelas aset tersebut. Data yang dianalisis dan dipublikasikan oleh MSCI Real Capital Analytics (RCA) mengonfirmasi bahwa JLL telah terlibat dalam transaksi senilai $7,7 miliar, atau memiliki pangsa pasar global sebesar 25% dari seluruh transaksi investasi hotel. JLL naik ke posisi teratas setelah pada tahun sebelumnya berada di posisi kedua dalam pemeringkatan oleh lembaga independen ini. Ini sekaligus menegaskan momentum dalam strategi bisnis perusahaan dan kepercayaan yang dimiliki para investor dan operator hotel paling aktif di dunia pada platform konsultasi investasi JLL. Pencapaian ini juga mencerminkan kekuatan bisnis JLL yang terdiversifikasi sebagai penasihat investasi yang berfokus secara lokal dan terhubung secara global di Amerika, EMEA, dan Asia Pasifik (APAC). Di Amerika, wilayah investasi hotel terbesar secara global, JLL memberikan saran pada transaksi senilai sekitar $3.0 miliar, merebut pangsa pasar sebesar 19% untuk tahun 2023. Di wilayah EMEA, perusahaan memiliki pangsa pasar sebesar 30% setelah terlibat dalam transaksi senilai $2.7 miliar. Di APAC, pangsa pasar JLL mencapai 34% atau setara dengan transaksi investasi hotel senilai $2.0 miliar. Baca Juga : JLL Jadi Konsultan Penjualan Portofolio Hotel Pertama di Asia Tenggara di 2023 “JLL memiliki catatan dan reputasi yang baik sebagai penasihat investasi dengan keahlian yang unggul dalam industri perhotelan global. Di tengah situasi makroekonomi yang menantang dan tak terduga, bisnis perhotelan kami terus berkembang berkat kolaborasi, kemitraan, dan kepercayaan yang kuat yang menjadi ciri khas hubungan klien global kami. Kami bangga dengan pengakuan ini, dan ini juga dirasakan oleh klien dan jaringan pekerja hotel internasional kami,” kata Nihat Ercan, CEO, JLL Hotels & Hospitality Group, Asia Pasifik. Kinerja JLL Tahun 2023 Pada 2023, JLL menangani sejumlah transaksi penting di wilayah Amerika, EMEA, dan APAC, antara lain penjualan Diplomat Beach Resort di Fort Lauderdale, Florida, seharga $835 juta, transaksi aset tunggal terbesar ketiga sepanjang masa di Amerika Serikat; membantu Equity Inmuebles dalam penjualan 17 aset senilai EU535 juta di Spanyol, transaksi portofolio terbesar sepanjang sejarah negara tersebut; dan pemberian konsultasi dalam penjualan PARKROYAL di Kitchener Road, Singapura seharga $388 juta, yang merupakan transaksi aset hotel tunggal terbesar di negara tersebut. “Keyakinan ekonomi, konsumsi, dan pariwisata telah mengalami percepatan, dan industri hotel di Asia Pasifik menjadi penerima manfaat jangka panjang yang nyata. Kami yakin bahwa volume investasi pada kelas aset hotel di Asia Pasifik akan terus meningkat sebagai opsi investasi yang menjanjikan secara jangka panjang mengingat perubahan demografi dan konektivitas internasional yang semakin berkembang. Dengan pertimbangan, diantaranya, tingkat suku bunga yang cenderung moderat dan pemulihan pada perjalanan bisnis dan liburan, kami mengharapkan peningkatan volume investasi tahunan sebesar lebih dari $10,4 miliar untuk tahun 2024,” ujar Ercan. Baca Juga : JLL Kenalkan Model GPT Pertama Untuk Real Estat Komersial Jacintha Tabalujan Herzog, Head of Capital Markets JLL  untuk Indonesia dan Senior Director Capital Markets JLL untuk Asia Tenggara mengatakan, Indonesia mencatat total volume investasi hotel sebesar US$171 juta di Jakarta dan Bali di tengah penurunan volume transaksi global pada tahun 2023. Ini menegaskan kembali pandangan JLL bahwa investor melihat kelas aset hotel dengan sudut pandang jangka panjang dan oportunistik. “Kami memperkirakan total volume investasi hotel mencapai US$265 juta pada 2024, didorong oleh aktivitas penjualan investasi yang lebih kuat terutama di segmen luxury di Bali dan Jakarta,” kata Jacintha Tabalujan Herzog.

Rumah Tapak di Tangerang Dibawah Rp 2 Miliar Paling Diincar

perempuan, Cushman & Wakefield

Propertynbank.com – Konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia mengungkap, rumah tapak di Tangerang masih menjadi lokasi yang paling diminati. JLL juga menyebut, permintaan pasar terhadap rumah tapak pada kuartal keempat 2023 tergolong cukup baik. Sektor ini diperkirakan akan terus menerima tanggapan positif untuk kedepannya. Head of Research JLL Indonesia Yunus Karim pada Media Briefing mengungkap kebutuhan akan rumah tapak menjadi suatu kebutuhan yang akan mengenerate demand yang cukup sehat. Dalam acara tersebut, Yunus juga menjelaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah telah aktif memberikan insentif dengan keringanan pajak, seperti yang diluncurkan pada bulan November 2023. Menurutnya, hal ini telah terbukti memiliki dampak yang signifikan pada paruh kedua tahun 2023. Baca Juga : Cushman & Wakefield Sebut Tangerang Paling Prospek Tahun 2024 “Banyak pasokan-pasokan yang masuk, yang diluncurkan ketika memang adanya dari keringanan-keringanan pajak ini,” katanya dalam Media Briefing di Jakarta, Rabu (28/2/2024). Yunus menjelaskan bahwa ketika keringanan pajak tersebut diberlakukan, khususnya terhadap bangunan yang akan segera selesai, para pengembang menunggu kesempatan untuk menjual stok rumah yang sudah ada sebelum meluncurkan produk-produk baru. “Jadi di situ korelasi antara pajak dan akhirnya banyaknya kebutuhan pasokan yang masuk. Yang kita lihat memang di tahun 2023 ini semester kedua angkanya mirip-mirip, yang diluncurkan 10 ribu, total demand pasar juga 10 ribu,” ungkapnya. Yunus juga mengamati respons pasar yang cukup positif terhadap pasokan rumah baru yang diluncurkan oleh para pengembang. Rumah Tapak di Tangerang Paling Dicari Selain itu, Yunus juga menyebutkan beberapa kawasan yang menjadi favorit masyarakat. Dari rumah-rumah yang terjual di wilayah Jabodetabek, rumah tapak di Tangerang tercatat sebagai lokasi hunian yang paling diminati. “Jadi masing-masing juga punya performa yang sehat, tapi kita lihat secara umum di Tangerang itu memang paling banyak adanya rumah-rumah ini, sebagai perumahan dan rumah tapak di Tangerang. Dan kita lihat mereka banyak mengeluarkan produk-produk, konsep-konsep baru dengan mengejar affordability atau jangkauan harga yang juga menjadi kunci akhirnya demand ini cukup sehat,” katanya. Baca Juga : Pasar Properti 2024 Tetap Menjanjikan, Rumah Tapak Paling Prospektif Saat ini rumah dengan harga di bawah Rp 2 miliar, ada sekitar 80% dari total rumah yang dijual telah terjual. Yunus juga mengungkap bahwa faktor keterjangkauan adalah kunci utama dalam menyesuaikan target pasar, terutama kaum milenial. Selain itu, aktivitas para pengembang terlihat cukup aktif. Baru-baru ini, terdapat beberapa peluncuran perumahan berskala besar, yang tidak hanya terbatas pada klaster-klaster baru. Meskipun demikian, ia menekankan pentingnya para pengembang memperhatikan kriteria yang dicari oleh masyarakat. Kriteria tersebut meliputi aksesibilitas jalan, transportasi umum yang baik, serta ketersediaan fasilitas komersial di sekitarnya. “Tangerang itu yang paling established, kita bisa lihat dari pengembangannya berlangsung dari dulu adalah memang di daerah Tangerang. Kemudian, ditambah lagi memang dengan aksesibilitas sehingga tak heran jika rumah tapak di Tangerang paling favorit saat ini,” kata Yunus. (Nabilla Chika Putri)

Investasi Cold Storage di Asia Pasifik Diprediksi Tetap Tumbuh Hingga 2030

Cold Storage

Propertynbank.com – Fasilitas penyimpanan bertemperatur rendah (cold storage) masih akan menawarkan peluang investasi jangka panjang di Asia Pasifik karena memberikan potensi imbal hasil yang menarik dan stabil serta memiliki tingkat sewa yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelas aset lainnya. Menurut JLL (NYSE: JLL), nilai investasi di sektor cold storage di Asia Pasifik diperkirakan akan melampaui $2 miliar hingga 2030 – naik dari $948 juta pada 2021 – karena investor mencoba mendiversifikasi portofolio mereka seiring dengan memanfaatkan permintaan end-user untuk fasilitas yang lebih khusus. Antara saat ini dan tahun 2030, JLL meyakini bahwa sejumlah faktor akan mendorong pemulihan investasi pada aset penyimpanan dingin, di mana volume telah menyusut dari puncak di tahun 2021. Secara khusus, investor akan tertarik pada stabilitas yang lebih besar dari sektor ini dibandingkan dengan kelas aset lain, didukung oleh permintaan yang terus-menerus untuk barang-barang mudah rusak seperti makanan dan obat yang disimpan di fasilitas penyimpanan dingin. Selain itu, perjanjian sewa yang menarik, di mana sewa biasanya lebih tinggi daripada fasilitas logistik dan industri standar dan jangka waktu sewa lebih lama, akan menarik investor yang berpikiran maju. Baca Juga : Properti Hijau dan Produk Yang Efisien Makin Dibutuhkan Untuk Keberlanjutan Menurut analisis JLL, aktivitas transaksional di sektor penyimpanan dingin melambat dalam 12 bulan terakhir. Faktor eksternal, termasuk tingkat suku bunga yang lebih tinggi dan biaya modal yang meningkat membuat investasi properti secara umum kurang menarik di semua sektor. Dalam sektor penyimpanan beku di Asia Pasifik, volume melonjak baik untuk pusat distribusi maupun pusat penyimpanan beku pada tahun 2021, di mana harga rata-rata berada di atas rata-rata historis ($29,6 juta dibandingkan dengan $19,1 juta rata-rata 10 tahun). Selain itu, jumlah transaksi bernilai besar mencapai rekor 32 transaksi, lebih dari dua kali lipat dari 15 transaksi tahunan rata-rata selama 10 tahun terakhir. Hingga saat ini, ukuran transaksi rata-rata adalah $16,3 juta. “Investasi di cold storage telah menurun sejak tahun 2021 tetapi belum mencapai puncaknya. Sejumlah faktor, mulai dari perubahan struktural dalam pola konsumsi hingga pergeseran ke belanja online dan berbagai pengaruh makroekonomi, akan menopang pasar ini untuk pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan dari kelompok investor yang lebih terpilih,” kata Ben Horner, Senior Director, Supply Chain & Logistics Solutions, Asia Pasifik, JLL dalam siaran pers beberapa waktu lalu. Peningkatan Investasi Cold Storage Baru-baru ini, hambatan yang lebih besar untuk masuk ke dalam sektor penyimpanan dingin telah mempengaruhi aktivitas di sektor ini, tetapi akan menarik lebih banyak investor dan operator khusus ke sektor ini. Menurut analisis JLL, ada peningkatan penerimaan bahwa investasi dalam cold storage memerlukan pemahaman mendalam tentang kompleksitas unik terkait lingkungan dengan suhu terkontrol, logistik, dan kepatuhan regulasi. Akibatnya, realitas operasional ini dapat berfungsi sebagai keunggulan kompetitif bagi investor yang memiliki pengetahuan tersebut, di sisi lain menciptakan penghalang bagi investor lainnya. Baca Juga : Suku Bunga Naik Tak Pengaruhi Sektor Properti di Tahun 2024 Selain itu, agar sektor ini dapat memenuhi tuntutan konsumen terhadap efisiensi dan mengatasi gangguan global yang telah mengancam beberapa rantai pasokan yang kuat, investasi teknologi menjadi pertimbangan yang semakin penting bagi para investor yang membidik fasilitas penyimpanan dingin. Kemajuan dalam otomatisasi, robotika, dan efisiensi energi dapat secara signifikan meningkatkan efisiensi operasional fasilitas penyimpanan dingin dan membantu mengurangi biaya operator/penghuni seiring dengan peningkatan teknologi, menjadikannya lebih tangguh, tetapi pada akhirnya akan lebih menguntungkan bagi investor dengan pengalaman khusus. Situasi makroekonomi juga akan mempengaruhi kebutuhan investasi di masa depan pada sektor penyimpanan dingin di Asia Pasifik. Populasi kelas menengah yang signifikan di Asia Pasifik, ditambah dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat dan peningkatan tingkat pendapatan, diperkirakan akan mendukung peningkatan tingkat konsumsi. Konsumsi pribadi di Asia Pasifik tumbuh dengan CAGR yang kuat sebesar 4,1% antara tahun 2013 dan 2022. Ini diperkirakan akan meningkat menjadi 4,7% antara tahun 2023 dan 2025. “Indonesia memiliki potensi sosioekonomi yang kuat, seperti pertumbuhan jumlah penduduk kelas menengah, perkembangan industri pengolahan makanan, serta kondisi geografis, menjadikan cold storage sebagai salah satu sektor alternatif real estate yang prospektif di luar sektor pergudangan dan perumahan tapak,” kata Yunus Karim, Kepala Riset, JLL Indonesia. Baca Juga : Pasar Properti 2024 Tetap Menjanjikan, Rumah Tapak Paling Prospektif Selanjutnya, di Asia, pendapatan dari pengiriman barang kelontong lebih dari dua kali lipat antara tahun 2019 dan 2022, meningkat dari $92 miliar menjadi $269 miliar. Pendapatan diperkirakan akan meningkat menjadi $453 miliar pada tahun 2025, mencerminkan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 19,1%. Secara bersamaan, pasar logistik pihak ketiga (3PL) global mencapai nilai $556,4 miliar pada tahun 2022 dengan Asia Pasifik menyumbang sekitar sepertiga dari pasar global dan diproyeksikan untuk berkembang dengan CAGR 4,9% antara 2023 dan 2027, melebihi AS (2,1%) dan Eropa (2,2%). “Dengan semakin berkembangnya industri cold-chain, terutama di sektor makanan dan minuman, kami mulai melihat investor-investor lokal maupun asing mencari potensi pengembangan cold storage untuk dapat membantu peningkatan pasokan cold storage di Indonesia mengingat pasokan yang masih tergolong terbatas,” pungkas Farazia Basarah, Country Head & Head of Logistic and Industrial, JLL Indonesia.

Tak Ada Pasokan Baru, 3 Sektor Di Industri Properti Ini Terpantau Stabil

perkantoran, ruang perkantoran, gedung kantor, green office di cbd jakarta

Propertynbank.com – Akhir tahun nanti, sektor properti khususnya ritel diprediksi belum akan ada mall atau pusat perbelanjaan terbaru di Jakarta. Selain itu, sektor makanan dan minuman masih menjadi penopang utama pertumbuhan industry ritel di Jakarta. Hal tersebut bisa dilihat dengan adanya pembukaan gerai-gerai baru di sejumlah mal di Jakarta. Di sisi lain, masih banyak permintaan tenant di sektor fashion, kecantikan dan hiburan. Sejumlah merek global juga terus melakukan ekspansi pembukaan toko, terutama dimerek produk kecantikan. Head of Research JLL, Yunus Karim mengungkapkan, hingga kuartal ketiga tahun 2023, JLL mencatat tak ada pasokan baru untuk sektor ritel di Jakarta. Dengan okupansi rata-rata saat ini berkisar 88%. Angka ini terus menurun sejak tahun 2013 yang tercatat mencapai 93%. Baca Juga : Tak Terpengaruh Tahun Politik 2024, Sektor Properti Yang Bidik End User Masih Prospektif “Tingkat hunian pusat perbelanjaan saat ini tetap sehat di angka 88%. Hingga akhir tahun, diperkirakan tidak ada pusat perbelanjaan baru yang akan beroperasi,” katanya dalam acara Jakarta Property Market Update 3Q-2023, Rabu (18/10/2023). Di sisi lain, JLL melihat ada pertumbuhan tipis penyewaan mal-mal besar di Jakarta. Dengan pertumbuhan 1,45% secara kuartal ke kuartal. Head of Office Leasing Advisory, Angela Wibawa mengatakan jika aktifitas mencari ruang perkantoran saat ini tetap aktif hal tersebut dilihat dari triwulan ketiga tahun 2023 yang berasal dari berbagai sektor, khususnya gedung yang lebih baru dan memiliki kualitas yang lebih baik. “Beberapa tren yang masih berlangsung adalah perusahaan menerapkan strategi penghematan biaya sehingga tetap merumuskan formula yang tepat dalam menentukan besaran kebutuhan ruang perkantoran mereka. Dengan permintaan yang relatif terbatas, pemilik gedung menerapkan strategi-strategi untuk tetap kompetitif baik untuk mempertahankan maupun menaikkan tingkat hunian mereka” ungkapnya Situasi ini secara umum membuat harga sewa masih tetap tertekan, akan tetapi kami mulai melihat beberapa gedung yang memiliki kualitas lebih baik dan tingkat hunian yang juga diatas rata-rata pasar, mulai menahan harga sewa mereka tetap stabil. Baca Juga : Pengamat Properti Usulkan Cara Ini Untuk Mencapai Zero Backlog di 2045 Dalam hal penjualan kondominium, Head of Advisory, Vivin Harsanto mengatakan bahwa penjualan di Jakarta relative masih belum pulih, hal tersebut terlihat ketika pengembang masih memanfaatkan peluang dengan meluncurkan proyek kondominium baru terutama di Jakarta Selatan dan Jakarta Utara yang membuat aktifitas penjualan sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. “Iya berdasarkan data, terlihat dari penyerapan di kelas menengah dengan harga kurang dari 3 milyar rupiah. Beberapa proyek yang sedang konstruksi terlihat mengalami kemajuan, seiring dengan minat yang lebih besar dari calon pembeli terhadap proyek yang memiliki kepastian pembangunan. Keterbatasan pasokan baru masih diantisipasi menjelang pemilihan presiden tahun 2024, sehingga mendorong pendekatan “wait-and-see” dari pengembang dan pembeli.” Kata Vivin. Sementara itu, dalam total investasi hotel di Indonesia saat ini diperkirakan mencapai 220 juta Dollar AS atau Setara Rp 3,46 triliun (kurs Rp 15.738). “Para investor di Indonesia, yang didominasi oleh individu dengan kekayaan bersih tinggi (High Net Worth Individual) dan didorong oleh fundamental sektor hotel yang kuat, diperkirakan akan berkontribusi senilai 220 juta Dollar AS dalam transaksi hotel pada tahun 2023,” ujar Senior Vice President, Investment Sales Asia, JLL Hotels & Hospitality Group, Julien Naouri. Baca Juga : Perkuat Regulasi, Kemendag Harus Segera Wajibkan Agen Properti Punya Sertifikat Menurutnya, nominal tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun 2022 yaitu sekitar 174 juta Dollar AS atau setara Rp 2,73 triliun (kurs Rp 15.738). Tetapi, khusus pada Kuartal Ketiga Tahun 2023, JLL mencatat tidak ada transaksi investasi hotel yang diselesaikan di Indonesia. Sementara untuk tahun 2024, Indonesia diprediksi akan mencatatkan investasi hotel sebesar 260 juta Dollar AS atau setara Rp 4,09 triliun (kurs Rp 15.738). “Kami mengharapkan peningkatan aktivitas pada investasi jual beli hotel pada akhir tahun 2023 dan 2024, terutama peningkatan untuk kelas luxury asset,” tukasnya. Secara umum, para investor hotel ini memusatkan perhatiannya di Jakarta atau Bali, karena keduanya merupakan tujuan investasi utama, termasuk di sektor perhotelan. Tertarik Properti di Jakarta dan Bali Secara umum, para investor hotel ini memusatkan perhatiannya di Jakarta atau Bali, karena keduanya merupakan tujuan investasi utama, termasuk di sektor perhotelan. Kemudian dari sisi industri dan logistik, tingkat hunian pergudangan modern di Jabodetabek terpantau stabil di tingkat 88%, sama seperti triwulan sebelumnya Tingkat hunian terindikasi sehat meskipun terdapat tiga pasokan baru di area Jakarta dan Bekasi yang disertai permintaan yang didominasi oleh penyedia jasa logistik. Baca Juga : WNA Lebih Mudah Beli Properti di Indonesia, 3 Lokasi Ini Paling Diincar “Permintaan (pergudangan dan logistik umumnya datang) dari sektor automotif dan vendor electric vehicle yang terpantau meningkat. Kemudian diikuti oleh sektor manufaktur, fast moving consumer goods (FMCG), dan farmasi,” ungkap Farazia Basarah selaku Country Heada and Head of Logistics & Industrial JLL. Selain sebagai penyimpanan, para penyewa dan sektor manufaktur juga kerap menggunakan ruang gudang sebagai area perakitan atau workshop. Di mana, hingga September 2023 Terdapat dua proyek yang masih dalam proses konstruksi yang berlokasi di Cikarang dan Depok. Kedua proyek ini direncanakan akan beroperasi total di akhir 2023. (Nabilla Chika Putri)